Pengembaraan Lima Wali

Adalah Ibrahim beserta empat kawannya yang menempuh perjalanan jauh dari ujung utara hingga ke sudut selatan China. Kawan lainnya adalah Ilyas, Anwar, Muhammad, dan termasuk Ali yang menjadi Imam yang memimpin perjalanan ini. Bukan sekedar perjalanan biasa, barangkali mereka melakukan — meminjam istilah Malioboro yang pernah disematkan Mbah Nun kepada Umbu dalam tulisannya Presiden Malioboro. Malioboro yang berarti jadilah Wali yang mengembara. Kami spontan menyebut mereka ‘Wali lima’. Sebab melihat gaya berpakaiannya persis menyerupai Walisongo, bersurban, berjubah, akan tetapi jumlahnya hanya lima.

Kami berdua menemuinya di masjid bernama Dayingzi di suatu desa pemukiman warga Hui, salah satu suku minoritas yang menganut agama Islam terbanyak di China. Desa tersebut lumayan jauh berjarak dari kota Changchun, sekitar 50 kilometer dari jantung kota. Kami menempuhnya dengan menaiki lrt dan dilanjutkan bus antar desa, yang merogoh kocek hanya 10 yuan (sekitar Rp. 20.000,-).

Dayingzi, masjid yang berdiri kokoh dan ada sejak tahun 1735 pada masa dinasti Qing. Masjid yang hidup tidak berbatas antara peradaban kuno dan modern ini, awalnya berada di kaki gunung dayingling, kemudian pada 1880 dipindahkan ke tempat sekarang di punggung bukit. Saat pertama kali dibangun, hanya ada tiga gubuk beratap jerami dengan fasilitas sangat sederhana. Dengan tanah sendiri seluas 600m2, masjid ini lalu secara bertahap mengalami pemugaran hingga kini.

***

Ibrahim dan kawan-kawannya berasal dari wilayah yang berbeda. Ia sendiri berasal dari kota Guizhou. Teman lainnya ada yang berasal dari kota Hunan, Harbin, Gansu, dan Ningxia. Mereka dipertemukan di suatu tempat pusat pembelajaran Islam di Yunnan, dan memiliki tekad yang sama yakni menempuh perjalanan. Ini bukan sekadar perjalanan biasa yang lazim kebanyakan orang menempuhnya. Perjalanan yang mereka lakukan penuh dengan iktikad mulia.

Mereka sungguh terketuk kedalaman hatinya masing-masing untuk saling meneguhkan keimanan dan kecintaan kepada Allah, Tuhan yang Maha Menggerakkan. Hati mereka tergerak melakukan perjalanan sekaligus mentadabburi segala eksistensi alam ciptaan-Nya agar senantiasa selalu bersyukur dan berendah hati kepada sesama makhluk.

Mereka bahkan rela tinggalkan kesibukan duniawi selama berbulan-bulan. Ibrahim yang masih bergelut di kampus sebagai mahasiswa, misalnya. Serta ragam kesibukan lain yang diemban oleh empat kawan lainnya. Dengan memilih mengunjungi berbagai masjid di setiap kota, dimulai dari kota Harbin yang terletak di utara China hingga kota Yunnan di selatan di China. Bahkan, Ali sebagai pentolannya tegas berkata bahwa mereka akan mengunjungi dan mabit beberapa malam di masjid-masjid lebih dari 34 kota di berbagai provinsi.

Kompas mereka yang dijadikan pijakan perjalanan selanjutnya adalah navigasi atau arahan dari para Ahong — ulama/kyai yang mendiami dan mengasuh masjid di China. Di tiap masjid mereka sering melingkar halaqoh bersama Ahong, mengkaji kitab-kitab yang mereka bawa selama perjalanan. Pernah ditunjukkan kepada kami salah satu kitab tentang hidup para sahabat, hayatus shohabah. Kemudian shalat berjamah lima waktu, serta membantu Ahong dan para pengurus di setiap masjid membersihkan lingkungan masjid. Terkadang ada salah satu masjid kedapatan sedang direnovasi, mereka lantas membantu para tukang. Layaknya santri, mereka memposisikan diri mereka sebagai abdi, ngalap dan ngilmu pada Ahong, kelak berharap ketularan berkah yang dilimpahkan dari Tuhan.

***

Awalnya kami sempat putus asa. Sebab masjid yang kami cari kedapatan gerbang utamanya sedang digembok. Mengingat pandemi belum usai. Pemerintah China sejak awal meluasnya wabah ini mengeluarkan kebijakan agar seluruh tempat pusat keagamaan untuk ditutup sementara waktu. Dan sampai bulan ini masih belum ada kebijakan lanjutan, pasalnya China masih tetap berjaga dan melaksanakan kebijakan antisipatif terkait pandemi ini. Keluar masuk kampus, menggunakan transportasi umum, masuk ke pusat belanja, kami diharuskan untuk mengunduh aplikasi scan barcode tanda sehat dan pengecekan suhu. Hampir seluruh masyarakat diwajibkan menempuh proses itu.

