Rumah Penuh Berkah, Bukan Rumah yang Al-Maghdlubin dan Al-Dlollin

Tema pendidikan pada Pengajian Padhangmbulan bulan Januari lalu pada akhirnya bermuara pada keluarga. Bagaimana tidak? Sambatan, keluhan, dan kritik tentang praktik pendidikan yang disampaikan jamaah, mulai fakta sekolah tingkat dasar hingga perguruan tinggi, sesungguhnya dipicu oleh lemahnya peran dan fungsi keluarga.

Pemerintah silakan memproduksi program, kebijakan, dan slogan yang mentereng. Kurikulum boleh diganti kapan saja dan dinamai apa saja: Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Kurikulum 2013 (K-13).

Silakan juga membius masyarakat dengan pseudosains, seperti Sekolah Adiwiyata, Pendidikan Karakter, Sekolah Ramah Anak (jangan-jangan selama ini sekolah tidak ramah terhadap anak), Muatan Lokal Keagamaan (agama kok muatan lokal, apa beda agama dan keagamaan?), Merdeka Belajar, dan seterusnya.

Pendidikan yang dikonotasikan secara sangat dangkal dan sempit sehingga disamakan dengan sekolah, atau menggunakan ungkapan yang gamblang: pendidikan itu ya sekolah, sekolah itu ya pendidikan—tak ubahnya seperti Pegadaian. Menyelesaikan Masalah Tanpa Masalah. Benarkah demikian? Faktanya, “kloso” pendidikan mengalami bolong-bolong. Ditambal dengan solusi yang justru memproduksi mudlarat-mudlarat baru. Persis nyanyian “Eee…Dayohe Teko”.

Peran keluarga sebagai akar pendidikan telah ditelantarkan. Sebagai salah satu pilar pendidikan, sebagaimana disampaikan Ki Hadjar Dewantara, fungsi dan peran keluarga direduksi bahkan pada konteks tertentu dimandulkan. Pendidikan yang menjadi tanggung jawab orangtua diambil alih sekolah dan pemerintah. Anak-anak menjadi yatim di rumah mereka sendiri.

Tumpang tindih. Silang sengkarut. Bahkan darurat kualitas belajar siswa di sekolah dijawab oleh orangtua dengan cara mendaftarkan anaknya les privat.

Keluarga kehilangan martabatnya di tengah situasi — meminjam ungkapan Mbah Nun — praktik pendidikan yang bukan pendidikan, pemerintah yang bukan pemerintah, negara yang bukan negara. Konotasi mengaburkan denotasi. Bungkus mengalahkan isi.

Kita berada pada situasi zaman ketika orang menyerap ilmu sangat banyak, berlapis-lapis, ndakik-ndakik, namun tidak mampu menciptakan kedamaian dan ketenangan. Tahu tapi tidak mau. Ngerti tapi tidak nglakoni.

Di akhir surat Al-Fatihah Allah menyebutnya sebagai Al-Maghdlub. Orang yang Allah marah kepadanya. Mbah Nun mentadaburinya dalam Al-Maghdlub: “Orang yang tahu namun tidak mau. Orang-orang yang menyerap ilmu, namun tidak mampu menerjemahkannya menjadi realitas kehidupan. Orang-orang yang menumpuk pemahaman, namun tidak memperjuangkan dan menegakkannya karena kecil hati dan ciut nyali di hadapan kekuatan yang bukan Tuhan. Orang-orang yang membanggakan kepandaian akal, namun memanjakan kehidupan dan menghinakan kematian, sehingga hidupnya membuih dan mengambang.”

Lantas, siapa pula Al-Dlollin itu? Mengapa di akhir surat Al-Fatihah kita memohon agar tidak termasuk orang-orang yang maghdlub dan dlollun? Apa kaitan antara shiroothol mustaqim, jalan orang-orang yang diberi nikmat, dengan situasi al-maghdlubin dan al-dlollin? Apa beda antara al-maghdlub dan al-dlollin?

Pengajian Padhangmbulan pada Sabtu, 8 Februari 2020, mulai pukul 20.00 WIB mengusung tema “Beda antara Al-Maghdlub dan Al-Dlollin”.

Di tengah atmosfer yang melalaikan dan melenakan kita kembali ke huma, berkumpul bersama keluarga, memastikan keamanan dan keselamatannya, menjamin keberlangsungan falya’buduu rabba hadzal bait… Dari keluarga kita masing-masing, kehidupan yang mulia dan bermartabat ditegakkan.

Rumah yang penuh berkah
Kehidupan yang mulia
Adalah bahagianya keluarga

— Lirik lagu “Mimpi Paling Nyata” —

Original Soundtrack Film “TETA” itu beririsan dengan keluarga, tetangga, masyarakat, media sosial, virus, banjir bandang, kemuliaan, dzikir dan lain sebaginya. Serta bisa pula bersentuhan dengan tema apapun yang seolah-olah tidak ada kaitannya, tetapi dengan menggunakan cara berpikir mujmal dan tafsil, atas-bawah, kiri-kanan, tekstual-kontekstual, dunia-akhirat, meluas dan mendalam — semuanya terhubung melalui alur lingkaran yang melingkar-lingkar.

Sembari kita melingkari Sinau Bareng di Desa Mentoro Sumobito Jombang, kita haturkan ucapan, “Terima Kasih Emak, Terima Kasih Abah, Terima Kasih Padhangmbulan.”

Buku Cak Nun Majalah Sabana