Saatnya Menanggalkan Simbol-Simbol Materi

Foto: Adin (Dok. Progress)

Memasuki bulan ke-4, pasca ditetapkannya Pandemi Covid-19 oleh Pemerintah, sepertinya kita semua sudah mulai terbiasa dengan hal-hal baru yang sebelumnya tidak kita lakukan. Kita sudah terbiasa memakai masker dan menggunakan hand sanitizer. Dulu sangat jarang cuci tangan, sekarang sangat sering cuci tangan.

Kita juga sudah semakin terbiasa menjaga jarak, sampai-sampai shalat jamaah pun sekarang kita berjarak cukup lebar antar shaf-nya. Menjadi sangat aneh, padahal sebelumnya, setiap shalat jamaah di Masjid, sebelum memulai shalat, Imam selalu mengingatkan jamaah agar merapatkan shaf, sekarang justru fatwa yang dikeluarkan adalah merenggangkan jarak antar shaf. Bagaimana dengan logika yang ditanamkan sebelumnya bahwa apabila kita tidak merapatkan shaf, sebagaimana sering diterangkan ustadz, kerenggangan itu dimanfaatkan oleh setan untuk ditempati.

Setinggi-tingginya pemahaman manusia mengenai ilmu, tetap saja Allah memiliki kekuasaan yang lebih dahsyat untuk semakin memperluas ilmu itu. Kita semua memahami, maksud nasihat merapatkan shaf adalah sebuah pesan yang baik. Kalau kita menggunakan sudut pandang arsitektur Masjid, maka pesan merapatkan shaf adalah memberi kesempatan agar mereka yang masih berada di luar Masjid bisa tertampung di dalam Masjid, sehingga dapat lebih khusyuk ketika shalat berjamaah.

Yang juga sebelumnya diperdebatkan, apakah setelah selesai shalat, setelah salam diucapkan kita boleh bersalaman dengan kanan-kiri kita? Perdebatan yang cukup ruwet, dan tidak pernah menemui ujung kesepakatan, selalu saja menghasilkan perbedaan pendapat untuk mengantarkan perdebatan selanjutnya. Sekarang, kita semua harus taat dengan protokol kesehatan yang dibikin manusia, untuk tidak bersalaman, untuk tidak berjabat tangan. Karena dikhawatirkan akan terkena sebaran virus Covid-19 yang tak kasat mata.

Dari dua contoh saja; berjabatan tangan dan menjaga jarak, kita sudah dibukakan pintu ilmu untuk memasuki ruangan yang lebih luas lagi. Saya memiliki sudut pandang bahwa itu semua adalah simbol, yang pada hakikatnya nilai yang tersimpan dan lebih substansial tidak akan terpengaruh oleh simbol-simbol material.

Bagi teman-teman yang sudah pernah ke Masjidil Haram di Mekah, pasti sudah memahami betapa susahnya menyentuh hajar aswad. Sekian ribu manusia, apalagi ketika musim haji, bisa berjubel manusia berebut untuk menyentuh dan mencium hajar aswad. Apakah mencium hajar aswad adalah sebuah kewajiban? Bukan. Dan kita memang sering dan terbiasa mendahulukan yang tidak diwajibkan. Apakah dengan tidak menyentuh hajar aswad kemudian menjadikan ibadah Thawaf kita di Masjidil Haram menjadi tidak sah? Tentu saja tidak. Mencium hajar aswad bukan merupakan salah satu rukun atau syarat sahnya Thawaf, apalagi Haji atau Umroh.

Pada akhirnya, kita sekarang pun kemudian memahami bahwa berjabat tangan atau bersalaman bukan sesuatu hal yang wajib dilakukan. Ungkapan takdzim kepada seseorang yang lebih tua dan kita hormati bisa diungkapkan dengan cara yang lain. Lantas, apakah kita benar-benar tidak boleh bersalaman? Tentu saja tidak.

Kita semua TST saja, tau sama tau. Toh sebenarnya ringkas saja, jika memang kita takut terkena virus setelah bersalaman, ya tinggal cuci tangan atau kita semprot tangan kita dengan Hand Sanitizer. Tapi juga, perilaku ini akan memunculkan satu kondisi yang bisa menyinggung perasaan orang lain, kalau kemudian setelah bersalaman tiba-tiba kita langsung membersihkan tangan kita dengan hand sanitizer, bisa-bisa kita dianggap mencurigai orang yang baru bersalaman dengan kita bahwa dia terpapar virus Covid-19. Ruwet sekali hidup kita sekarang ini bukan?

Dan saat ini, kita hidup dalam era di mana batuk dan bersin di tempat umum dianggap lebih membahayakan daripada kentut. Semoga suatu saat tidak ada ilmuwan yang iseng mencari kebenaran ilmiah bahwa bau kentut dapat menetralisir virus Covid-19, bisa-bisa kita semua akan berkelahi untuk berebut bau kentut.

Setiap peristiwa selalu ada hikmahnya. Dan dari Pandemi Covid-19 ini, saya melihat bahwa Allah sedang memberi pelajaran kepada kita bahwa ada banyak simbol-simbol yang menjebak kita pada ruangan yang sempit. Seperti dalam memahami anjuran merapatkan shaf ketika shalat. Sudah sejak lama Mbah Nun menjelaskan bahwa setan itu justru lebih lihai, jangankan hanya sekadar celah jarak yang renggang antar shaf, bahkan setan sudah sangat mampu masuk ke dalam hati manusia. Yuwaswisu fi shudurinnas.

Apakah ada jaminan bahwa dengan shaf yang lebih rapat, kemudian shalat kita menjadi lebih khusyuk? Sementara khusyuk itu sendiri adalah puncak dari ibadah yang sedang kita laksanakan, dan juga pencapaian kekhusyukan itu bisa saja sangat berbeda antara satu dengan yang lainnya di antara kita.

Ada banyak simbol materi yang ada di sekitar kita, dan kita seringkali terjebak pada simbol tersebut. Kita tidak berani memasuki ruang yang lebih substansial dari simbol itu sendiri. Cobalah sesekali merenung, kemudian memperhatikan di sekitar kita, atau melihat kembali apa yang sudah kita lakukan, kemudian memilah mana yang merupakan simbol-simbol, mana yang sudah mencapai tahapan substansial dan esensial.

Bisa jadi, melalui Pandemi Covid-19 ini Allah menghendaki kita untuk lebih memahami banyak hal dalam hidup ini, yang biasa kita jalani, yang sudah sering kita lakukan, untuk kita pahami lebih substansial dan esensial.

Dan lagi, saya kembali teringat salah satu puisi karya Mbah Nun di dalam kumpulan 99 Puisi Untuk Tuhanku di Puisi no 5;

Tuhanku, berdekatankah kita
Sedang rasa teramat jauh
Tapi berjauhkankah kita
Sedang rasa begini dekat

Jadi sebenarnya, apakah jauh dan dekat menjadi masalah bagi kita?

Lockdown 309 Tahun