Rasulullah Bukan Teladan Indonesia

Corona, 39

Sudah lama Jamaah Maiyah sepotong-sepotong memahami perbedaan antara kosakata Bahasa Arab “ma’a” dengan “ba’da”. Yang pertama artinya; dengan atau bersama. Yang kedua; sesudah. Kalau sebelum: “qabla”. Kalau Anda membaca Al-Qur`an dengan terjemahannya versi pada umumnya, dalam Surah As-Syarkh Allah berfirman “Fa inna ma’al ‘usri yusro. Inna ma’al ‘ usri yusro”. Diterjemahkan “Maka sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan. Sesudah kesulitan ada kemudahan”.

Tanpa menyalahkan penerjemahnya, Jamaah Maiyah mengartikan sangat berbeda: “Sesungguhnya bersamaan dengan kesulitan, sudah ada kemudahan. Bersamaan dengan kesulitan, terdapat kemudahan”. Artinya, obat penawar dan pelawan Coronavirus sudah tersedia.

Berbicara urusan penyakit dan wabah, Rasulullah Saw bersabda: “Tidaklah Allah Swt menurunkan suatu penyakit, kecuali Dia juga yang menurunkan penawarnya”. (HR. Bukhari).

Latar belakangnya, Jamaah Maiyah tidak perlu memperdebatkan, sabda Rasulullah Saw juga saya tuturkan lagi: “Tha’un merupakan adzab yang ditimpakan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Kemudian Dia jadikan rahmat kepada kaum mukminin. (thaun adalah pembengkakan parah yang mematikan)”.

Demikianlah Coronavirus, menurut muatan pikiran Jamaah Maiyah: 1- Ia berasal dari Allah. Entah melalui siapa. Meskipun ada beberapa kemungkinan kasus dan asal-usulnya: diperintahkan, diselenggarakan, ditakdirkan, atau diizinkan, atau tidak dihalangi alias dibiarkan oleh Allah. Maka di dalamnya termasuk jika ternyata ia adalah hasil konspirasi atau bikinan manusia sendiri karena kompleksitas pemetaan nafsu kekuasaan di antara mereka. 2- Sudah ada vaksinnya, obat penawarnya. Masalahnya, siapa yang akan diperkenankan oleh Allah untuk menemukannya di antara para peneliti dan Mujtahidin yang bekerja keras untuk itu.

Jamaah Maiyah sudah mengerti apa yang sebaiknya dan seharusnya ia lakukan. Jamaah Maiyah bukan kumpulan kaum pemberani yang tidak waspada dan sembrono, sebagaimana sahabat Anas bin Malik bertanya kepada Rasulullah tentang apakah untuk aman ontanya ditawakkalkan kepada Allah ataukah ia ikat di pohon selama ia shalat Jumatan di Masjid. Rasulullah menjawab: “Ikatlah di pohon dan bertawakkallah kepada Allah”.

Jamaah Maiyah “mengikat onta”-nya selama ancaman wabah berlangsung, baru kemudian ia memiliki keabsahan untuk mentawakkalkan kepada Allah. Jamaah Maiyah tidak memposisikan Allah sebagai karyawan penjaga onta mereka.

Memang sejumlah Kaum Muslimin karena keyakinannya, iman dan tawakkalnya yang mendalam kepada Allah maka mereka tidak mau “mengikat” ontanya. Mereka tetap melakukan segala hal sebagaimana biasanya, dengan bekal iman, taqwa dan tawakkal. Pada saat yang sama seluruh Negara-negara di dunia melakukan lockdown dan segala hal yang menurut mereka perlu dilakukan untuk menggembok penyebaran virus di Negerinya – tetapi tanpa ada iman, taqwa dan tawakkal kepada Allah. Sementara itu Pemerintah Negeri Pancasila belajar dari banyak Negara-negara lockdown yang disimpulkan tidak berhasil, mengambil langkah lockdown setengah hati karena tidak mau, tidak berani dan tidak berkemampuan untuk menyangga tanggung jawab lockdown atas penghidupan rakyatnya.

Anas bin Malik perkara onta saja bertanya kepada Rasulullah. Kita tidak bertanya kepada wacana dan sabda dari beliau soal Corona. Tetapi tidak ada alasan untuk menyalahkan Pemerintah Indonesia. Sebab memang Rasulullah Kanjeng Nabi Muhammad Saw bukanlah tokoh teladan bangsa Indonesia dan sama sekali bukan panutan bagi Pemerintah Indonesia. Tidak ada rapat Corona pejabat-pejabat tingkat tinggi Negara yang mengutip Rasulullah. Tidak ada Sidang Kabinet atau Dewan Perwakilan Rakyat yang meletakkan Rasulullah sebagai sumber kebijakan, ilmu dan keputusan-keputusan. Nabi Muhammad bukan hanya bukan panutan bangsa Indonesia dan bukan teladan Pemerintahnya, bahkan mereka mempertentangkan Islam dengan Pancasila. Bahkan mereka mengharamkan tindakan meneladani Nabi Muhammad. Bahkan mereka mengharamkan konsep “inni Ja’ ilun fil ardli Khalifah”.

Lebih dari itu, Pancasila angka-1 “Ketuhanan Yang Maha Esa” bukan terjemahan maknawi dari “Qul Huwallahu Ahad”, dan demikian pulalah implementasi politik kenegaraan dan kewargaannya. Hanya saja Indonesia tidak berani mengganti sila pertama dengan, misalnya, “Ketuhanan yang Ragam”. Atau sekalian saja sila pertama adalah “Bhinneka Tunggal Ika”, yang juga disanadkan secara serabutan sejarah keilmuannya.

Tetapi kan Jamaah Maiyah mayoritas adalah rakyat dan warganegara Indonesia? Jawabannya: “Tidak ada Maiyah bagi Indonesia”.

Sudah pasti Jamaah Maiyah tidak sedang meratapi nasibnya. Dari hal Indonesia maupun virus Corona. Di puncak ketidakberdayaan hidup, mereka menirukan sikap wirid Kanjeng Nabi kekasih mereka; “In lam takun ‘alayya Ghodlobun fala ubali”. Asalkan Allah tidak murka kepadaku, bismillah aku legowo pada apapun yang Allah tetapkan atasku.

Lainnya

Ada Atau Tak Ada Corona

Wahai Jiwa Jangan Berputus Asa

Mata Uang Maiyah

Antara Tawakkal dan Takabbur

Keikhlasan Niat

Bersama Kesulitan Ada Kemudahan (2)

Buku dan Merchandise