Secara teknis, hidup di negeri tirai bambu ini sangat memudahkan kita mendapatkan apapun. Namun lajur arus peradaban kini, membuat kita terjebak dalam kungkungan kehebatan teknologi. Tidak usah berpanjang lebar saya mewedarkan dahsyatnya revolusi modernitas industrialis akhir-akhir ini. Teman-teman tentu memiliki sikap jernih sendiri agar tidak mudah salah sangka pada ponsel yang berada digenggaman kita.

Ketika kami browsing letak masjid yang jauh ini via baidumap, mulanya belum muncul gambar dan deskripsi tentang keadaan masjid itu. Menjelang beberapa hari sebelum berangkat ke sana, kami coba lacak lagi dengan engine pencarian yang sama, ternyata sudah muncul satu gambar yang meyakinkanku bahwa masjid itu benar-benar ada. Jangan-jangan pihak baidu telah menganalisis algoritma pengunjung yang sedang berselancar mencari masjid tersebut sampai ditugaskanlah pegawai lapangannya untuk pergi kesana memotret dan me-update informasi masjid tersebut yang telah diinput dalam susunan peta yang dibuatnya. Wah, ini gila!

Kamis lalu, kami memutuskan mengunjungi masjid tersebut. Aku memang sangat bergairah mengeksplorasi tempat-tempat baru, berkenalan dengan orang-orang baru, memecahkan kesulitan-kesulitan, pun bersinggungan sesuatu paling asing sekali pun. Kalau kami asing di negeri orang pasti sudah biasa, tapi barang tentu jangan sampai asing di negeri sendiri, celetuk W.S. Rendra.

Singkat cerita kami tiba di masjid itu mendapati gerbang utamanya tertutup dan digembok. Sepanjang perjalanan di sekitar desa Hui, warga setempat memandangi curiga kami berdua. Ada yang memelototi dari jauh, mengerutkan dahi, pun ada yang tak acuh. Sebab mungkin telah lama tiada orang asing masuk ke wilayah ini. Namun, aku merasa perawakan orang-orang Timur, terutama Asia masih satu rumpun dan tidak jauh beda dibandingkan dengan manusia-manusia Barat dan bangsa Eropa. Tapi itu tak jadi persoalan, kami terus melangkahkan kaki dan berjalan.

Akhirnya kami memutuskan putar balik dan tiba-tiba keluar beberapa orang dari pintu sisi samping masjid. Lantas satu di antaranya memperkenankan kami masuk dan menunjukkan satu ruangan istirahat di sekitar masjid itu. “Assalamualaikum…” Salam kami pada mereka yang ternyata sedang makan tabhek bersama. “Waalaikum salam” jawab Ali, lalu mempersilahkan kami untuk bergabung menyantap makanan mereka. Mereka menerima kami dengan sangat hangat dan memperlakukan kami seperti keluarga sendiri, walaupun masih belum saling mengenali.

Ibrahim pun berkelakar, “Sempat aku bermimpi semalam bahwa akan datang tamu dari langit untuk segera dimuliakan kalau bukan Tuhan yang menggerakkan hati kita…”. Kami pun saling lempar canda, berkenalan satu sama lain, hingga hanyut dalam percakapan yang asyik. Mereka juga menyelipkan inspirasi dan wawasan baru tentang Islam di China serta kisah pengembaraan mereka mencari kesejatian hidup. Kami juga dipersilakan berbicara perihal Islam dan Indonesia. Mereka sangat lapang membuka ruang untuk kemungkinan baru agar dapat melihat pemahaman sendiri yang masih cacat untuk dibenahi kembali dan selalu bersikap mawas diri, pungkas Ibrahim kepadaku.

Mereka memiliki kelebihan dan keistimewaan masing-masing. Ada yang hafidz, ada yang ahli membaca dan menerjemahkan kitab-kitab, ada yang berlidah qori’, ada yang pantas memimpin dan bertugas mengatur, ada yang berfungsi kreatif. Mereka adalah formasi yang lengkap, unik yang dipertemukan Tuhan untuk menyusuri masjid-masjid, membawa risalah menaburkan butiran kebaikan serta mengenalkan Islam dengan damai bersama masyarakat sekitar dan masih saja haus untuk terus belajar.

Puji Tuhan kami bersyukur masih sempat dipertemukan dengan mereka, para Wali muda pelestari nilai-nilai Islam yang ramah dan rendah hati. Mereka sungguh mengingatkan kami kembali betapa Islam merupakan rahmat bagi segenap alam. Suatu oase yang kami temukan di tengah hamparan padang pasir ketidakpastian.

Changchun, China.

Buku dan Merchandise