Mukadimah Maiyah Kanoman edisi Februari 2020

Sambetan

Realitas, seringkali terlihat seolah paradoksal. Manusia bisa saja menjadi subjek sekaligus objek. Manusia bisa menjadi pelaku yang berperilaku etis dan estetis, tapi bisa juga sebaliknya. Manusia juga bisa diperlakukan dengan sebagaimana mestinya dan tidak sebagaimana mestinya, namun semua itu pastilah ada kausalitasnya. Sebagaimana alam, punya hukum kausalitas (sebab-akibat).

Jika ada orang kencing di bawah pohon besar, dalam konsepsi orang Jawa bisa saja akan menghantarkan pada peristiwa “kesambet.” Karena perilaku tersebut, yang tentu lazim dikatakan bahwa ia sudah berbuat “sembrana”. Namun di zaman yang sudah serba ada kelengkapan-kelangkapan fasilitas pastilah orang lebih memilih kencing di tempat yang tersedia.

Disisi lain, adanya kelengkapan tersebut membuat manusia menjadi jarang berinteraksi dengan lingkungan (alam). Dan pelan-pelan, manusia mulai tidak punya sopan-santun ekologis. Pada perkembangannya, manusia tidak lagi sekedar kencing di bawah pohon, tapi justru menebangnya dengan beringas, sehingga kecenderungan perilaku manusia menjadi eksploitatif.

Perilaku eksploitatif sudah pasti tidak bernilai etis apalagi estetis. Jika demikian maka manusia akan sulit berperilaku sebagaimana mestinya, bahkan minimal sekedar eksploratif pada alam. Manusia seolah-olah merasa menjadi decision maker (penentu keputusan) masa depan yang padahal tidak.

Menurut sebagian masyarakat pedesaan, yang biasa kesambet (diintervensi oleh kekuatan di luar dirinya) adalah anak kecil, maka tugas orang dewasa membuatkan “sambetan” dan membalurkannya ke sekujur tubuh si kecil dengan penuh permakluman. Tapi menurut sebagian masyarakat pedesaan yang lainnya, kesambet bisa menimpa siapa saja, termasuk diri kita sendiri.

Buku dan Merchandise