Pengkhianatan Terhadap Bung Karno

  1. Bung Karno hanyalah satu penggalan kecil dari sejarah panjang peradaban Nusantara, tapi ia adalah tonggak terbesar eksistensi Indonesia. Bung Karno adalah monumen besar kehormatan dan jiwa agung bangsa Indonesia. Di manakah tonggak itu sekarang tegak teguhnya? Di manakah momen itu sekarang kebesaran dan keanggunannya? Di manakah sekarang jiwa kebangsaan yang pernah menggetarkan dunia? Tidak baikkah andaikan bangsa Indonesia memproyeksikan jiwa kebangsaan Bung Karno itu pada kehidupan nasional hari ini. Ya politiknya, ya ekonominya, ya kebudayaannya, ya martabat kebangsaannya.
  2. Bangsa Indonesia hari ini bercerminlah dan tatap wajahmu: Siapa Pemimpin Bangsamu sebenarnya? Bung Karno, Pak Harto, Habibie, Gus Dur, Megawati, SBY atau Jokowi? Siapakah Bapak Pembangunan Harga Diri Bangsa Indonesia? Presiden dengan jiwa dan karakter bagaimanakah yang kau akan pilih di tahun 2024 nanti? Siapa sebenarnya yang kau percaya, yang kau cintai, kau anut dan laksanakan prinsip-prinsip kejuangannya?
  3. Para pemimpin lain mungkin kau cintai dan kau bela, atau kau benci dan kau maki. Demi kemerdekaan warga dan hak asasi, aku tidak mempertanyakan atau mempersoalkan siapa yang kau benci dan siapa yang kau cintai, kenapa kau benci atau kau cintai, alasannya mendasar atau tidak, tepat atau tidak. Kalau mau benci, bencilah. Kalau memang cinta, cintailah. Yang menjadi pertanyaan adalah kalau kau percaya dan cinta, apakah kau melaksanakan pesan nilai-nilainya dan jiwa kejuangannya? Ataukah kau sekarang ini bersikap acuh tak acuh saja, bahkan mungkin mengkhianatinya?
  4. Bung Karno menyatakan sangat tegas pada pidato peringatan Kemerdekaan 17 Agustus 1963: Kita bangsa besar, kita bukan “bangsa tempe”, kita tidak akan mengemis, kita tidak akan minta-minta apalagi jika bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini syarat itu! Lebih baik makan gaplek tapi merdeka, daripada makan bestik tetapi budak. Lantas apakah demikian juga garis kejuangan dan prinsip nilai yang diterapkan oleh Presiden-Presiden sesudahnya? Apakah prinsip harga diri kebangsaan yang ditegakkan oleh Bung Karno itu menjadi pertimbangan utama ketika memilih para pengganti Bung Karno?
  5. Sampai sekarang apa yang kita lakukan sebagai bangsa dengan Presiden dan Pemerintahnya? Apakah bangsa Indonesia sekarang ini tuan rumah di negerinya sendiri ataukah pengemis di lapangan luas pasar bebas globalisasi? Apakah bangsa Indonesia berani makan gaplek demi kedaulatan dan martabat dirinya, ataukah sebagian kecil makan bestik di atas pundak rakyat kebanyakan yang makan gaplek?
  6. Bung Karno membantah ilmuwan Lord Russel dengan menyatakan bahwa “dunia ini tidaklah seluruhnya terbagi dalam dua fihak seperti dikiranya”. Yakni kapitalisme dan sosialisme, yang dua tonggaknya adalah Manifesto Komunisme dan Declaration of Independence. Maka Bung Karno menawarkan Panca Sila kepada dunia, dalam pidatonya di depan PBB 1960: “Itulah intisari dari peradaban Indonesia selama dua ribu tahun”.
  7. Sesudah itu, sampai hari ini, apa yang ditawarkan oleh Bangsa Indonesia kepada Dunia? Supremasi ekonomi? Khasanah kebudayaan? Keteguhan martabat kebangsaan? Keunggulan olahraga? Fenomenologi dan cakrawala masa depan? Kepemimpinan di Kawasan Negara-negara dan bangsa-bangsa di sekitarnya? Indonesia ini Macan Asia ataukah Tikus Asia?
  8. Bagaimana bangsa Indonesia memaknai sejarahnya bahwa mereka pernah memiliki, mengagumi dan mencintai orang besar seperti Bung Karno? Seberapa besar kesungguh-sungguhan mereka untuk benar-benar mendengarkan dan belajar kepada beliau? Apakah bangsa Indonesia punya kesetiaan untuk menjalankan aspirasi-aspirasi kebangsaan beliau? Juga punya keteguhan dan disiplin untuk mempertahankan pemikiran beliau dalam menjalankan Pemerintahan dan pembangunannya?
  9. Apa jawaban bangsa Indonesia kalau ada yang menyimpulkan bahwa sepeninggal Bung Karno, terjadi pengkhianatan-pengkhianatan besar dan serius, baik secara personal, kemasyarakatan, keormasan dan keparpolan atau kepemerintahan? Bahwa kita bangsa yang lalai dan meremehkan hakekat jasa pahlawan-pahlawannya? Bangsa yang cuek dan acuh tak acuh kepada sejarahnya sendiri? Bangsa yang punya Pancasila tetapi tidak mempelajari dan menghikmahinya? Bangsa yang punya Ketuhanan Yang Maha Esa tapi tidak meletakkan-Nya sebagai sumber utama pertimbangan-pertimbangan dan langkah sejarahnya? Bangsa yang punya Nabi tapi tidak belajar kepadanya dan tidak menggali apapun dari peran sejarahnya?
  10. Itu pandangan satu sisi mata uang tentang Bung Karno. Kelak bangsa Indonesia akan dewasa berpikirnya, akan seimbang mentalitasnya, akan teguh rasionalitasnya, serta akan kukuh persatuan dan kesatuannya. Sehingga akan siap membuka sisi mata uang lainnya.

Yogya 30 September 2020
Mbah Nun, Maiyah.

Buku dan Merchandise