Perhimpunan Indonesia Mafaza

Reportase Sinau BarengVirtual Mafaza dengan Cak Nun 31 Oktober 2020

Kebetulan (=Kebenaran) Mafaza

Sinau Bareng edisi khusus Mafaza berlangsung secara daring pada 31 Oktober 2020, dan untuk itu kami berterima kasih kepada Cak Nun, Pak Toto, Mas Sabrang, teman-teman Progress, serta koordinator Simpul Maiyah yang telah berkenan meluangkan waktu membersamai kami.

Melanjutkan catatan dari Mas Adit Mafaza dan Mas Fahmi Kenduri Cinta, saya akan sedikit melengkapi ungkapan tahaduts binni’mah atas anugerah Allah di malam minggu kemarin.

Membuka Sinau Bareng lintas benua kemarin, Cak Nun melontarkan pertanyaan sekaligus renungan implisit yang sungguh di luar dugaan: “Bisakah kita me-‘mafaza’-kan Indonesia?” Belum jangkep kami mencernanya, lebih lanjut beliau mengajak kita merunut dialektika pertanyaan tersebut melalui 3 poin utama, Perhimpunan Indonesia, Arnold Swatzegener, dan Khabib Nurmagomedov. Apa logikanya dan di mana benang merahnya? Mari kita urai satu per satu.

Mafaza, nama simpul Maiyah Eropa yang Cak Nun sendiri yang memberi nama, adalah titik tolaknya. Entah suasana batin seperti apa yang ada di dalam diri Cak Nun kala itu, ketika Mbak Navis dari Jerman pulang kampung dan menemui beliau di Mocopat Syafaat edisi 17 Juli 2019 untuk meminta sebuah nama, yang didapatkan kemudian adalah Mafaza. Sebuah idiom yang diambil langsung dari Al-Qur’an, khususnya surat An-Naba’ ayat 31, Inna Lil Muttaqina Mafaza (Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapatkan kemenangan). Padahal, dari sekian banyak nama simpul Maiyah di Nusantara, termasuk lima simpul utamanya, saat itu belum satu pun yang namanya langsung diambil dari Al-Qur’an. Mungkin, di titik inilah di mana beliau melihat bahwa orang Barat yang selama ini mengagungkan materialisme dan rasionalisme, jika ingin selamat, mau tidak mau harus dengan jujur dan membuang kesombongan, untuk membuka dan merujuk pada Al-Qur’an.

Mengapa ini penting saya sampaikan? Karena ternyata, di awal Sinau Barengyang spesial ini, Cak Nun meminta Mas Fahmi yang mendampingi beliau bersama sedulur lain dari Kenduri Cinta, membacakan surat dalam Al-Qur’an, yaitu: Al Anfal ayat 65.

يٰۤـاَيُّهَا النَّبِىُّ حَرِّضِ الۡمُؤۡمِنِيۡنَ عَلَى الۡقِتَالِ‌ ؕ اِنۡ يَّكُنۡ مِّنۡكُمۡ عِشۡرُوۡنَ صَابِرُوۡنَ يَغۡلِبُوۡا مِائَتَيۡنِ‌ ۚ وَاِنۡ يَّكُنۡ مِّنۡكُمۡ مِّائَةٌ يَّغۡلِبُوۡۤا اَ لۡفًا مِّنَ الَّذِيۡنَ كَفَرُوۡا بِاَنَّهُمۡ قَوۡمٌ لَّا يَفۡقَهُوۡنَ

Wahai Nabi (Muhammad)! Kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan seribu orang kafir, karena orang-orang kafir itu adalah kaum yang tidak mengerti.

Dengan janji Allah di ayat ini, beliau mencoba membesarkan hati para Penggiat Mafaza, dan semua Penggiat Maiyah tentunya, untuk men-tadabburi Al-Qur’an dengan lebih serius. Utamanya, dengan melihat kembali empat ayat yang menekankan perintah tadabbur ini, antara lain: Surat an-Nisa’ (82), al-Mu’minun (68), Shad (29), dan Muhammad (24).

