Kebon (2)

Pesemaian Musik-Puisi

Dok. Progress.

Provokator atau pendorong penulisan serial Kebon ini adalah Kiai Tohar, sahabat saya hampir setengah abad. Rangsangannya berasal dari rencana acara romantik Festival Dipowinatan, Yogya. Sahabat-sahabat lama saya diminta untuk mempersembahkan kembali karya-karya Musik-Puisi yang dulu menghiasi jagat budaya Yogya akhir 1970-an sampai awal 1980-an.

Pertama, kita belajar kembali tentang karya kesenian yang bernama “musik-puisi”. Bukan musikalisasi musik, bukan puitisasi musik, bukan puisi-musikal atau musik-puitis, meskipun kategori nama-nama yang disebutkan itu muatannya dikandung juga atau bahkan dipersyaratkan oleh nomenklatur musik-puisi.

Dipilih idiom Musik-Puisi karena kadar dan peran keduanya dikelola untuk seimbang dan komplementer. Bukan bunyi musik yang diaransir sehingga puitis. Bukan puisi yang dinyanyikan sehingga musikal. Bukan puisi yang dominan dan musik hanya ilustratif. Bukan pula musik yang memimpin dan puisi menjadi penghias atau pelengkap penderita.

Kalau begitu kenapa disebut Musik-Puisi kok bukan Puisi-Musik, itu hanya pilihan administratif. Maka disebut Puisi-Musik juga tidak masalah. Karena keduanya jumbuh dan seimbang, sama-sama berperan, sama-sama menjadi dasar pertimbangan, sama-sama menjadi sumber inspirasi kreatifnya, sama-sama menghiasi satu sama lain. Kalau pakai idiom filsafat Jawa: loro-loroning atunggil. Kalau pakai bahasa Al-Qur`an: tauhid, kaffah, mizan. Penyatuan, kemenyeluruhan dan keseimbangan.

Peta kesenian modern Indonesia tidak mampu membaca fenomenologi ini. Karena modernitas adalah anak sulung sekularisme. Mata pandang mereka hanya bisa melihat puisi dan musik hanyalah cabang kesenian, dan kesenian hanya bisa mereka temukan sebagai fakultas atau jurusan dari kebudayaan. Mereka tidak mampu menerima denting senar gitar, bunyi saron dan bonang atau sapuan biola, apalagi gendèr, sebagai kehidupan itu sendiri.

Maka fenomena karya anak-anak muda Dipowinatan yang kemudian pakai baju “Musik-Puisi Dinasti” juga tidak dikenal oleh ilmu kesenian, musik atau dunia perpuisian Indonesia. Tidak ada refleksi tulisan tentang itu di media. Apalagi Pemerintah, yang di seluruh muka bumi pandangannya lebih sempit lagi dan sangat administratif-formal-minded. Ketika bersama Nevi Budianto (aspirator dan kreator musik-puisi itu), dalam posisinya sebagai pimpinan kelompok musik KiaiKanjeng, berkunjung diundang pentas di Finlandia, dan pada suatu sore diaturi makan malam di kantor Kedutaan Republik Indonesia – saya menjumpai satu buku besar tebal tentang Kesenian Indonesia. Itu penerbitan resmi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Seperti mencari jarum di tumpukan jerami, Nevi tidak bisa menemukan kata “musik-puisi”, “Dinasti” atau bahkan pun “KiaiKanjeng”.

Jadi nomor-nomor puisi “musik-puisi” itu kok bisa dipentaskan pada tanggal 16 Desember 2020 di Balai Javanologi Dipowinatan itu, semata-mata karena ada salah satu “oknum” dari Panyelenggara yang memiliki ingatan dan kesadaran tentang kiprah anak-anak muda kampung Dipowinatan di jaman dulu. Tetapi pengetahuan, kesadaran dan pemetaan Lembaga-lembaga Kesenian Indonesia tidaklah punya catatan tentang itu. Musik-puisi anak-anak muda Dipowinatan, yang berbaju Dinasti dan berkembang menjadi KiaiKanjeng, tidak dikenal oleh sejarah Indonesia. Bahkan juga tidak dianggap ada oleh para pengamat kebudayaan, para kritikus kesenian, para intelektual kelas menengah atau siapapun stakeholder sejarah kebudayaan tanah air ini.

Pada tahun 1976 saya berjumpa dengan anak-anak muda kampung ini. Mereka sedang berlatih gamelan di Balai RK Dipowinatan. Saya kemudian pelan-pelan berinteraksi dengan mereka, dan dari tahun ke tahun saya menyaksikan perkembangan mereka secara budaya, secara agama, secara psikologis, secara rohaniah. Allah saja yang mentakdirkan bahwa fenomena musik-puisi itu pesemaiannya dimulai oleh pergaulan dan silaturahmi saya dengan mereka.

Sejak tahun 1981 akhir perjumpaan dengan mereka, tiba-tiba pada Desember 2020 ini saya menemukan kembali nuansa kesegaran di Balai RK Dipowinatan pada 1976 dan tahun-tahun berikutnya. Saya tenggelam kembali ke dalam “zaman” yang sudah lama hilang. Pertama-tama yang saya ingat adalah bahwa adanya anak saya Sabrang Mowo Damar Panuluh adalah berkat persemaian silaturahmi di Dipowinatan ini. Di kampung inilah saya berkenalan dengan Mbak Neneng Suryaningsih, Ibunya Sabrang. Di kampung inilah kelak saya berproses untuk menemukan bahwa ilmu sosial modern sejauh ini terdiri hanya dari “pot-pot kembang”, bukan kebun kebudayaan dan bebrayan hidup.

Komunitas Dipowinatan saya temukan kembali sebagai sebuah kebun, bukan sekadar kumpulan pot-pot bunga yang tidak berhubungan satu sama lain. Melainkan juga dengan hamparan tanahnya, dengan batas-batas galengannya, dengan seribu biji-bijian yang mungkin ditanam. Juga dengan akarnya, batang pohonnya, dahan rantingnya, daun bunganya. Jadi tidak hanya melihat buahnya, sebagai pengetahuan manusia modern mentradisikan ilmu dan pengetahuannya. Pelan-pelan saya napaktilasi kembali momentum-momentum penyemaiannya dulu, era menanam kreativitas dan kepribadian manusia-manusia, serta beribu ikhtiar bertahun-tahun untuk menyiraminya supaya “mamayu hayuning bawana”.

Lainnya

Buku dan Merchandise