Peringatan Tujuh Hari Romo Iman Budhi Santosa

Sudah genap tujuh hari Romo Iman Budhi Santosa meninggal dunia. Kamis malam (17/12) redaksi Majalah Sastra Maiyah Sabana menggelar tahlilan, pembacaan puisi almarhum, sekaligus menceritakan momen indah bersama beliau. Kepergian Romo Iman sudah selayaknya dikenang dengan rasa sumringah, sebab, kata Pak Budi Sardjono, “Mas Iman meninggalkan kita dengan bahagia. Dia meninggal dalam posisinya sedang bekerja karena sebelum meninggal komputernya masih hidup.”

Pembacaan surat Yasin dan Tahlilan dipimpin langsung oleh Pak Hamdy Salad, penyair yang karya terbarunya Rubaiyyat Sebiji Sawi tahun 2018 terbit. Berlangsung sekitar lima belas menit, langsung disambung doa berupa pembacaan sajak atau geguritan karya mendiang. Penyair Evi Idawati mendeklamasikan Puisi Pagi Seorang Penganggur. Kemudian secara beruntun dilanjutkan Alim Bahtiar (Sesanti Tedhak Siti) dan Anes Prabu Sadjarwo.

Bagi para sahabatnya, Romo Iman dikenang sebagai pribadi yang sangat menghormati ibunya. Pak Mustofa W. Hasyim menyaksikan betul peristiwa tersebut di tahun 70-an. Waktu itu ia didatangi “Mas Iman” di Kantor Suara Muhammadiyah. “Mus, ibukku sakit. Ini bisa tidak puisinya dimuat,” ucap Romo Iman seperti ditirukan Pak Mustofa. Ia langsung mengerti maksudnya. Setelah urusan administrasi beres, Romo Iman segera pulang menjenguk sang Ibu.

Cerita soal ibu ini berlanjut. Bedanya waktu itu Romo Iman sedang diopname. Sebelum dilarikan ke rumah sakit Wirosaban, ia sedang mengikuti rapat pagi di rumah Sapto Raharjo. “Waktu itu penyakit jantungnya kumat. Sewaktu diopname, ia bilang: Mus, aku wis mari. Aku diparani ibuku,” kenangnya. Di mata Pak Mustofa, ajaran penting dari “Mas Iman” adalah berbakti kepada ibu sepanjang usia.

Lain halnya dengan Mas Joni Ariadinata yang malam tadi juga hadir. Ia bercerita kalau tiga hari sebelum wafat Romo Iman datang ke rumahnya. Tak seperti biasa, topik pembicaraannya lumayan berat: dari dunia jin, roh, malaikat, dan alam-alam gaib. Menjelang ashar ia pamit pulang.

Mas Joni senang mendengar Romo Iman bilang dirinya sudah sembuh dari penyakit yang dideritanya selama ini. “Saya senang kalau Panjenengan sehat, Mas,” tuturnya seraya memeluk Romo Iman. Bagi sastrawan yang merangkap sebagai salah satu redaktur majalah sastra Horison ini Romo Iman dinilainya “sudah sangat surgawi” karena selama hidup tak pernah menyakiti orang lain.

Ia mengaku ikhlas ditinggal Romo Iman. Meski hari itu ia masih berada di Temanggung.

Pesan Terakhir Mendiang

Tak ada sastrawan di Indonesia yang mengalahkan ketekunan Romo Iman dalam mengasuh perkembangan para penyair muda. Kepengasuhan itu bukan berarti tanpa kritik. Sesekali kritik tajam mendiang lontarkan sebagai pecut bagi mereka agar semakin berkualitas karya yang dihasilkan. Pak Hamdy saksinya.

“Bocah-bocah ki nek nulis sejarah sastra Indonesia meloncat-loncat. Banyak sesuatu yang dilewati,” kritik Romo Iman seperti diujarkan ulang Pak Hamdy. Kritikan itu bukti kejelian dan kepedulian Romo Iman terhadap perkembangan pemikiran para peneliti muda, yang jamak di antara mereka menjadikannya sebagai narasumber.

Saking cermat pengamatannya, menurut Pak Hamdy, mendiang sampai melihat ada keberlanjutan pergerakan sastra setelah Persada Studi Klub (PSK), yang kerap dianggap khalayak telah usai setelah periode itu. Ia menyebut seputar Benteng Timur—semacam gerakan kesenian dan kesastraan yang menyeruak dari wilayah timur Yogyakarta. Bila tak salah, lanjutnya, Romo Iman menyebut Benteng Timur tersebut sebanyak dua kali.

