Revolusi Nabi Yunus

Photo by Roberto Nickson from Pexels

Kata ‘Revolusi’ dalam KBBI selain bermakna sebagai sebuah pemberontakan kepada pemerintah, juga memiliki makna ‘perubahan yang mendasar’. Esensi dari revolusi bila diperas lagi adalah perubahan. Perubahan sejatinya adalah sifat dari segala sesuatu yang ada memenuhi ruang jagat ini, bahkan mungkin jagat raya ini telah, sedang, dan akan terus-menerus mengalami perubahan, mengalami revolusi.

Puluhan tahun lalu para ilmuan menemukan fakta melalui teleskop Hubble bahwa ruang jagat raya ini berkembang terus-menerus. Jarak satu bintang ke bintang lainnya terus bertambah dalam hitungan dan keseimbangan yang di luar nalar manusia. Semesta ini seolah sedang dan terus-menerus memuai. Benda-benda langit seperti bintang, planet, dan meteor pun semuanya tidak ada yang diam, tidak ada yang statis, semua bergerak, berubah beriringan dari waktu ke waktu. 

Pada tataran yang lebih mikroskopis lagi setiap molekul atau atom yang menyusun segala bentuk zat atau materi juga sedang bergerak. Setiap sel dalam tubuh manusia konon juga terus berubah, terus menua, lahir sel baru, kemudian menua, mati, lahir kembali, dan seterusnya. Setiap hal di alam fana ini sedang bergerak, tumbuh, bergerak dalam suatu hitungan dan presisi yang telah ditetapkan Sang Pencipta.

Lantas, bagiamana dengan manusia itu sendiri? Dari sisi jasad, manusia pun berubah dari waktu ke waktu. Dari semula hanya sepasang indung telur dan sperma, menjadi segumpal daging, seorang bayi, seorang anak, menjelma dewasa, menua, dan innalillahi wa inna ilaihi roji’uun. Dari sisi nonjasadiah, pemikiran, jiwa, hati, atau apa pun juga namanya yang ada dalam diri manusia juga bergerak, berubah, dari detik ke detik. 

Berbeda dengan perubahan manusia dari sisi jasad yang memang sudah ‘given’ dari Allah, perubahan sisi nonjasad adalah pilihan manusia sendiri, hasil olah sumber daya rohaniah dengan pengalaman hidup yang selama ini diperoleh. Perubahan nonjasad dalam diri manusia bisa berasal dari munculnya pemahaman atau kesadaran baru, bisa juga karena dipaksa oleh keadaan di luar diri manusia.

Lantas bagaimana dengan kondisi pandemi seperti hari ini?

Entah mengapa saya terus-menerus kepikiran perkataan Mbah Nun dalam acara Mocopat Syafaat yang saya simak lewat Youtube beberapa hari lalu. Mbah Nun mengibaratkan kondisi manusia di tengah kondisi pandemi hari ini ibarat kondisi Nabi Yunus As kala berada di dalam perut ikan. Manusia dengan gemerlap menara gading peradabannya, mendadak tidak berkutik menghadapi sebuah virus yang konon kena sabun saja mati. Manusia menjadi tak bisa apa-apa, persis ibarat berada dalam gelapnya perut ikan. Satu-satunya yang bisa menjadi penolong hanya Gusti Allah saja.

Saya tertarik untuk menyelami perkataan Mbah Nun lebih dalam lagi. Pada cerita Nabi Yunus As, kondisi tidak bisa berkutik dalam perut ikan telah membuat Nabi Yunus As mengalami perubahan non jasad yang mendasar. Ada perubahan pemahaman dan kesadaran baru yang dicapai Nabi Yunus As, hingga akhirnya Allah menolong Nabi Yunus As.

Jika mencermati perkataan Nabi Yunus As yang diabadikan dalam Al Quran, laa ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzolimiin, setidaknya ada dua perubahan atau dua kesadaran baru yang dicapai Nabi Yunus As.

