Saldo Spiritual Rakyat Indonesia

Corona, 53

Kita orang awam, yang hati tertindih oleh ancaman Coronavirus dan pikiran terombang-ambing oleh ragam informasi tentang bagaimana Negara-negara di dunia dan Pemerintah kita menangani akibat-akibatnya, bertambah stres mendengar penyataan para pakar ini: “Penanganan pasien COVID-19 di Indonesia kerap terlambat. Prosedur panjang (konsentrasi administratifnya lebih diutamakan dari fokus darurat pandemi), dan kapasitas laboratorium yang belum memadai menjadi masalah utama”.

Dokter lain mengatakan “Kok kelihatannya ada yang lebih ‘berkuasa’ menentukan langkah-langkah Pemerintah kita ya”. Dokter lain lagi yang tawarannya terbengkalai di halaman Istana untuk pengadaan PCR (Polymerase Chain Reaction) serta desakan sangat serius untuk Rapid Test, mengeluh: “Saya rasakan dan mengalami langsung bahwa Pemerintah memang tidak serius untuk mengadakan alat tersebut. Kalau kita-kita para Dokter yang membeli secara mandiri — akan dianggap ilegal oleh hukum Pemerintah”.

Lha kita ini orang awam ngerti apa. Apalagi ada kalimat “Gunung Es penanganan Corona di Indonesia”. “Test Covid-19 lambat: Mungkinkah Indonesia selamat?” Masih belum reda njarem-njarem psikologis kita oleh pernyataan Menteri Malaysia bahwa Indonesia adalah Bom Waktu Corona.

Lho, sejak awal Februari 2020 rakyat sudah dihibur oleh para pembesar. Seorang petinggi Negara: “Corona masuk Batam? Corona kan sudah pergi? Corona mobil?

Bahkan Pembesar yang lain bergurau dengan Presiden: “Insyaallah (virus) Covid-19 tidak masuk ke Indonesia karena setiap hari kita makan nasi kucing, jadi kebal”. Gurauan Pambesar lain lagi: “Katanya virus Corona enggak masuk ke Indonesia karena izinnya susah”.

Petinggi lain yang bahkan berwenang langsung menangani masalah bencana, pun begitu ringan melihat Corona: “Apakah mungkin karena kita (kebal karena) sering minum jamu? Atau mungkin karena kita sudah kebal dari dulu karena sudah sering kena batuk pilek, jadi begitu ada virus sedikit saja virusnya mental”.

Kemudian ditandaskan oleh Petinggi Kesehatan: “Ingat, yang kita lawan ini virus, bukan bakteri, lho ya. Virus itu self limited disease. Artinya, self limited disease itu sembuh sendiri. Tidak diapa-apain juga sembuh sendiri”. Bahkan beliau menegakkan wajah beliau: “Kamu lihat lah, Menkes ini confident banget kok. Yakin apa yang harus dihadapi ini. Yang harus dihadapi ini Corona, bukan barang yang menakutkan luar biasa. Yang menakutkan itu beritanya. Lha karena saya tahu, angka kematiannya hanya 2 persen. Kecil sekali. Lebih besar (prosentasenya) batuk-pilek yang menyebabkan kematian”.

Tokoh paling dipercaya menjadi garda depan informasi Corona, sangat meyakinkan pembicaraannya bahwa bangsa kita sudah beratus-ratus tahun berpengalaman dengan flu. Corona itu ya flu. Jangan dibesar-besarkan. “Covid-19 lama bisa berubah menjadi flu, seperti H1N1 di tahun 2009 kita lihat begitu menakutkan. Tapi sekarang hampir semua flu kalau kita periksakan H1N1”, beliau menambahkan.

Apalagi tokoh asal Madura sesumbar juga. Siapa tidak percaya kepada kegagahan orang Madura: “Ada sesuatu yang belum jelas, sudah konferensi pers Corona. Seperti di Cianjur itu, tadi katanya mengkhawatirkan. Tadi baru diumumkan, ternyata enggak ada, ndak terinfeksi Corona. Itu baru disiarkan di televisi barusan. Oleh sebab itu, setiap daerah itu supaya membuat tenang, tidak membuat situasi seperti menakutkan itu. Ya biasa-biasa aja”.

Sekarang, semakin hari ternyata Corona ini memaksa semua rakyat Indonesia dan ummat manusia seluruh dunia untuk memasuki keadaan dan situasi yang semakin mengerikan.

Lantas, bagaimana masyarakat awam punya kemungkinan untuk menilai dan menyimpulkan informasi yang ini haq yang itu bathil, yang itu jujur yang sana hoax? “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (Al-Hujurat).

Siapa sebanarnya yang fasik? Yang mana yang pembohong?

Ingatlah di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar”. (An-Nur).

Dulu ketika Nabi Ibrahim dibakar, Malaikat turun ke bumi dan menawarkan apakah boleh meluapkan air lautan untuk memadamkan api itu? Juga tatkala Nabi Muhammad terluka leher kirinya di Perang Uhud, Baginda Jibril menawarkan hal yang sama, menghancurkan gunung agar pasukan Kafirin hancur. Termasuk tatkala di Thaif Kanjeng Nabi dilempari batu, mendapat tawaran pembalasan juga dari Malaikat. Tentu saja iman dan kemuliaan Rasulullah Muhammad Saw tidak mengizinkan niat pembelaan itu — kecuali memang beliau Malaikat itu turun atas perintah langsung dari Allah Swt.