“Tahun 77 PSK berhenti. Dan tahun 78 ada kelompok seni IAIN yang kemudian ini tahun 80-an berubah menjadi ESKA,” imbuh Pak Hamdy. Belakangan ia menduga maksud Benteng Timur itu merujuk pada pergerakan seni yang digawangi oleh para mahassiwa di kampus yang sekarang bernama UIN.

Alasan itu berdasarkan pada tahun 1987 terbit antologi sastra Sangkakala oleh Arena yang diasuh oleh Kelik Nugroho. Tahun itu memang banyak orang menulis sastra dan mengirimkan karyanya ke sana. Pak Hamdy mengingat betul pada tahun itu Romo Iman sempat tinggal di ESKA. Sebelum itu ia pernah berpindah-pindah, sewaktu “menggelandang”, dari akhir tahun 1986 sampai 1987.

Sebelum pandemi Corona, Pak Hamdy dan Romo Iman sempat berdiskusi menyangkut perbedaan ruh dan jiwa. “Saat ditanya tentang itu saya ya menjawab jiwa itu biologis dan ruh itu teologis,” katanya. Sebanyak tiga kali Romo Iman menanyakan hal yang sama dan jawaban Pak Hamdy tak jauh berbeda dengan respons pertama.

Pada saat pertemuan terakhir, ia menambah pertanyaan: dari topik apa bedanya jiwa-puisi dan ruh-puisi hingga masalah keberadaan pepatah Jawa di dalam Qur’an. “Setelah saya jawab, Mas Iman bilang: tulisen,” tuturnya sambil terkekeh. Ia sampai sekarang masih ingat pesan terakhir Romo Iman. Seperti pengakuan orang-orang, Romo Iman itu sering memberikan tugas seseorang untuk menulis atau mencatat.

Prasaja lan Sakmadya

Sahabat Romo Iman kali ini merupakan saksi hidupnya sejak masih muda. Namanya Pak Soeparno S. Adhy. Ia termasuk generasi pendiri PSK. Sebagai sahabat lama, ia punya segudang cerita, dari masalah laku hidup mendiang sampai pilihan hidupnya sebagai perokok berat.

Suatu hari, setelah pulang rapat PSK, Mas Teguh Ranusastra Asmara, Romo Iman, dan dirinya pergi ke rumah Mbak Yati di bilangan Muja Muju, dekat SGM Yogya—“mantan pacar” yang kelak dipersunting Romo Iman. Tujuan mereka minta duit karena ketiganya tak mengantongi sepeser uang pun. Pucuk dicinta ulam tiba. Mereka berhasil. Lalu berembuklah mereka untuk dibelikan apa uang itu.

Ia dan Mas Teguh bersepakat membeli jajanan kue di depan BNI 46, Malioboro. Usul itu tak disetujui Romo Iman. “Apike ditukokke rokok wae,” ujarnya. Waktu itu mereka sama-sama ahli hisap. Usulan itu diterima. Kendati mayoritas mulanya ingin membeli makanan lantaran perut keroncongan.

Kesan Pak Soeparno semenjak awal ketemu “Mas Budhi”—panggilan khas untuknya—hingga wafat tak berubah sedikit pun. Romo Iman itu orangnya sederhana. Bersama sang kakak, Mas Teguh, tak pernah mengeluh. Meskipun ayahnya, Any Asmara, seorang pengarang produktif dan terkenal waktu itu (menulis 70 novel atau cerita bersambung serta 750 buah cerpen), pilihan hidup prasaja dan sakmadya tak pernah ia tinggalkan. “Padahal kondisi begitu Mas Budhi pasti makmur. Tapi ternyata waktu itu tidak menunjukkan hal tersebut,” tambah Pak Soeparno.

Pergaulan terakhir mereka terjadi pada pertengahan tahun 2019. Pak Soeparno meminta sahabatnya itu untuk mengurasi 200 puisinya untuk diterbitkan dalam rangka milad ke-70. Romo Iman akhirnya memilih 99 puisi. “Saya khusnudlon saja bahwa angka 99 itu nama Asmaul Husna.”