Pertama, la ilaha illa anta, “Tidak ada ilah kecuali Engkau Ya Allah”. Kondisi tidak berkutik dalam perut ikan membuat Nabi Yunus As mencapai kesadaran baru bahwa memang tidak ada Tuhan selain Allah. Saya tidak mengatakan bahwa sebelum dimakan ikan, Nabi Yunus As tidak memahami ‘la ilaha illallah’. Kondisi berada di dalam perut ikan telah membuat Nabi Yunus As mengalami peningkatan kualitas tauhidnya. Jika saja tingkat pemahaman ‘la ilaha illallah’ memiliki indikator seperti speedometer, maka di dalam perut ikan itu speedometer tauhid yang dimiliki Nabi Yunus As meningkat. Kadar ‘laa ilaha illallah’ dalam diri Nabi Yunus As meningkat, berubah, menjadi lebih dari sebelumnya.

Pencapaian yang kedua sebagaimana tersirat dalam ‘Subhanaka inni kuntu minadzolimiin’. Pencapaian atau perubahan kedua adalah kemampuan Nabi Yunus As untuk menyadari, merasa, atau ‘ngrumangsani’ kedzoliman-kedzoliman yang ada dalam dirinya.  Saya tidak mengatakan Nabi Yunus As dholim. Berbeda antara dholim dengan merasa dholim, berbeda antara benar-benar salah dan merasa bersalah. Bisa jadi seseorang itu salah namun ia tidak merasa bersalah, namun bisa jadi juga ia merasa bersalah meskipun tidak benar-benar salah. ‘Ojo rumongso biso, tapi harus biso rumongso’. Kondisi tidak bisa apa-apa dalam perut ikan telah membuat Nabi Yunus As  menemukan kesadaran akan kedzoliman-kedzoliman yang ia miliki, kesadaran bahwa ada sesuatu yang salah selama ini dan harus ia ubah.

Berdasar hasil otak-atik di atas, merujuk analogi Mbah Nun bahwa kondisi pandemik ini ibarat kita berada di dalam perut ikan, maka untuk bisa dikeluarkan dengan selamat seperti Nabi Yunus As, kita harus mampu mencapai dua perubahan di atas.

Pertama, kita harus berusaha mengupgrade kualitas tauhid kita, kita harus menemukan pemahaman baru dari ‘la ilaha illallah’ baik dari sisi konseptual maupun dalam sisi praktikal dalam perilaku sehari-hari. Bila selama ini kalimat tauhid hanya bisa kita lafalkan dalam ucapan, saat ini kita harus mulai menghidupkan la ilaha illallah dalam tiap gerak-gerik kita. Bila selama ini kita banyak bergantung dan menyembah pada pekerjaan, koneksi, harta, kekuasaan, dan hal duniawi lainnya, pandemi ini saatnya kita berubah menggantungkan segalanya  dan menyembah takluk hanya pada Allah.

Kedua, kita harus mulai berusaha menghitung diri, mengidentifikasi dan menyadari kedzoliman-kedzoliman apa saja yang selama ini kita perbuat. Kebebalan apa saja yang selama ini kita idap. Perintah Allah mana saja yang selama ini tidak kita laksanakan dan larangan Allah mana saja yang selama ini dengan enteng kita langgar. 

Dalam gelap pandemi ini kita harus banyak merenung, melakukan intropeksi mendalam untuk mengetahui dan menyadari kesalahan kita selama ini dan memulai memperbaiki kesalahan tersebut. Berbeda dengan Nabi Yunus As yang seorang Nabi, kita pasti memiliki tingkat kedholiman yang lebih tinggi baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. Jangan sampai pandemi ini tidak juga membuat kita mampu menyadari kedzoliman-kedzoliman yang ada dalam diri kita atau jangan-jangan ketidakmampuan kita menyadari kedzoliman diri itulah sebenarnya bentuk kedzoliman diri kita yang sebenarnya.

Allahu a’lam. 

Jakarta, 30 November 2020

Lainnya