Puisi Puasa: Untuk Satu Tahun Mafaza Eropa

Ulang tahun, kita menyebutnya. Birthday, orang yang berbahasa Inggris menuliskannya. Verjaardag, orang Belanda bilang. Milad, sahut orang Arab. Geburtstag, mereka yang di Jerman menimpali. Dan seterusnya.

Frasa ulang tahun, atau hari ulang tahun, atau sering disingkat ultah agak unik. Entah siapa yang pertama kali memperkenalkannya, tetapi ia secara taken for granted diterima begitu saja. Ia lebih populer daripada penggunaan istilah hari lahir dalam pengucapannya. Selamat hari lahir terdengar kurang sreg, dibandingkan dengan selamat ulang tahun.

Mengapa bisa demikian? Ada banyak alternatif jawaban dan sudut pandang untuk menggalinya. Tetapi kita khusnuzon saja bahwa secara filosofis, orang Indonesia, memiliki khazanah tersendiri dalam memaknai hari lahir. Anggap saja sehari bagi orang Nusantara memiliki nilai setahun, sehingga penekanan pemaknaannya pada pengulangan tahun bukan pengulangan hari.

Maka jangan heran jika doa yang kemudian dipanjatkan adalah selamat ulang tahun. Dalam arti yang lebih luas, harapan keselamatan akan itu sudah dilalui setahun penuh. Bahkan semoga terus berulang di tahun-tahun berikutnya. Bukan happy birthday yang makna sederhananya hanya happy pas di hari lahir saja, atau karena hari lahir saja.

Ini bisa mengisyaratkan banyak hal bagi kami. Namun, satu hal yang paling penting. Mafaza, yang tanggal 2 Agustus 2020 ini genap setahun dalam mengulang-ulang pelajaran dasar sinau bareng atau belajar bersamanya, hanya ingin bersyukur atas karunia Tuhan untuk pengulangan ini.

Tahun 2020 ini sangat spesial. Tidak hanya untuk kami, tetapi untuk semua manusia di muka bumi. Pandemi Covid-19 membuat kita semua dipaksa untuk memikirkan ulang, menata ulang, dan merasakan ulang tentang semua hal. Semua hal tanpa terkecuali.

Dan ndilalah, geger terbesar soal pandemi ini terjadi beberapa waktu yang lalu, berbarengan dengan bulan puasa. Barangkali, Tuhan ingin berpesan kepada kita semua untuk benar-benar puasa. Mengatur kembali pola makan, pola pikir, pola tingkah laku yang sudah melampaui batas.

Apa pun teori dan penjelasannya, virus Corona yang menyebar ke seluruh penjuru muka bumi telah membatasi kesombongan kita, kerakusan kita, dan kelalaian kita.

Anehnya, semua kesombongan, kerakusan, dan kelalaian kita bermula dari kata. Kecerobohan merangkai dan memanipulasi kata menjadi kebohongan, adu domba, dan rekayasa. Yang manifestasinya bisa kita temukan di mana saja. Di kampus, di rumah, di kantor-kantor, bahkan di tempat-tempat ibadah.

Untuk itu, kami tak ingin merayakan ulang tahun dengan berpesta, kenduri, atau semacamnya. Kami hanya ingin mengulang Iqro’ kembali. Bersama anak-anak kecil di Belanda, kami ingin membaca puisi puasa alam semesta yang diwasilahkan Tuhan melalui Corona ini.

Mengapa puisi, dan mengapa puasa? Sebagaimana puasa, puisi mengajarkan kita kejujuran, ketepatan, kedalaman, kesabaran, dan yang pasti keindahan. Karakter-karakter semacam inilah yang mungkin selama bertahun-tahun kita acuhkan, sehingga kita perlu mengulangnya kembali, mempelajarinya bersama-sama.

Buku dan Merchandise