Prajurit Kohanudnas Angkatan Udara Ngobrol Bareng Cak Nun

Sabtu malam Padhangmbulan dan tahlilan 7 hari meninggalnya Gus Sholah, kemudian Minggu malam Bangbang Wetan Surabaya, dan Senin pagi tadi Mbah Nun sudah berada di Jakarta untuk acara HUT ke-58 Kohanudnas di Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur.

Kohanudnas adalah Komando Pertahanan Udara Nasional. Ia adalah salah satu Komando Pertahanan utama yang penting dan menjadi salah satu kekuatan Tentara Nasional Indonesia. Ia adalah satuan Komando yang mengawasi pergerakan pesawat udara yang melintasi wilayah udara Indonesia.

Kohanudnas lahir pada 9 Februari 1962. Dalam perannya menjaga pertahanan udara, Kohanudnas didukung oleh Satuan Radar TNI Angkatan Udara yang ditempatkan di berbagai daerah di Indonesia.

Pukul 08.00 WIB, Letkol Sujono, penanggung jawab acara, menjemput Mbah Nun di Coffee Shop. Setelah ngobrol ringan dan sedikit memperkenalkan tentang TNI Angkatan Udara dan Kohanudnas, Letkol Sujono segera mengantar Mbah Nun menuju lokasi acara yang berjarak sekitar 5 kilometer dari Bandara Halim Perdana Kusuma.

Tiba di Aula Leo Watimena, Panglima Kohanudnas Marsekal Muda TNI Imran Baidirus, SE beserta beberapa pejabat Komando Sektor Kohanudnas menyambut kehadiran Mbah Nun.

Acara Ngobrol Bareng Cak Nun ini dihadiri oleh para Komandan dan pejabat dari seluruh Komandan Sektor Kohanudnas dan Pusdiklat Kohanudnas. Kohanudnas sendiri memiliki 4 Komando Sektor; Komando Sektor 1 Jakarta, Komando Sektor 2 Makassar, Komando Sektor 3 Medan, dan Komando Sektor 4 Biak.

Sekitar 10 menit Mbah Nun singgah sejenak di ruang transit, menikmati kopi dan kudapan ringan, serta ngobrol sejenak dengan Panglima Kohanudnas dan para Komandan Sektor. Keakraban terjalin di antara beliau-beliau.

Panglima Kohanudnas sebenarnya sudah lama menyimpan keinginan untuk mengahdirkan Mbah Nun di acara TNI Angkatan Udara. Bahkan keinginan itu sudah ada sejak Ia bertugas di Yogyakarta. Namun, keinginan itu baru terwujud tadi pagi di Jakarta.

Di podium terpampang sebuah backdrop besar bertuliskan “Ngobrol Bareng Cak Nun”. Ternyata judul ini berasal dari Panglima Kohanudnas sendiri. Beliau ingin acara ini dibingkai dalam suasana yang akrab.

Di Aula Leo Watimena, tempat acara, sudah berkumpul para Prajurit TNI Angkatan Udara beserta para istri dan anak-anak mereka. Momen acara ini memang diatur sedemikian rupa sebagai acara keluarga seluruh prajurit. Begitu juga dengan istri Panglima Kohanudnas turut hadir.

“Kalau ada kambing ketemu ayam dan bebek, tidak lantas kambing menirukan suara ayam, kemudian ayam menirukan suara bebek dan bebek menirukan suara kambing,” Mbah Nun mengawali dengan menyapa hadirin dengan berangkat dari inti nilai ucapan salam.

Mbah Nun meminta kepada semua yang hadir menjawab assalamu’alaikum Mbah Nun dengan salam sesuai dengan kepercayaan masing-masing. “Kita semua masing-masing punya kalimat salam, yang output-nya sama yaitu saling mengamankan dan saling membahagiakan,” lanjut Mbah Nun.

Gembiralah, Nekat, dan Intuitiflah

Acara Ngobrol Bareng ini berlangsung santai kendatipun para pesertanya mengenakan seragam semuanya dan duduk di kursi. “Saya tidak menyangka di Markas Komando Pertahanan Udara Nasional ini begitu santai. Karena saya sendiri sudah tegang dari kemarin, karena saya merasa diundang oleh Tentara jadi saya merasa tegang. Ternyata di sini lebih santai dari saya,” kata Mbah Nun mengungkapkan impresinya.

Kepada para prajurit dan komandan Kohanudnas itu kemudian Mbah Nun mengingatkan hal sederhana bahwa makhluk Tuhan itu kalau gembira hatinya, akan bahagia jiwanya, dan karenanya maksimal pertumbuhannya. Sebaliknya, Kalau dia tertekan, stres, maka dia akan menjadi kunthing. Kunthing adalah peristiwa di mana sel-sel tidak berkembang maksimal.

Juga beliau sitir beberapa penelitian yang menemukan apabila tanaman yang kita rawat penuh dengan kasih sayang, selalu dipuji dengan kalimat-kalimat positif, ia akan lebih subur dibandingkan dengan tanaman yang dirawat dengan kalimat yang tidak positif.

