Reboan on the Sky, Selalu Ada Ruang Untuk Sinau Bareng dan Maiyahan

Gerbang Peradaban Baru

Beberapa hari terakhir ini NASA merilis foto bumi yang diambil dari satelit, memperlihatkan betapa Bumi begitu segar, tidak ada polusi. Kota-kota besar seperti Jakarta sangat cerah, polusinya sangat rendah. Mungkin memang ini yang harus dibayar oleh manusia karena selama ini menciptakan polusi udara yang sangat mengkhawatirkan. Tentu kita masih ingat ilmu keseimbangan di Maiyah, bisa jadi saat ini Bumi sedang menjalankan metabolisme keseimbangan hidupnya.

Syeikh Nursamad Kamba pun turut merespons. Menurut Syeikh Kamba, Corona ini adalah gerbang dunia memasuki peradaban yang baru. Setelah virus Corona ini berlalu, manusia akan memasuki peradaban dunia yang baru, yang sangat berbeda dari yang sebelumnya dijalani.

Dari sudut pandang tasawuf, Syeikh Kamba menggarisbawahi bahwa apa yang disebut dengan otoritas agama atau yang sering disebut Syeikh Kamba sebagai pemadatan agama sebagai Lembaga membuktikan bahwa pemadatan agama sebagai Lembaga itu salah kaprah. Terbukti saat ini lembaga-lembaga yang mengatasnamakan agama sama sekali tidak memperlihatkan fungsinya. Virus Corona mengantarkan manusia ke ruang-ruang perenungan individu, untuk secara mandiri kembali kepada Tuhan.

Senada dengan apa yang diungkapkan Mas Ian L. Betts, Syeikh juga menyampaikan bahwa kapitalisme terbukti gagal total. Hampir semua yang selama ini dibanggakan oleh manusia hancur total karena virus Corona. Momen ini menurut Syeikh adalah titik balik manusia untuk kembali pada pijakan bahwa segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia sudah semestinya melibatkan Tuhan, dalam segala hal. Selama ini, sepertinya manusia terlalu sombong dan pongah, sehingga sangat jarang melibatkan Tuhan, kecuali di saat mereka menunaikan ibadah wajib saja. Itu pun masih terkontaminasi dengan urusan dunia.

Kedaulatan berpikir yang ditanamkan oleh Mbah Nun di Maiyah ditekankan oleh Syeikh Kamba, menjadi Orang Maiyah seharusnya lebih siap dalam menghadapi virus Corona ini. Memang, dengan datangnya virus Corona ini kita tidak bisa lagi Maiyahan seperti biasanya untuk beberapa bulan ke depan, sampai pandemik ini berakhir.

Mas Sabrang kemudian juga turut memberikan responsnya. Ketika masa Pemilu tahun lalu, para caleg bersama partai politik begitu getol merangkul rakyat, mendekati rakyat, mempengaruhi rakyat. Kenapa sekarang tidak dilakukan metode tersebut? Padahal mereka yang saat ini di Pemerintahan dan di DPR memiliki semua perangkat yang dibutuhkan. Kenapa itu tidak dilakukan?

Salah satu tantangan kenapa di Indonesia tidak bisa diterapkan lockdown total adalah karena budaya cangkrukan yang sudah menjadi tradisi orang Indonesia. Budaya ngopi, ngrokok, ngobrol di warung kopi sangat sulit ditinggalkan oleh masyarakat di Indonesia. Membutuhkan waktu yang cukup panjang agar terbiasa untuk tidak nongkrong di warung kopi bersama teman-teman sejawat.

Otoritas atau lembaga agama di Indonesia sebenarnya punya peluang untuk melakukan seperti yang dilakukan oleh Malaysia, bahwa hanya laki-laki yang diperbolehkan keluar rumah untuk melakukan kegiatan sehari-hari seperti membeli kebutuhan pokok di luar rumah. Para perempuan wajib tinggal di dalam rumah. Mau tidak mau, karantina mandiri adalah tindakan yang paling efektif saat ini, membatasi pergerakan diri sendiri.

Siklus Peringatan

Bisa kita lihat, ada berapa ratus jadwal penerbangan yang dibatalkan di seluruh dunia akibat virus Corona ini. Betapa dunia dengan mudah di-shut down dalam beberapa minggu ini oleh virus Corona. Virus ini membuka mata kita bahwa sistem yang sudah berpuluh-puluh tahun dibangun oleh manusia ternyata ada titik lemahnya. Betapa sistem yang ada saat ini sangat lemah dan sangat rentan, bahkan hanya dilemahkan oleh virus Corona yang secara fisik kita tidak bisa mendeteksi apakah sudah ada di dalam tubuh kita atau belum.

Mas Sabrang menambahkan, jika kita melihat medio 100 tahun ke belakang, kita akan menemukan fakta pada medio 1920 ada pandemic Flu Spanyol, kemudian di medio 1820 juga ada pandemic Kolera. Ternyata, ada semacam rumus yang berulang yang berlangsung di alam semesta. Bisa jadi, Bill Gates berani menyatakan bahwa dunia akan berhadapan dengan wabah virus karena ia sudah menghitung siklus tersebut.