Sebagai sebuah nilai, Mafaza (kemenangan) tersebar luas di dalam Al-Qur’an, sebagaimana pemaknaan tadabbur di atas, karakter simpul Mafaza juga tersebar di beberapa negara di Eropa, utamanya Belanda dan Jerman. Fakta residual energi dari dua negara inilah keluasan cakrawala Cak Nun terbangun di awal tahun 1980-an. Dan, Penggiat Mafaza yang sebenarnya hanya segelintir orang, itu pun beberapa sudah pulang kampung ke Indonesia, menambah ketersebaran itu. Meskipun segelintir, bahkan jika hanya satu atau dua orang, menurut Cak Nun, rumus Al-Qur’annya adalah dua puluh dibanding dua ratus dan seratus dibanding seribu, dengan satu kata kunci SABAR. Bukankah Rasulullah bersabar meskipun awalnya hanya sendiri? Yang kemudian ditemani sang istri Siti Khadijah. Bahkan etos sabar ini yang Cak Nun maknai dengan standby atau juga waspada, dan di-istiqomah-i sejak dari Jombang, Gontor, PSK-Malioboro, Indonesia, dan Eropa, adalah salah satu kunci menuju takwa.

Sebagai ilustrasi, Sinau Bareng Mafaza edisi September 2019 di rumah Pak Pipit Rochiyat Kartawidjaja di Berlin, yang awalnya diagendakan berkumpul paling tidak sepuluh orang, akhirnya hanya saya dari Amsterdam dan Mbak Mini dari Hamburg yang hadir. Toh, kami sangat beruntung karena selain diguyuri ilmu dan pengalaman beliau yang luar biasa, kami ditraktir makan malam di Tori-Katsu, restoran Jepang lawas yang dulu beliau biasa ajak Cak Nun makan dan ngobrol santai di sana.

Pun pada beberapa Sinau Bareng Mafaza yang lain. Misalnya di bulan Februari 2019 bersama pasangan sesepuh Pak Santo Koesoebjono (kerabat pahlawan Nasional Dr. Soetomo pendiri Boedi Oetomo) dan Ibu Solita Sarwono (adik dari profesor Sarlito Wirawan Sarwono) di Leiden, Belanda. Meskipun sudah diagendakan dengan beberapa orang, dan akhirnya di hari-H hanya Mas Syafiih sang koordinator Mafaza dan istri yang datang, ilmu tentang unconditional love kala itu barangkali melampaui ratusan pasangan milenial yang hanya tampak mesra di media sosial. Juga saat saya dan Mas Syafiih terbang ke Helsinki, Finlandia, selain napak tilas, kami dipertemukan dengan Pak Wawang Hermawan, salah satu sesepuh di sana yang mendampingi perjalanan Cak Nun dan Kiaikanjeng pada tahun 2005. Atau manakala hanya berdua atau bertiga bersama Mas Adit dan Mas Yoppie yang paling dulu mudik ke Jogja dari Jerman, Mas Kukuh dari Wageningen, Mas Ghofur dari Arnhem, Mas Widi dari Austria, Mbak Ericka dan Pak Bari dari Almere, dan sesepuh lain sahabat Cak Nun, Pak Siswa dan Bu Dini di Amsterdam, hampir tidak pernah semua bisa hadir lengkap. Sesekali, memang bisa sampai puluhan jamaah yang bahkan sangat berwarna dari bule, non-bule, dan atau mixed identity yang lain menyatu.

Tidak cukup di situ, Cak Nun kembali meminta Mas Fahmi membacakan surat yang lain, yaitu Al A‘raf ayat 172.

