Mukadimah Damar Kedhaton November 2020

Peteng

Rakaat pertama :

Sejak dari semula, ketika wujud masih berupa janin, kita menjalani fase hidup di dalam kegelapan, sekira sembilan purnama lamanya. Sayangnya, sudah menjadi garis-Nya ; kita pelupa. Maka Allah membocorkan melalui firman-Nya, “Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan,” (QS. Az Zumar:6).

Di dalam rentang kegelapan itu pula, perjanjian agung digelar antara hamba dan Penciptanya. Bahwa kita memberikan kesaksian bahwa Allah adalah Rabb kita. Sayangnya, saat dilahirkan – berpindah dari suasana gelap alam rahim menuju alam dunia yang dilimpahi cahaya – seketika kita (lagi-lagi) lupa. Dan Allah mengingatkan adegan itu di kalam-Nya, “Alastu birobbikum, qalu bala syahidna” (QS. Al A’raf:172)

Rakaat kedua :

Di dalam sebuah ruangan yang gulita tanpa setitik cahaya, maka tak ada satupun wujud yang bisa ditatap mata, kecuali kegelapan. Tidak ada modal bagi kita untuk mengetahui di sebelah kanan itu meja ataukah sedang terlelap seekor singa. Tak tersedia bekal informasi ketika kaki diayunkan melangkah, apakah akan mendarat di karpet empuk, ataukah menginjak tai. Prinsipnya ; gelap adalah nir cahaya pengetahuan.

Dan bagaimana jika ruangan itu ternyata disokong oleh tembok-tembok kenyataan yang kita alami sehari-hari? Bukankah menengok kembali masa silam dan apalagi mengintip masa depan adalah setara dengan menelusuri lorong gelap belaka?

Ketika kemudian diperluas lagi skala kenyataan itu bukanlah yang individual namun juga komunal masyarakat hingga bangsa bahkan dunia? Tidakkah mudah bagi kita untuk segera menarik hipotesis bahwa situasi yang sedang kita hadapai adalah gelap semata?

Rakaat ketiga :

Di dalam Daur I – 240, Mbah Nun menggariskan benih ilmu, “Kalau orang dikurung di dalam kegelapan, maka impian terbesarnya adalah cahaya, dan daya juang yang lahir dari dalam dirinya adalah berkembangnya upaya keilmuan dan percobaanpercobaan perilaku untuk memperoleh cahaya”

“Orang yang nasibnya digelapkan, yang hak-haknya direbut dan dibuang ke dalam kegelapan, yang hari-hari sejarahnya ditimpa penggelapan-penggelapan, tema hati dan pikirannya tinggal satu : cahaya”

Dulur, setidaknya dengan relasi dialektis antara rakaat pertama hingga ketiga di atas, dan dengan kesadaran penuh bahwa sekujur diri diliputi peteng sehingga senantiasa mengadu ihdinash shirothol mustaqim, mari melingkar bersama dalam Majelis Ilmu Telulikuran edisi ke-45 pada :

Ahad, 8 Nopember 2020, pukul 19.23 WIB
Di Ponpes Miftahul Ulum, Dsn. Telogobedah, Ds. Hulaan, Menganti, Gresik

Lainnya

Wujud Potensial

Berdiri di Pojokan

Baturetno Menep Tujuh Menit

Siang Malam Tak Berdaur

Dialektika Gerhana

Kecuali Aku Memberimu Makan

Buku dan Merchandise