Penggiat Juguran Syafaat Sambung Rasa dengan Kyai Tohar

Hari Selasa (28/01/2020), pukul 19.00 WIB, puluhan penggiat Maiyah seputaran Banyumas Raya berkumpul di pendopo Arsakusuma yang beralamat di Jalan Dipokusumo 38, Purbalingga. Lokasi ini mudah dijangkau. Timur Laut dari alun-alun kota, sejarak lima kali lemparan lembing.

Di tempat itu telah salah seorang guru kita di Maiyah yaitu hadir Bapak Toto Raharjo atau Kyai Tohar. Beliau adalah salah seorang yang telah lama berkecimpung dalam dunia pergerakan sosial di Indonesia. Sejak memberi workshop 5 tahun yang lalu kepada Penggiat Juguran Syafaat di sini, beliau sudah lama ingin sekali datang kembali ke Kota Perwira. Kali ini beliau berhasil menyempatkan waktu di sela-sela kesibukan aktivitas dan kerja-kerja pengorganisiran rakyat.

Mengenakan kaos warna biru dan kain sarung, Kyai Tohar duduk santai mendengarkan kisah asam-manis para Penggiat Maiyah. Tercatat ada beberapa kegelisahan, seperti suka-duka yang diutarakan Pak Tono selaku orang yang dituakan di lingkungan tempat tinggalnya. Lalu, celoteh ‘halal-haram’ penghasilan Aji yang bekerja di perusahaan bulu mata palsu. Kemudian curhatan Agung Totman yang merasa mulut tetangga itu lebih tajam daripada mulut Netizen. Ada juga kerisauan Rohman, yang tak kunjung bisa meraih cita-cita mulianya sebagai organizer ulung.

Pak Sugeng Barkop yang biasanya termenung diam membisu, kali ini pun urun suara. “Pak Toto, kegelisahan saya saat ini, saya ngantuk banget.”

Sedetik kemudian seisi ruangan tertawa. Agus Duren lalu menimpali, “Bakul kopi kok ngantukan, mendingan ngesuk dodolan bantal bae, Pak!”. Dan ledekan Agus Duren memecah tawa lagi.

Hal yang dilontarkan Pak Sugeng itu menyimpang dari tema agenda pertemuan, tapi memiliki pengaruh positif untuk mencairkan suasana forum. Alur komunikasi pada perjumpaan malam itu memang terasa renyah. Suasana sangat cair dan enak, meski sesekali terganggu oleh raungan knalpot motor blombongan yang melintas di seberang jalan.

Tidak kalah segar, Kyai Tohar juga banyak sekali melempar jokes. Satu di antaranya adalah soal landasan persahabatannya dengan Cak Nun yang menjadikannya bisa awet sampai sekarang. Landasan persamaan nasib sebagai orang desa dan sama-sama ‘drop out’ dari sekolah. Ini kelihatan sederhana, meski sebenarnya mengandung kompleksitas di dalamnya, begitu menurut Kyai Tohar.

Selanjutnya, dengan segudang bekal pengalaman aktivisme yang sudah dilakoninya dan dengan menakar posisi masing-masing individu dalam peta sosial serta dikaitkan situasi zaman kiwari, Kyai Tohar memberi panduan-panduan dan pola strategi atas permasalahan spesifik yang tengah dihadapi Penggiat Maiyah.

Jam sepuluh malam, di tengah obrolan yang sedang menanjak serius, menyusul bergabung rombongan dari desa Limbangan, Kutasari, yang dipimpin oleh Pak Jumad. Turut serta pula Fery Setiawan, ketua panitia Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng yang baru saja digelar sehari sebelumnya (27/01/2020).

Agenda kolosal Sinau Bareng di sebuah desa di ujung barat Purbalingga itu sempat membuat Fery menangis haru. Melalui bermacam liku-liku perjalanan, dirinya seolah tidak percaya bisa menghadirkan Mbah Nun dan KiaiKanjeng.

Mengutip apa yang disampaikan Pak Jumad, Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng merupakan wahana untuk mengencangkan kembali jalinan atau ikatan silaturahmi Penggiat Maiyah setelah sekian waktu kendor karena urusan dan kesibukan masing-masing.

Merespons ihwal silaturahmi, Kyai Tohar menekanan pentingnya keberadaan Simpul Maiyah, yang dalam hal ini adalah Juguran Syafaat agar bisa berperan lebih optimal sebagai wadah paseduluran Jamaah Maiyah di Banyumas Raya.

Menginjak tengah malam supaya memberi kesempatan istirahat Kyai Tohar forum pun kemudian diakhiri. Esok paginya Yai Tohar akan menjadi pemandu ‘Training of Fasilitator’ untuk Karang Taruna Kabupaten Banyumas yang kebetulan pula acara ini digagas oleh Penggiat Maiyah, yakni Kukuh Prasetiyo.

Kemudian Rizky selaku moderator acara memungkasi pertemuan dengan mengambil dua point kesimpulan. Pertama, perlunya tindak lanjut dari Simpul Maiyah untuk menyatupadukan jamaah lama dan jamaah yang baru. Kedua, perlu adanya sebuah forum sederhana tetapi bermuatan monitoring dan evaluasi atas kegiatan atau aksi individual yang sedang dijalankan masing-masing jamaah Maiyah. (Febri Patmoko)

Buku dan Merchandise