وَ اِذۡ اَخَذَ رَبُّكَ مِنۡۢ بَنِىۡۤ اٰدَمَ مِنۡ ظُهُوۡرِهِمۡ ذُرِّيَّتَهُمۡ وَ اَشۡهَدَهُمۡ عَلٰٓى اَنۡفُسِهِمۡ‌ ۚ اَلَسۡتُ بِرَبِّكُمۡ‌ ؕ قَالُوۡا بَلٰى‌ ۛۚ شَهِدۡنَا ‌ۛۚ اَنۡ تَقُوۡلُوۡا يَوۡمَ الۡقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنۡ هٰذَا غٰفِلِيۡنَ

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.

Poin penting yang beliau tekankan dari ayat ini adalah pembelajaran tentang de javu, atau sesuatu yang manusia alami, pikirkan, dan rasakan, yang suatu saat akan dipertemukan pada sebuah kondisi yang seolah-olah sudah dialami, dipikirkan, dan dirasakan sebelumnya. Inilah 8 jenis memori yang dikaruniakan Allah kepada manusia yang pernah dielaborai oleh Mas Sabrang, mulai dari memori sel atau kromoson hingga memori alam semesta, yang bekerja di bawah consciousness atau unconsciousness.

Apakah semua ini kebetulan? Dan jika betul sama dengan benar, apakah ini kebenaran? Merangkum sekaligus merefleksikan uraian Cak Nun dan dialog yang terjadi, sesuai dengan pesan Cak Nun kepada semua yang hadir untuk tidak muluk-muluk memaknai semuanya, beliau berangkat dari poin pertama, Perhimpunan Indonesia.

Perhimpunan Indonesia 3.0

Indonesia, yang baru dua bulan lalu memperingati 72 tahun hari kemerdekaannya, tampaknya sudah semakin lupa dengan dirinya. Jangankan memahami sejarah Perhimpunan Indonesia sebagai cikal bakal ide dan pergerakan yang melandasi perjuangan kemerdekaan, menentukan prioritas antara penanganan pandemi Covid-19 dengan pelaksanaan pilkada 2020 saja begitu gagapnya. Pasalnya, sebagaimana Cak Nun sampaikan, buku Indonesia Bagian dari Desa Saya yang beliau tulis pertama kali tahun 1979 baru saja diterbitkan ulang. Artinya, ada peningkatan permintaan terhadap buku ini yang oleh Cak Nun ditanggapi dengan optimisme sekaligus pesimisme. Optimis karena berarti semakin banyak generasi muda yang gelisah dengan kondisi Indonesia milenial dan ingin mencari sekaligus mendalami lagi pengertian mereka tentang Indonesia yang ‘seharusnya tidak seperti ini’. Dan pesimisnya karena berarti selama 41 tahun, Indonesia tidak juga beranjak menuju perbaikan, karena isi buku ‘kuno’ ini masih saja aktual dan relevan dengan persoalan ke-Indonesia-an di masa kini. Lagi-lagi, kita wajib merenung, apakah Al-Qur’an tidak semakin relevan?

Padahal, jika flash back lebih jauh ke tahun 1908, ketika Indische Vereeniging atau Perhimpunan Hindia pertamakali didirikan atas prakarsa dua orang, yaitu Soetan Kasajangan Soripada dan R.M. Noto Soeroto, cita-cita besarnya adalah kemerdekaan bangsa. Visi semacam ini, jika memakai logika masa itu, barangkali dalam bahasa Jawa disebut ngoyoworo (mengada-ada), karena ide tentang nama Indonesia pun belum ada. Saya bayangkan ketika itu, dan faktanya perhimpunan ini memang awalnya hanya untuk berkumpul, dansa, dan pidato, yang terjadi adalah segelintir orang, tanpa pandang bulu, golongan, dan kelompok, berinisiatif melakukan Sinau Bareng mengasah otak dengan dialog sambil mengasah hati dengan seni.