Dianggap Saudara, Guru, dan Orangtua

Berbeda dengan generasi lebih muda, Romo Iman banyak dianggap sebagai saudara bahkan orangtua. Misalnya kenangan Pak Sigit Sugito. Baginya, Romo Iman lebih dari seorang guru yang banyak mengisi proses kreatif anak muda Teater Sila.

Pertama kali mengenal dirinya tahun 1989. Menjelang tahun 90-an itu Romo Iman pernah membuatkan mereka naskah untuk dipentaskan. Belakangan beliau juga memberi petuah di hari pernikahan Pak Sigit. “Bahkan beliau ikut memberi nama anak saya,” ucapnya.

Penggiat teater berikutnya ini juga punya pengalaman serupa. Namanya Mas Wage, sekarang lurah di dusun Karangmojo. Ia hidup bersama Romo Iman selama tujuh tahun. Ketika menjelang kuliah, ia sempat bimbang. Mau masuk jurusan teater atau jurusan lain. Ia pun dinasihati Romo Iman, “Kuliah kok di teater, ya di psikologi saja,” ungkapnya.

Tapi kuliahnya tak pernah ia selesaikan. Ia lalu mengadu ke Romo Iman. Merasa bersalah tak menuntaskan apa yang sudah dimulainya di perguruan tinggi. Tanpa menghakimi, Romo Iman menimpali kepadanya: “Emang e kuliah ki kudu rampung?” Kata itu membuat Pak Sigit merenungi satu hal. Bahwa kuliah bukan untuk mencapai gelar, melainkan yang terpenting proses selama belajar itu sendiri.

Cak Kandar, pemilik penerbit Interlude, punya pengakuan lain. Bagi dirinya, Romo Iman sudah ia anggap sebagai orangtua. Banyak hal yang ia petik dari beliau. Terutama nasihat, laku hidup, sampai kebersahajaan mendiang. Tak kalah penting pula, lanjutnya, banyak buku-buku Romo Iman diterbitkan di tempat Cak Kandar.

Ia mulai dekat dengan almarhum pada tahun 2013. Saat itu diajak untuk berproses bareng di majalah Sabana. “Dan di tahun itu pula saya juga kehilangan bapak saya, Hari Leo,” ingatnya. Pada 2015 Cak Kandar mengaku dengan “agak takut” meminta beliau untuk mencetak karyanya kali kedua berjudul Ziarah Tanah Jawa. Romo Iman pun memperbolehkan.

Pada penghujung acara, Cak Nun memberikan kenangan penutup. Ia mengenal “Mas Iman” selama 51 tahun. Waktu itu Cak Nun masih duduk di awal semester sekolah menengah atas. Sebelum masuk PSK, “Saya sudah menulis di koran Bernas.”

Sejak pertama bertemu sampai pertemuan terakhir Cak Nun mengaku bahwa Romo Iman merupakan penyair dalam pengertian sebenarnya. “Sampai hari ini saya tidak membatalkan keyakinan saya,” ujarnya. Bagi beliau, bila membicarakan ruh puisi itu berarti membincangkan Romo Iman.

Di tengah polarisasi seniman dan sastrawan di Yogyakarta, lanjut Cak Nun, Romo Iman tak pernah terpengaruh. Ia dapat berdiri di tengah-tengah. Tak terintervensi oleh pandangan atau sektor mana pun. “Yang sengit atau geting sama saya banyak. Tapi tidak ada yang sengit kepada Mas Iman.”

Menurut Cak Nun, antara karakter dan karya Romo Iman tak dapat dipisahkan. Membicarakan beliau, berarti membicarakan puisi. Demikian pula sebaliknya. Di samping karya sastra yang ia produksi, Romo Iman sangat tekun meneliti alam dan tumbuhan. Banyak karyanya yang telah dipublikasikan seputar itu.

“Mas Iman itu guru kita bab alam dan tumbuhan. Mas Iman saya kira sudah mengelaborasi semua pengetahuan menjadi kebijaksanaan. Sudah mengalami ujian keseimbangan dan kebijaksanaan. Kita yang butuh mikul dhuwur dan mendem jero Mas Iman,” pungkasnya.

Cak Nun mengusulkan agar menjelang 40 hari mendiang ada penerbitan buku khusus mengenang Romo Iman dari pelbagai sudut pandang dimensi.

Lainnya