Sandyakalaning Modernitas

Photo by freestocks.org from Pexels (CC0)

Ketika Nadiem Makarim — di depan Istana, setelah pasti diberi amanah sebagai Menteri Pendidikan — dengan ringan menyatakan: “saya tidak tahu masa lalu, tapi saya tahu masa depan” maka sesungguhnya Ia menegaskan jati dirinya sebagai penganut gigih “modernisme” yang agenda di kepalanya adalah melanjutkan modernisasi bangsa Indonesia melalui pendidikan.

Bukankah memang “Modernisasi, apapun hasil yang diberikannya, telah memotong tali yang menghubungkan rakyat dengan sejarah mereka”? (Ziauddin Sardar).

Faktanya memang, segala yang disebut modernitas selalu bukanlah kontinuitas dari sebuah akar sejarah. Lebih dari sekadar tak terhubungkan, ia cenderung menyangkal akar sejarah dengan segala macam cara, kalau perlu dengan manipulasi.

“Ketiban Awu Anget”

Moderen itu sendiri bukan sebuah ‘isme’, melainkan hanya sebuah jargon yang digunakan dalam ilmu sosial untuk menandai sebuah era yang titik awalnya di Eropa pasca Renaisans. Era berkembang pesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi serta dimulainya industrialisasi.

Setelah merasa tercerahkan selama 3 abad (abad 14 – 17M), teranyamlah tikar peradaban di bumi Eropa yang kemudian disebut modernitas — istilah yang konon baru tercetus tahun 1864, yang di dalamnya terkandung pengertian: “…hubungan yang ditandai oleh terputusnya seseorang dengan masa lalu….”

Energi yang membuncah bangsa kulit putih pasca Renaisans, mendorong berbagai petualangan dan penjelajahan ke segala penjuru yang berlanjut dengan saling berebut monopoli perdagangan, berlanjut dengan keperluan membangun koloni-koloni untuk menetap sementara dan terus berkembang menjadi imperialisasi atau perluasan imperium bagi bangsa masing-masing.

Selain punya modal kuat berupa ilmu pengetahuan yang terus berkembang serta temuan-temuan teknologi dan ide industrialisasi, dari habitat ini pula lahir liberalisme, kapitalisme dan komunisme dan lainnya — yang tentu saja ikut diboyong dalam ekspansi-ekspansi dengan ”label” modernitas. Kelak, pasca Perang Dunia II, modernitas ini mengenalkan sebuah “isme” baru, yakni developmentalisme.

Entitas non-Eropa yang menyimpan obsesi imperium, ikut memanfaatkan modernitas itu demi memuaskan obsesinya. Sedangkan non-Eropa yang lain, termasuk yang terserak di Kepulauan Nusantara ini “ketiban awu anget”-nya modernitas, pada semua aspek dan itu berlangsung sampai saat ini.

Bisa jadi karena faktor “awu anget” itu maka bangsa kita ini belum muncul jati dirinya yang asli sebagai entitas yang pernah melahirkan karya-karya besar. Bahkan melalui naskah-naskah kolonial dan proses pendidikan, bangsa ini masih menderita amnesia dan elemen-elemen bangsa teradu domba satu sama lain (Agus Sunyoto, 2018). Kesadaran sejarahnya masih babak belur.

Itu pula sebabnya, maka ada yang mengidentifikasi bangsa ini mempunyai tipikal ‘hypocrit melodramatic’: mudah marah, mudah iba, mudah bersimpati, ewuh pakewuh dan terutama mudah melupakan. Karakter mudah lupa itu makanan empuk bagi modernisasi, karena “keterputusan dengan masa lalu” merupakan prasyarat bagi modernitas.

Industri Sampah

Salah satu komponen utama dari modernitas adalah industrialisasi, sebuah “karya peradaban” yang berperan besar mengubah dunia, namun dalam dirinya terkandung banyak kontradiksi besar. Satu sisi industri mempunyai misi memudahkan manusia untuk menikmati barang dan jasa, sisi lain dia memberi kekuatan lebih untuk menguasai sebanyak mungkin orang dan memperlakukannya sebagai angka.

Kontradiksi kedua dari industri adalah “persembahan”nya berupa limbah, sampah, dan residu — yang terjadi karena ‘by design’ industri memang tidak ingin menyelesaikannya: kepentingan industri hanyalah efisiensi. Limbah dan sampah dideskripsikan sebagai “material sisa yang tidak dikehendaki” dan karena itu hanya diserahkan ke pihak lain dan kepada alam untuk diselesaikan dengan diurai atau didaur ulang. Yang tidak terselesaikan akhirnya menjadi residu. Tidak aneh ketika ribuan kontainer sampah plastik dari negara industri maju, diimpor ke Indonesia dan menjadi bahan bakar pabrik tahu di berbagai daerah, karena lebih murah dari kayu bakar.

Bisa jadi, perangkat lainnya dalam modernitas memiliki kesamaan dengan industri. Lihatlah, praktik demokrasi yang memperlakukan manusia sebagai angka. Lihatlah berapa banyak “limbah” pemilu, limbah demokrasi, limbah tatanan hukum dsb…. Sosok dan perilaku sampah bertebaran dimana-mana.

Bahkan di hampir semua aspek kehidupan, bisa ditemukan kegagalan modernitas sebagai peradaban. Di dunia pertanian, begitu banyak ditemukan “ketidak-beradaban” dalam hubungan antara manusia dengan tanaman, manusia dengan alam, manusia dengan manusia dalam seluruh rangkaian pekerjaan tani.