Virus Corona ini memperlihatkan secara gamblang kepada kita banyak hal-hal yang sangat fundamental di sekitar kita yang sebelumnya kita anggap remeh, hanya sebagai main-main, namun kini menjadi hal yang sangat fundamental. Salah satunya adalah internet. Saat ini, hari-hari ini internet sangat dimanfaatkan oleh banyak orang untuk hal-hal yang sangat penting, betapa internet menjadi hal yang sangat fundamental saat ini bagi manusia.

Mas Sabrang menekankan, kita tidak usah berbicara tentang Mortality Rate di masa seperti sekarang ini, karena angka-angka yang ada saat ini semuanya sebatas prediksi. Kalaupun data yang dirilis resmi oleh otoritas yang berwenang ada, itu pun tidak bisa divalidasi secara faktual, karena kita berhadapan dengan virus, sesuatu yang tidak kasat mata. Dan belum ada alat yang bisa mendeteksi secara real time apakah seseorang sudah terjangkit virus, apakah baju yang dipakai oleh kita bersih dari virus, apakah di sekitar kita tidak ada virus? Sekali lagi, selain keajaiban dari Tuhan, virus ini hanya bisa dihentikan dengan obat. Dan sampai saat ini obat yang dibutuhkan belum ditemukan.

Lebih jauh lagi, virus Corona ini menurut Mas Sabrang menyadarkan kita bahwa berjamaah, berkumpul dengan banyak orang adalah kemewahan. Maiyahan yang biasanya kita lakukan adalah sebuah kemewahan yang sekarang benar-benar tidak bisa kita rasakan. Islam sudah mengatur adanya shalat berjamaah, saat ini sholat berjamaah adalah kemewahan yang sangat mahal harganya, yang tidak semua orang bisa merasakannya. Begitu juga dengan Haji dan Umrah. Mungkin tahun ini bisa jadi tidak ada pelaksanaan Ibadah Haji di Mekkah.

Nafis, Jamaah Maiyah yang aktif pada Simpul Maiyah Re-Legi Malang dan Maneges Qudroh Magelang, yang saat ini tinggal di Albstadt, Baden-Württemberg, Jerman menceritakan bagaimana Jerman dengan sigap mengantisipasi virus Corona. Ketika ada kasus pertama muncul di medio Januari lalu, langsung dilakukan tracking kepada orang-orang yang kontak langsung dengan kasus pertama, kemudian dilokalisir dan dikarantina. Penyebaran virus dapat diatasi. Kasus kedua muncul setelah seorang turis dari Australia dinyatakan positif Covid-19, kembali dilakukan tracking dan karantina. Ternyata, itu pun tidak cukup.

Pemerintah Jerman saat ini tetap keteteran menangani virus Corona, sampai-sampai Menteri Keuangan Jerman bunuh diri karena menghadapi tekanan krisis yang begitu hebat.

Bersiap Menjadi Garda Terdepan

Yai Tohar menyampaikan bahwa virus Corona ini menurut sudut pandangnya bukanlah konspirasi global. Buktinya, Amerika dan China saja tidak mampu menangani virus Corona ini. Bisa dikatakan virus Corona ini adalah akibat keteledoran manusia selama ini dalam berhubungan dengan alam dan lingkungan.

Yai Tohar menegaskan, kita adalah garda terdepan yang sesungguhnya saat ini dalam menangkal virus Corona. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk menjaga orang-orang di sekitar kita, sebisa mungkin, semaksimal mungkin agar tidak terkena virus Corona. Salah satunya adalah dengan physical distancing di rumah masing-masing. Para tenaga medis, mereka adalah garda terdepan penanganan virus Corona di Rumah Sakit.

Secara komunitas, Maiyah memiliki kesempatan untuk membuktikan bahwa metode berkomunitas adalah jawaban dari peradaban dunia saat ini. Inilah saatnya Jamaah Maiyah mengaplikasikan nilai-nilai Maiyah di lingkungan sekitarnya, diterapkan dalam banyak hal, utamanya saat ini dalam proses menangkal virus Corona agar tidak menjangkiti orang-orang di sekitar kita, dan kita sendiri tentunya.

Selain wiridan yang sudah banyak sekali diijazahkan oleh Mbah Nun, Yai Tohar bahkan secara khusus meminta panduan Wirid kepada Mbah Nun yang dibaca setelah Shalat Isya’ oleh warga di Desa Lawen, dan tadi malam sudah memasuki putaran malam ke-15. Selain ikhtiar di kegiatan sosial sehari-hari seperti penyemprotan disinfektan, membudayakan cuci tangan, hidup bersih dan lain sebagainya, menurut Yai Tohar, bahwa pendekatan diri kepada Yang Maha Kuasa adalah langkah yang juga penting yang harus dilakukan oleh setiap individu. Kita sudah tidak bisa lari ke mana-mana lagi selain kepada Tuhan, kita sudah terpojok oleh virus Corona.

Sebagai penutup Reboan yang berjalan kurang lebih tiga setengah jam ini, Mas Sabrang memungkasi dan mengajak kita merenung serta menghitung kembali, bahwa pada masa-masa karantina di gua kesunyiannya masing-masing saat ini, muncul sebuah perenungan, pantaskah kita saat ini mengaku bahwa kita bersyahadat kepada Allah? Pantaskah kita saat ini mengaku sebagai pengikut Kanjeng Nabi Muhammad Saw?

Lainnya