Karena jangan lupa, R.M. Noto Soeroto adalah seorang penyair, wartawan, aktivis seni dan budaya, dan penulis ulung, sebagaimana di masa kini kita mengenal sosok Cak Nun, yang keduanya pasti dianggap tidak penting dari kacamata politik partai. Baru pada tahun 1913, ketika Cipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat (Ki Hajar Dewantara) bergabung, ketika Muhammadiyah baru saja lahir di Yogyakarta, dan nama Indonesische Vereeniging (Perhimpunan Indonesia) yang awalnya diperkenalkan oleh antropolog Belanda Cornelis van Vollenhoven kemudian diadopsi pada periode berikutnya, seiring dengan gelombang Politik Etis, gerakan politik kemerdekaan yang digelorakan melalui diskusi-diskusi dan tulisan-tulisan di buletin Hindia Poetera mulai meluas. Dan pada periode Muhammad Hatta sejak tahun 1926, ketika NU juga lahir di Surabaya, yang sudah berani bersuara lebih lantang melalui majalah Indonesia Merdeka, janin bernama republik Indonesia mulai terasa detak jantungnya di sulbi anak cucu pemuda Nusantara yang dikaruniakan ghayah sekaligus wasilah merintis etos pemerdekaan.     

Trajektori ini yang saya tangkap dari pesan penuh keyakinan yang Cak Nun sampaikan bahwa Mafaza adalah Perhimpunan Indonesia 3.0. Tentu tidak untuk secara literer diperbandingkan dengan PI 1.0 era Bung Hatta dan pendahulunya yang bermuara pada proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Tidak juga secara kuantitatif disejajarkan dengan PI 2.0 atau generasi pemuda Indonesia di era Pak Pipit Rochiyat Kartawidjaja dan Adnan Buyung Nasution tahun 1970-an di Eropa, diikuti generasi Gus Dur, Pak Siswa Santoso, Hambali Maksum, dan Cak Nun yang sudah berani menentang Orde Baru dan bermuara pada reformasi 1998.

Jelas, medan perjuangan dan tantangan yang dihadapi jauh berbeda. Namun, gol akhirnya tidak pernah berubah, pemerdekaan! Sehingga ketiganya tetap bersandar pada satu poros yang sama, spirit yang sama, cinta tanah air! Karena sejak semula para pemuda ini memiliki etos yang oleh para sedulur Nahdliyin disebut hubbul wathon minal iman. Mereka boleh dari golongan apa saja, ormas apa saja, kelompok apa saja, agama apa saja, etnis mana saja, tetapi energi, pikiran, dan hati mereka satu, untuk Indonesia. Dan di frekuensi inilah Mafaza, sebagai bagian dari lingkar nilai besar Maiyah, diharapkan terus mengalirkan getarannya dan menggetarkan alirannya.

Dengan paradigma lama, jamak orang pasti akan bertanya dengan nada yang sinis dan ragu, mengapa Mafaza begitu percaya diri, sok patriotis, sombong, dan gumede ingin memerdekakan Indonesia? Mungkin ada benarnya, tetapi coba perhatikan dua generasi PI sebelumnya. Apakah tidak ada kelompok atau organisasi lain yang lebih besar dan lebih mapan kala itu? Banyak sekali! Apakah kemudian mereka menjadi pahlawan? Tidak semua! Bahkan kemudian yang berjuang memerdekakan adalah PI-PI yang di tanah air. Itupun, perlu dicatat bahwa sampai 1928, ketika para pemuda Nusantara ber-Sumpah Pemuda, seperempat juta (90%) pegawai negeri pemerintahan kolonial Belanda adalah warga lokal Nusantara, bukan warga Belanda atau Eropa (Vandenbosch, The Dutch East Indies, p. 171). Jadi, siapa sebenarnya yang menjajah Nusantara.