Modernitas tidak mau tahu kerusakan yang dia timbulkan, bahkan tetap jumawa dan percaya diri bahwa dia akan menata kehidupan menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Di tengah perputaran galaksi alam semesta yang tertib mengikuti sunnatullah, ia ingin berputar lebih cepat dan makin cepat dari waktu ke waktu. Manusia berlari lintang pukang selalu ingin lebih cepat dari lainnya seolah akan diterjang tsunami dan seolah bisa menyelamatkan diri. Trend oligarki dan “dinasti-isme” contohnya, adalah cermin ketakutan terhadap tsunami sejarah, dan coba menyelamatkan diri dengan menggapai fatamorgana.

Menyembunyikan kecemasan dengan topeng kesombongan, tak tahu malu dan bangga dengan keberhasilan mengelabuhi orang banyak. Bahkan dia bikin pembenaran dengan istilah “post truth” — pasca kebenaran. Peradaban modern terjebak dalam berbagai involusi yang tidak terurai dan sibuk menipu diri dengan ilusi-ilusi.

“Sebuah peradaban yang meyakini ia berada di puncak kejayaan dan kedigdayaan, sesungguhnya telah berada dalam kemerosotan dan kejatuhannya” (Ibnu Khaldun). Bahkan peradaban itu akan dihancurkan sehancur-hancurnya (‘…fa dammarnaaha tadmiira’ QS 17:16).

Namun, yang dihancurkan Allah dalam konseks ini adalah peradaban — sebuah peradaban tanpa Tuhan — bukan ummat manusia itu sendiri. Manusianya sendiri, apapun tetap dalam tugasnya sebagai wakil Tuhan di muka bumi, untuk memakmurkan kehidupan. Tinggal dia memilih, apakah tetap ngotot dengan peradaban modern yang menuju kehancuran, ataukah merintis “peradaban baru”, menata kembali kehidupan dalam kesadaran holistik dengan mengambil hikmah dari peradaban yang runtuh.

Mentoknya Pertanian Modern

Kita bisa memulai dari pertanian, sebagai “ibu peradaban”, karena dari kreasi Pertanian Modern 4.0 lah Pandemi Covid.19 ini mengacau-balaukan seluruh dunia dan membongkar borok peradaban modern.

Pertanian Modern 4.0 adalah pertanian yang menggabungkan gen-gen dan sel-sel dari berbagai varietas dan ras unggul di seluruh dunia. Yang akan mencuri dan menginfiltrasi varietas-varietas di seluruh dunia, mengintegrasikan gen-gen dari DNA virtual. Pertanian yang memproduksi virus, bakteri, jamur dsb yang dapat menjadi senjata biologi masa depan…. (Iwan Setiawan 2018, mengutip James Canton 2010).

Pertanian Modern itu sendiri, khususnya di Nusantara, baru dimulai ketika kolonial dari Eropa mulai melakukan intervensi pertanian (sebelumnya hanya monopoli perdagangan rempah) dengan tanaman industri yang dibawa dari benua lain (teh, kopi, kakao, tebu, kina) berikut industri pasca panennya (Pertanian Modern 1.0). Mereka memang belum menyentuh pertanian pangan yang sudah menjadi bagian dari keseharian pribumi, namun dari “Sejarah Kopi” saja kita sudah membaca kelamnya sejarah bangsa ini oleh kolonialisme.

Pertanian pangan itu baru tersentuh oleh modernisasi (Pertanian Modern 2.0) pada awal Orde Baru, ketika diterapkannya secara massal bibit unggul, pupuk kimia, pestisida, kredit pertanian, alat mesin modern dan penyuluh pertanian. Sebuah “Revolusi Hijau” yang berlanjut ke tanaman sayuran, peternakan dan perikanan. Perubahan yang terjadi memang luar biasa. Produktivitas meningkat pesat, lahan-lahan sawah dan petaninya makin familiar dengan yang serba kimia dan racun, pertanian sayur merambah dataran tinggi, dsb. Ketergantungan petani semakin tinggi kepada bibit unggul dan pupuk kimia, yang bisa saja berarti imperialisme babak baru.

Ketika Pertanian Modern 2.0 akhirnya juga mentok, ditandai dengan berbagai kerusakan lingkungan dan bahaya bagi kehidupan, Pertanian Modern 3.0 dikibarkan dengan ikon “Pertanian Organik” dalam gerbong Pembangunan Pertanian Berkelanjutan.

Namun hampir pasti, tidak mungkin “Pertanian Organik” akan menggantikan secara meluas praktik pertanian yang sudah ada saat ini. Karena ia bukan tumbuh dari kesadaran Petani untuk mengoreksi praktik pertanian anorganik, justru idenya datang dari modernitas itu sendiri, dengan agendanya atas harga-harga komoditi dan ‘input luar’ yang mereka produksi. Tetap dengan agenda developmentalisme.

Sekalipun kemudian dikoreksi dengan berbagai gagasan baru dengan label serba hijau (go green), namun semuanya tetap elitis dan bias kepentingan kapitalis. Tidak ada hubungannya dengan kesejahteraan pelaku pertanian itu sendiri maupun rakyat banyak.

Kegagalan Pertanian Modern 1.0 – 4.0 menandai berakhirnya modernitas sebagai Peradaban, meskipun kaum modernis tentu akan bekerja lebih keras untuk bertahan, antara lain dengan lebih sistematis mengasingkan generasi baru dari akar sejarahnya.

Tidak mengapa. Peradaban baru tetap akan dirintis oleh generasi baru yang tercerahkan.

Bisa saja dibangun mulai dari Pertanian.

Pertanian Maiyah.

26 Juli 2020

Buku dan Merchandise