“Jadi kalau mau busuk bangsa kita ini, penuhilah hidupmu dengan kemarahan, kebencian, dan pertengkaran satu sama lain, maka kita akan membusuk dalam waktu yang lebih cepat. Kalau anda ingin bangsa Indonesia ini aman dan berkembang maksimal sebagaimana manusia yang sebaik-baiknya manusia maka sudah dicontohkan oleh Angkatan Udara pada pagi hari ini, ternyata anda bergembira luar biasa!”

Kemudian Mbah Nun melanjutkan dengan mengatakan bahwa orang Indonesia itu punya paket yang bernama ‘nekat’. Ada sejumlah contoh tersebut. Sebut saja yang sederhana, dalam kemiskinan dan penderitaan tetap mampu bergembira, bahagia, dan tertawa. Anak-anak muda, pekerjaan belum jelas, sementara masih menumpuk cicilan utang, nekat untuk punya anak lagi.

Di Coffee Shop di Bandara Halim Perdana Kusuma, Letkol Sujono bercerita, ketika ada latihan bersama pasukan khusus dari semua angkatan di beberapa negara, prajurit TNI selalu menang dalam menggunakan senjata untuk membidik sasaran.

Bahkan ketika aturan mainnya ditentukam oleh negara lain, misal tentara Indonesia tidak boleh menggunakan senjatanya sendiri, mereka tetap meraih poin tertinggi ketika kompetisi membidik sasaran. Bagi Mbah Nun cerita menggambarkan, selain nekad, bangsa Indonesia ini sangat terlatih intuisinya, sehingga kemampuan-kemampuan yang canggih dapat dicapai, yang bahkan menurut pasukan negara lain sangat tidak masuk akal.

Nama Halim Perdana Kusuma ini pun menjadi perhatian yang membahagiakan bagi Mbah Nun. Halim Perdana Kusuma adalah Prajurit Angkatan Udara yang lahir di Madura. Nah, persis pada titik Madura inilah, para prajurit dan komandan Kohanudnas mendapat giliran mendengarkan humor dari Mbah Nun tentang orang Madura yang takut naik pesawat untuk terjun payung, orang Madura yang berprofesi sebagai nelayan, dan lain-lain.

Kohanudnas dalam Perspektif Cangkul, Pedang, dan Keris

Memahami peran dan fungsi TNI, dan TNI AU beserta Kohanudnas ada di dalamnya, Mbah Nun memaparkan perspektif cangkul, pedang dan keris. Cangkul adalah lambang dari perjuangan mencari nafkah, maka seluruh rakyat itu adalah pemegang cangkul, karena rakyat berjuang untuk mencari nafkah.

Sementara pedang itu adalah fungsi dari keamanan, maka prajurit TNI AU adalah salah satu pihak yang memegang fungsi pedang. Prajurit TNI tidak boleh pusing mencari nafkah, karena hidupnya sudah dijamin oleh negara. Kemudian, fungsi Keris adalah fungsi Pusaka. Keris itu fungsinya bukan untuk mencari nafkah dan juga bukan untuk keamanan. Maka, bagi Mbah Nun nasionalisme adalah pusaka layaknya sebuah Keris.

Nasionalisme pun bisa dipahami dengan analogi sederhana. Mbah Nun mengibaratkan nasionalisme itu seperti istri. Siapapun mengganggu istri kita, maka kita siap bertaruh nyawa demi menyelamatkan keutuhan keluarga. Begitu pula dengan nasionalisme, siapapun yang berani-berani mengganggu keutuhan negara, maka Prajurit TNI Angkatan Udara pun akan bertaruh nyawa demi mempertahankan kedaulatan negara.

Harapan yang sangat tinggi Mbah Nun berikan kepada Prajurit TNI Angkatan Udara yang hadir tadi pagi agar mampu mewariskan nilai-nilai luhur dan budi pekerti yang mulia kepada generasi-generasi selanjutnya, dan tidak mewariskan perpecahan, pertikaian, pertengkaran satu sama lain yang saat ini semakin menggerus persatuan dan kesatuan rakyat Indonesia.

***

Itulah beberapa petikan pesan Mbah Nun dalam acara Ngobrol Bareng Cak Nun HUT ke-58 Kohanudnas. Acara berlangsung penuh keakraban dan suasana kekeluargaan. Sedemikian akrab, sehingga Komandan Komando Sektor 4 Biak, terinspirasi buat meminta Peci Maiyah yang dikenakan Mbah Nun.

Menurutnya, peci itu adalah sebuah pusaka. Maka tanpa tedeng aling-aling, di hadapan Panglima Kohanudnas dan prajurit lainnya, Ia segera meminta Peci itu. Beliau ingin memiliki pusaka itu. Dan Mbah Nun langsung memberikan Peci yang sedang dipakainya serta memakaikannya langsung kepada Komandan Komando Sektor 4 Biak tersebut.

Usai doa bersama, acara Ngobrol Bareng Cak Nun di Aula Leo Watimena ini dipungkasi dengan foto bersama.

Buku dan Merchandise