Corona, 17

Perahu Maiyah

(Kekasih Tak Bisa Menanti)

Kalau saya tidak menentang dan memusuhi siapa pun yang berpandangan bahwa ujian global Coronavirus untuk seluruh ummat manusia di Bumi — tidak ada kaitannya dengan Allah — tidak lantas berarti semua akan berlangsung “tidak apa-apa” juga. Orang memusuhi atau tidak memusuhi saya bukanlah peristiwa utama dalam kehidupan manusia. Kalau keingkaran, dusta, pengkhianatan dan kekufuran kita sepakati sebagai rasional untuk mengunduh akibatnya, baik akibat alamiah maupun pembalasan dari subjek di atas kehidupan alam dan manusia — maka urusannya tidak dengan saya, melainkan dengan Yang Maha Menciptakan dan Memegang Hak Milik Mutlak atas kehidupan.

Saya, juga semua makhluk, bisanya cuma mlipir-mlipir atau ndompleng-ndompleng ke realitas sunnatullah yang antara lain berlaku di alam. Kalau saya menanam jagung, saya tidak ikut menumbuhkan dan membuahkan. Maka kalau ada orang mencuri jagung yang saya tanam, perkaranya adalah dengan Yang Maha Menumbuhkan dan Maha Membuahkan.

Di tahun 1997, salah seorang sahabat karib saya bernama Harry Tjahjono, yang menggubah lagu “Keluarga Cemara”, lantas kelak Krisna putranya menggubah lagu “Mimpi Paling Nyata” untuk Film Terimakasih Emak Terima kasih Abah — menyodorkan satu lagu untuk saya nyanyikan dan beberapa lagu lain untuk dinyanyikan oleh Ibu Novia dalam album “Taubat”. Kami masuk studio rekaman, satu take sekali jadi, sebab kalau diulang mungkin jadi lebih jelek. Sahabat saya Harry memerdekakan saya untuk mengubah liriknya, dan saya lakukan itu, termasuk memodifikasi notasi dan cengkok lagunya.

Lagu Harry Tjahjono itu kami rekam dengan judul “Kekasih Tak Bisa Menanti”. Isi syairnya saya ubah menjadi sebagaimana isi jiwa saya sejak kanak-kanak: yakni ikut mengikhtiari bagaimana supaya kehidupan manusia berlangsung tidak terlalu jauh dari yang Allah maksudkan ketika menciptakan manusia dulu:

KEKASIH TAK BISA MENANTI

Akhirnya akan sampai di sini
Di amanat Ilahi Rabbi
Orang-orang tak bisa lagi menanti
Zaman harus segera berganti pagi

Aku tangiskan teririsnya hati
Para kekasih di dusun-dusun sunyi
Terlalu lama mereka didustai
Sampai hanya Tuhan yang menemani

Tuhan
Sudah tak bisa diperpanjang lagi
Kesabaran, ketabahan
Sesudah diremehkan dan dicampakkan

Ya Allah
Wajah-Mu terpancar dari derita mereka
Bukakanlah Ya Allah
Rahasia sesudah maut yang tak terduga itu
Datanglah kelahiran yang baru

Akhirnya akan sampai di sini
Di arus gelombang yang sejati
Kalau perahu kami adalah tangan-Mu sendiri
Tak akan satu kekuatan bisa menghalangi

Ya Allah
Sudah tidak bisa diperpanjang lagi
Kesabaran mereka, ketabahan mereka
Sesudah diremehkan dan dicampakan

Tuhan
Wajah-Mu terpancar dari derita mereka
Bukakanlah Ya Allah
Rahasia-Mu Ya Allah
Sesudah maut yang tak terduga itu
Datanglah kelahiran yang baru

(Kelapa Gading 1997)

Syair itu membuktikan bahwa penyair bukanlah benar-benar yang membikin syair. Bahwa penulis lirik lagu bukanlah yang sepenuhnya menulis lirik lagu. Buktinya sejak Album itu dirilis sampai bertahun-tahun kemudian, saya tidak bisa mengerti apa yang saya maksud dengan “Akhirnya akan sampai di sini”. Di sini di mana? Di zaman apa? Di situasi apa? Di cuaca kebudayaan dan peradaban yang bagaimana? Kalau itu keadaannya begitu, yang begini keadaannya bagaimana?

Sejumlah kata, kalimat dan muatan lain bisa saya karang-karang atau saya jawab kalau ada yang menanyakan. Tetapi sejak 1997 itu, kemudian berlangsung Reformasi 1998, sampai hari ini — saya belum pernah berhenti bertanya kepada diri saya sendiri, dan tentunya juga terutama kepada Allah: Apa maksudnya dan kira-kira kapan akan diperkenankan Allah untuk terjadi — “Sesudah maut yang tak terduga itu, datanglah kelahiran yang baru”.

Maut apa? Bagaimana? Siapa yang mati? Berapa orang yang meninggal tak terduga-duga? Itu terjadi di lingkup pergaulan sempitku, ataukah di ruang luas Indonesia? Atau bahkan dunia? Sangat terang benderang bahwa saya bukanlah yang sejatinya menulis syair itu. Saya cuma dititipi, dijadikan medium atau lantaran, cuma diangslupi. Oleh siapa? Cobalah Anda yang meneruskan jawaban.

Kalau sekadar otak-atik-gatuk, apa saja bisa dikait-kaitkan dengan itu. Corona ini pun bisa: sampai di sini…maut yang tak terduga itu…. Tetapi “datanglah kelahiran yang baru” itu apa dan bagaimana? Apakah ummat manusia dipaksa oleh Allah untuk mensyahadati fakta kehidupan yang selama ini diingkarinya? Apakah Allah memaksa semacam perjanjian agung yang baru tentang kehidupan manusia?

Misalnya, bukankah mayoritas penduduk Bumi sekarang ini menuhankan yang bukan Allah? Maka apa yang sebenarnya bisa diandalkan dan diharapkan oleh masyarakat manusia yang kebanyakan mereka mentuhankan yang bukan Allah?

Padahal, bagi yang hidupnya dipandu oleh Al-Qur`an, bacalah Al-A’raf 172: Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.

Kita yang njepiping ngeri akan ditimpa Corona, terdengarkah suara di kedalaman jiwamu: “Alastu biRabbikum?” Dan jiwa sejatimu menjawab: “Bala syahidna” …Apakah ummat manusia sedang dipojokkan oleh pertanyaan dan jawaban itu? Mana saya tahu. Saya hanya sok tahu. Tetapi pasti ini bukan sekadar soal teks Sumpah dan Baiat, tapi juga impelementasi akhlak, sistem sosial, pengelolaan Negara, Peradaban.

Buku Cak Nun Majalah Sabana