Dan yang pasti, yang dimaksud Cak Nun sebagai energi Mafaza adalah bukan pada besar atau kecilnya kelompok atau banyak sedikitnya orang-orang yang berusaha istiqomah ngumpul ber-Sinau Bareng di Eropa atau di manapun (meskipun jika dikalkulasi, jamaah Maiyah di Nusantara dan dunia, tidak bisa dibilang sedikit), tetapi gelombang kesungguhan ber-tauhid yang tidak tergantung pada kuantitas. Gelombang inilah yang menuntun kepada takwa atau kewaspadaan, yang outputnya adalah Mafaza (kemenangan), sebagaimana janji Allah di surat An-Naba’ ayat 31 di atas.

Lalu, mengapa Mafaza, terutama sebagai sebuah nilai atau gelombang energi (bukan sebagai kelompok, organisasi, atau padatan material yang lain), begitu penting? Dan bagaimana relevansinya terhadap masa depan pemerdekaan, bukan hanya Indonesia, tetapi peradaban dunia yang hingga kini dikomandani oleh dunia Barat? Dengan kasus yang sangat aktual Cak Nun mencoba menggelitik kami semua.

Arnold Schwarzenegger dan Terminal Kematian

Usai menguraikan kedua ayat di atas, Cak Nun menyinggung turnamen kehidupan manusia melalui refleksi kecenderungan materialisme masyarakat Barat, terutama di Eropa dan Amerika yang sayangnya dimakmumi dengan khusyuk oleh jamaah manusia sedunia, termasuk Indonesia. Ialah mantan aktor Holywood sekaligus mantan gubernur California Arnold Alois Schwarzenegger, topik utamanya. Pria berotot besar kelahiran Styria, Austria 73 tahun lalu yang tenar lewat film The Terminator, dalam sebuah talkshow bersama Howard Stern baru-baru ini mendiskusikan tema yang sangat menarik, tentang kematian. Begini kurang lebih potongan dialog mereka yang sempat viral di Twitter itu:

Howard : Are you afraid of death?
Arnold : No. I’m not afraid of death. I’m just pissed off about it. Especially I think when you have a life like we have. And then one day it’s over. I mean, that really pisses me off.
Howard : Governor… Where are we gonna go when we die? Be honest with us.
Arnold : Well, the truth is that you go six-feet-under. That’s it. And you’re gonna rot there. Absolutely, that’s it. Hopefully, there is a life after this. And we all know that it’s going to be different if there’s a life after this. I hope that there’s a life after this. But it’s not going to be like this. I’m not going to sit… after we’re dead, we’re not going to sit here like this and do interviews, and have a great time, and have laughs, and have Robin there giving us this beautiful smile. It’s upsetting, and I cannot stand it.
Howard : Are you angry about it?
Arnold : I’m so angry about it!
Howard : Me too
Arnold : I’m furious about it.
Howard : Me too…

Pesannya kurang lebih begini, sang bintang yang sudah memiliki ketiga hal yang sangat dicari manusia di dunia ini, strong, rich, and famous, sangat geram, sedih, marah, dan benci akan satu-satunya fakta yang pasti tentang hidup, yaitu mati. Dan truth atau kebenaran yang paling ia yakini adalah membayangkan tubuhnya membusuk di dalam tanah, dan sampai di situlah epidose kehidupan berakhir. Ia hanya bisa berandai-andai (bahkan belum masuk kategori yang Mas Sabrang sebut fuzzy logic) jika kehidupan setelah mati benar-benar ada. Tentunya dengan imajinasinya, andaikata itu ada, pasti ia akan berbeda, karena sudah tidak mungkin menikmati duduk nyaman, wawancara, tertawa, dan bersenang-senang dengan tubuh yang sudah membusuk itu.

