Mukadimah Sulthon Penganggungan edisi Februari 2020

Sekul-ah

Apa yang terjadi pada peradaban saat ini, adalah apa yang diberikan oleh dunia pendidikan masa lalu, artinya nyawa peradaban terletak pada bagaimana dunia pendidikan saat ini.

Instrumen akal sebagai bekal yang diberikan Tuhan secara eksklusif kepada manusia adalah perintah secara langsung bahwa keadaan tata kelola dunia ada di tangan manusia sebagai khalifah.

Tujuan pendidikan esensinya bukan meningkatkan pengetahuan, tapi menciptakan kemungkinan manusia untuk ber-eksperimen sendiri dengan penemuan yang baru. Tapi esensi mengalami degradasi akibat modernisasi yang membuat hijab akal manusia tertutupi oleh dalih bahwa manusia harus bertahan dan mengikuti arus industri supaya bisa hidup dalam tekanan globalisasi.

Sekolah sebagai media transfer pendidikan seakan menjadi alat satu-satunya dalam menempuh pertahanan hidup agar tidak tertindas modernisasi industri, sedang kurikulum sekolah juga tidak mempersiapkan akal manusia sebagai stimulus pencarian diri, tapi hanya sebagai pemberi kabar kebutuhan industri.

Industri mulai menjadi dewa, karena hari ini kebanyakan orang sudah tak ingin berperan menjadi diri, tapi menjadi peranan industri. Belum lagi kalau kita bidik kritis pada regulasi negara yang juga sangat asosial dan berdampak pada ketimpangan sosial yang membuat masyarakat tidak peduli lagi pada pencarian diri demi mengejar atau bertahan agar hidup di era modernisasi.

Jika kita ringkas pendidikan hari ini, maka semiotik dari keseluruhannya adalah bahwa SEKOLAH hari ini masih menempati level SEKUL-AH “Sekul dalam Bahasa Jawa adalah Nasi” artinya sekolah atau pendidikan hari ini adalah tentang urusan perut, jauh urusan hati apalagi di atasnya lagi, yaitu AKAL.

Silahkan berkontemplasi dan ceritakan pada kami, untuk mencoba menemukan terobosan agar manusia kembali menjadi peran yang sejati.

Buku dan Merchandise