Sekarang tidak adakah Malaikat yang turun untuk menawarkan pertolongan kepada ummat manusia dan Kaum Muslimin dari serbuan Covid-19 yang tak tertahankan? Andaikan ada, siapa yang didatangi oleh Baginda Jibril atau Malaikat siapapun? Imam Masjidil Haram? Syekh Al-Azhar Cairo? Ketua Syuriah atau Tanfidziyah NU? Ketua MUI Pusat? Ketua Muhammadiyah? Siapakah tokoh yang punya kapasitas dan kualitas untuk dianggap pemimpin Ummat Islam di pandangan para Malaikat dan utamanya Allah?

Ataukah Allah memang sengaja memberi balasan sangat berat ini kepada ummat manusia yang meremehkan dan memperolok-olokkan-Nya? Sehingga para Malaikat juga tidak berminat untuk menolong?

Bahkan mungkin sekedar melamunkan Malaikat Jibril saja kelihatannya harus pakai masker, supaya suara kita tidak terdengar oleh siapapun. Siksaan Corona membutuhkan solusi medis dengan penerapan disiplin sosial budaya. Kalau hal Jabrail alias Jabarala alias Jibril ini kan solusi spiritual. Di dunia modern tidak dikenal dimensi spiritual, mereka lazim menyebutnya “klenik”, atau utopia atau fatalisme. “Apakah dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib, sehingga dia mengetahui apa yang dikatakan?” (An-Najm). “Tidaklah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allah amat mengetahui segala yang ghaib”. (At-Taubah).

Kita ini memang aneh. Jelas “ghaib” adalah sesuatu yang tidak kita ketahui. Tapi kita merumuskannya, kemudian meremehkannya, kemudian menganggapnya tidak ada. Masih mending mereka yang “beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka”. Meskipun sama-sama tidak tahu tetapi punya harapan, sebab ada opsi “iman”.

Jadi, sekali lagi: “tidak adakah Malaikat yang turun untuk menawarkan pertolongan kepada ummat manusia dan Kaum Muslimin?” Ada seorang hamba Allah, karena sangat mendalam keprihatinan deritanya serta kekhusyukan permohonan yang sangat mendalam dan mendayu-dayu isi jiwanya, yang mendapat anugerah bisikan informasi bahwa urusan Corona amatlah mudah bagi Allah. Al-Qur`an saja, yang berposisi makhluk-Nya, dinyatakan merupakan rahmat dan penawar. Rahmatan wa syifa`an. Seribu kali Coronaviruspun: “yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”. (An-Nisa). “Qala Rabbuka huwa ‘alayya hayyinun”. Berkata Tuhanmu: yang demikian itu mudah bagi-Ku. Termasuk membersihkan dunia dari Corona.

Bisikan itu memuat paket yang amat sederhana, mudah dan relatif ringan. 1- Kesediaan total melaksanakan perubahan sikap batinnya, pada pikiran dan hatinya, niat dan iktikadnya, terutama meneguhkan keyakinan kepada Allah Al-Muhyi wal-Mumit. 2- Itu akan menjadi sumber perubahan mendasar pada langkah-langkah kepengurusan atas Negerinya. 3- Sejumlah hal yang khusus dilakukan oleh Kepala Pemerintahan selama tiga hari tiga malam berturut-turut.

Insyaallah wa ‘asa yang bersangkutan akan dianugerahi petunjuk dan panduan tentang apa yang dalam kepemimpinannya atas Negeri besar dan rakyat yang dahsyat dan ndemenakke ini harus dilakukan: tepat dan tertanggungkan risikonya, efektif dan bijaksana, mungkin lugas tegas namun melegakan semua pihak. Landasannya sebenarnya adalah deposito spiritual mayoritas rakyat Indonesia mungkin dianggap mencukupi untuk “membeli” kabul dari Allah apa yang dimohonkan oleh Kepala Negaranya melalui riyadlah tertentu. Keterjangkitan Covid-19 akan menjadi nol, kemudian mereda sedemikian rupa di Negeri sorga ini.

Tetapi yang bersangkutan mengalami dilema. Nanti kalau Allah mengabulkan, si Kepala Pemerintahan yang merasa berjasa, dan dipakai jasanya itu untuk memuncaki kelatahan pencitraan-nya. Padahal sebenarnya itu bukan dilema. Tak apa-apa rasa muak-muak jijik-jijik sedikit asalkan rakyat Indonesia selamat dan tersenyum kembali.

Orang itu belum menjawab. Ia hanya menunjukkan bahwa petunjuk yang diterimanya itu menyertakan satu ayat Allah: “Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu Al Quran yang serupa mutu ayat-ayatnya lagi berulang-ulang, maka gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpin pun”. (Az-Zumar).

Apakah kita semua ini sedang disesatkan oleh Allah? ****

Buku Lockdown 309 Tahun