Di tengah pembahasan tema kamatian ini, tiba-tiba Pak Siswa yang awalnya sudah dijadwalkan akan membersamai kami, yang Cak Nun sudah kangen sekali karena beliaulah yang menampung Cak Nun di Belanda tahun 1980-an, mengirimkan pesan singkat ke saya: “rasane aq absen, Cak…saiki aq lagi ndampingi sahabat…menjalani proses eutanasi...”. Ternyata, Belanda adalah sedikit dari negara ‘maju’ di dunia active voluntary euthanasia, atau bahasa kasarnya “suntik mati secara sengaja atas permintaan sendiri”, adalah praktik legal di Belanda. Artinya, orang yang sudah terlalu lama hidup, dan malah menderita, dan ndilalah angka harapan hidup di Belanda dan Eropa umumnya juga tinggi sekali, bisa secara legal minta mati kapan saja dengan praktik eutanasi. Entah prosedur dari Izroil seperti apa untuk kasus semacam ini?

Ini yang Cak Nun maksud dengan ketidakjelasan turnamen kehidupan yang diyakini mayoritas masyarakat Barat. Tentang terminal dan tujuan kehidupan. Wacana utama kehidupan mereka adalah materialisme dalam segala macam aspeknya. Karena acuan utamanya bukan firman Tuhan, tetapi rasionalitas berpikir, meskipun mereka juga sadar bahwa rasionalitas itu juga sangat terbatas, maka konsep wa lal akhirotu khorullaka minal ula (dan yang akhir atau akhirat lebih baik daripada yang awal atau dunia) tidak faktual, tidak rasional. Sehingga jangan heran jika manifestasinya adalah kapitalisme dan liberalisme, yang jika kita tarik sejarah ke belakang, penjajahan bangsa-bangsa Barat atas atas bangsa-bangsa Timur di masa lalu adalah demi menambah keyakinan mereka bahwa hidup pasca-dunia adalah mitos belaka.

Karenanya, turnamen sebab-akibat kehidupan mereka bersifat parsial, terbatas pada jasad dan materi yang kasat mata, meskipun mereka pada saat yang sama juga mengharapkan adanya kehidupan abadi yang merdeka dari adanya kematian. Padahal, sumber hidup dan sekaligus yang merdeka dari kematian adalah ruh. Dan satu-satunya sumber informasi yang paling lengkap soal ruh, yang Tuhan bilang qulir ruuhu min amri rab-biy wa maa uutiytum minal ’Ilmi il-laa qaliylaa (“katakanlah roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”), adalah dari Tuhan melalui agama. Dan karena jelas-jelas hanya sedikit, maka cara paling aman adalah menggunakan iman, bukan ilmu, sesuatu yang sudah mereka abaikan sejak berabad-abad lalu, ketika dicetuskannya Renaissance di Eropa.

Padahal, sebejad-bejadnya seorang penjahat di Indonesia, ketika ia ditanya soal kematian, jawabannya, atau setidaknya keluarga yang ditinggalkannya pasti tidak akan jauh-jauh dari doa “semoga diampuni dosanya, diterima amal baiknya, dimasukkan ke surga, dihindarkan dari neraka). Dan kalau dia punya anak, menjelang ajalnya ia akan berpesan ke sang anak: “jangan seperti Bapak ya le, jadilah anak sholeh, rajin sholat dan berbuat baik, doakan ayah biar masuk sorga”.

Belajar Lagi Nur Muhammad dari Fenomena Khabib Nur Magomedov

Lalu, mengapa ide kemerdekaan dari tokoh muda Indonesia justru mereka dapatkan di dunia Barat? Di sini barangkali cara Tuhan menjaga harmoni bumi dan menunjukkan ke-Maha Adil-annya. Karena masyarakat Barat memilih mengutamakan rasionalitas, selain karena tuntutan kondisi alam, perkembangan sains dan teknologi penunjang kehidupan yang mereka upayakan begitu pesat. Itu semua menunjang keseimbangan tata nilai dan tata sosial berdasarkan rule of law dan human rights. Dan dengan itu ternyata mereka bisa memperdaya bangsa lain yang kaya tapi mereka anggap bodoh dan mau atau tidak sadar kalau dibodohi. Hasilnya, mereka semakin yakin bahwa kunci keberhasilan dan kebahagiaan hidup adalah rasionalitas semata. Bahkan kalau kiamat benar-benar datang pun, mereka sudah merancang bermigrasi ke Mars atau planet lain. Apapun yang mereka anggap tidak saintifik, akan susah masuk ke logika berpikir mereka. Makanya, jin, gendruwo, banaspati, tuyul, sundel bolong, pocong, kuntilanak, gundul pringis, dan sejenisnya tidak populer di khazanah budaya mereka. Deteksi hantu ya menggunakan alat ukur frekuensi. Konsekuensi logisnya mereka mengacuhkan prinsip dan nilai-nilai agama untuk mengatur kehidupan individu dan kolektif. Agama dan Tuhan benar-benar menjadi secondary concern.

Sebaliknya, masyarakat Timur yang alamnya melimpah ruah dan terlalu nyaman untuk ditinggali, lambat laun menjadi malas, gemar berkumpul kapanpun dan di manapun, bahkan memiliki waktu sangat lapang untuk mendalami spiritualitas dan mistik. Bahkan hingga era digital dan Youtuber paling mutakhir, lihatlah channel-channel misteri, horor, dunia lain, dan semacamnya begitu laris manis mendulang subscribe. Sampai akhirnya, mereka lengah dengan tata kelola kekayaan alam dan organisasi sosial yang semakin kompleks. Hingga suatu hari, bahkan mereka tidak sadar jika harta benda mereka sudah dicuri orang luar, sudah berpindah tangan, tak sedikit yang akhirnya nrimo menjadi babu, atau terpaksa terus miskin, dan mudah ditipu daya. Dalam kondisi tersebut. Satu-satunya harta paling berharga adalah iman yang dengan itu harapan akan kehidupan lebih baik di episode hidup pasca kematian sudah dijanjikan oleh agama. Maka tidak mengherankan ketika azas Ketuhanan Yang Maha Esa muncul sebagai sila pertama yang dipakai bangsa Indonesia, begitu mudahnya diterima semua golongan.

Beberapa gelintir orang dari bangsa ini, terutama yang memegang teguh nilai-nilai spiritualitas, yang kemudian hidup dan tinggal di Barat, terasah di dua sisi, kedalaman spiritualitasnya dan ketajaman rasionalitas dan tradisi berpikir kritisnya. Perpaduan dua karakter inilah yang kemudian menggerakkan etos pemerdekaan dua generasi PI di atas, yang kemudian ditularkan, dipupuk, dan dikembangkan di tanah air. Harapan akan kesadaran semacam inilah yang tampaknya Cak Nun sangat serius titipkan kepada gelombang Mafaza.

Ki Hajar Dewantara, Bung Hatta, Sukarno, dan sejumlah generasi muda pada zamannya, juga Gus Dur, Cak Nun, dan tokoh lain di era berikutnya, jelas mengalami proses dialektika hibrida Timur-Barat, iman-ilmu, kearifan-rasionalitas, dan estetika-intelektual yang membentuk dan mempertahankan ke-Indonesia-an. Generasi “Perhimpunan Indonesia Mafaza” atau Cak Nun menyebutnya PI 3.0 harus lebih serius mengolah seluruh potensinya, lebih presisi mengkalkulasi seluruh strategi pergerakannya, dan lebih waspada mengantisipasi seluruh godaan dan jebakan keterperosokannya. Karena pertama, medan perjuangannya bukan lagi sekadar di ruang geografis Indonesia melawan penjajah Belanda, atau gerakan mahasiswa melawan otoritarianisme rezim Orde Baru, tetapi jauh lebih kompleks di dunia nyata dan dunia maya, yang karakter musuhnya adalah Korun sekaligus Corona. Kedua, fenomena gelut dewe sesama anak bangsa, saling serang, fitnah, menjatuhkan, mengkafirkan, dan konco-konconya semakin marak, sehingga musuh yang sesungguhnya malah tidak terdeteksi sedang ngopi sambil menikmati kelucuan dan kekonyolan itu entah dari mana.

Dari Khabib Nurmagomedov, yang Cak Nun juga menyebut namanya, kita diajak belajar lebih sungguh-sungguh menetapkan target, memantabkan kuda-kuda, dan menguatkan langkah untuk mendapatkan maqam Mafaza. Khabib yang begitu besar cintanya kepada Islam, Nur Muhammad, dan orang tua, terutama ibunya, mendapat perkenan Tuhan untuk memperoleh kemenangan atas lawan terberatnya Conor McGreggor yang secara statistik jauh lebih berpengalaman, lebih cepat, lebih lincah, dan lebih didukung sponsor. Namun McGreggor lupa bahwa kesombongannyalah yang mengaktivasi kekuatan Nur Magomed si Khabib. Bahkan di pertarungannya melawan Gaethje yang juga ia menangkan dan melambungkan posisinya di peringkat atas petarung UFC divisi Lightweight sehingga berpeluang menjadi petarung nomor wahid di kelasnya, jika ia meneruskan karirnya, ia memilih mundur dari gemerlap kamera ketenaran dan kekayaan demi sang Ibu dan sang ayah yang belum lama meninggal dengan Syahadat karena Covid-19.    

Dari sosoknya, meski di ekosistem Eropa, Cak Nun mengajak kami ber-Islam yang menyelamatkan dan beriman yang mengamankan seperti ber-Islamnya dan ber-imannya Rasulullah yang tidak mungkin mengizinkan para pecintanya memenggal kepala orang yang menghinanya, seperti kasus pemenggalan guru sejarah belum lama ini di Perancis. Gelombang Mafaza diharapkan menjadi energi yang menetralisir potensi kasus serupa di kemudian hari dan di belahan Eropa yang lain. Karena secara hikmah, selain meningkatnya Islamophobia, di sisi lain tragedi semacam itu akan menggerakkan banyak hati dan naluri untuk mencari tahu, mengenal, dan mempelajari lagi siapa Muhammad dan Nur Muhammad.

Bukankah Joram van Klaveren, politisi Belanda dari Party for Freedom, tangan kanan Geert Wilders, yang keduanya amat sangat membenci Islam dan ultimate goal mereka adalah meloloskan UU di parlemen Belanda untuk melarang peredaran Al-Qur’an dan menghentikan imigran Muslim masuk ke Belanda, akhirnya masuk Islam “kebetulan” di bulan Oktober 2018? Cak Nun dan Kiaikanjeng pasti masih ingat sepuluh tahun sebelunya, yang “kebetulan” lagi di bulan Oktober 2008 berkesempatan berkeliling di 7 kota di Belanda atas undangan De Protestantse Kerk? Dan Kala itu, hubungan Muslim-non Muslim di Eropa memanas gara-gara kasus kartun Nabi Muhammad yang dimuat di harian Jyllands-Posten di Denmark atas nama kemerdekaan berekspresi dan pers. Di tahun itu juga, di bulan Maret, Geert Wilders terlebih dahulu memanaskan suasana toleransi beragama di Belanda dengan merilis Fitna, film provokatif yang mendiskreditkan Al-Qur’an sebagai biang terorisme, kekerasan, dan kebencian.

Insya Allah, Sinau BarengMafaza mendatang akan dibersamai oleh narasi kemenangan dari Joram van Klaveren (kemenangan atas dirinya) sebagai ikhtiar memperkuat gelombang Nur Muhammad, dan bekal awal untuk pemantapan langkah Perhimpunan Indonesia 3.0 untuk misi pemerdekaan dari frasa “I hate…” yang masih sangat nyaring terdengar di era milenial di bumi Eropa. Itu mungkin yang tidak muluk-muluk Cak Nun harapkan dari aplikasi “me-Mafaza-kan Indonesia, dan dunia”.

Amsterdam, 2 November 2020

Lainnya

Buku dan Merchandise