Pengajian Padhangmbulan: “Kutub Syukur, Kutub Kufur”

Selain untuk duduk melingkar Sinau Bareng, apa dorongan paling mendasar yang ada di lubuk hati kita saat menghadiri Pengajian Padhangmbulan? Jawaban singkatnya bisa berbunyi, “Ya untuk menghadiri Pengajian Padhangmbulan. Lain tidak.”

Namun, jawaban tersebut sesungguhnya mengandung sejumlah “sirr” kelembutan yang tidak gampang dirumuskan atau bahkan dibahasakan. Rahasia kelembutan ini bisa batal sebagai rahasia manakala ia dinyatakan secara verbal atau literal. Jadi, biarlah ia bersemayam dalam kandungan kalbu kita masing-masing sebagai rahasia antara kita dan Allah.

Demikian pula saat kita merasakan getaran ilmu, pengalaman, atau cahaya kesadaran di Pengajian Padhangmbulan. Getaran rahasia ini kadang sungguh tak terucap.

Pengajian ini bukan ditentukan oleh siapa “narasumber”-nya, sebagaimana lazimnya pengajian atau majelis ta’lim pada umumnya. Kehadiran atau ketidakhadiran Mbah Nun, Cak Fuad serta para marja’ lainnya tidak dimaknai secara harfiah, melainkan ditentukan oleh wushul atau ketersambungan batin kita bersama Beliau.

26 tahun lebih Pengajian Padhangmbulan berlangsung merupakan waktu yang cukup panjang bagi kita untuk belajar waspada dan menjaga keseimbangan. Kita telah belajar bersama bahwa yang tidak tampak bukanlah tiada. Sedangkan yang tampak tidak selalu berarti ada. Dari tonggak kesadaran ini kita memelihara rasa syukur, terus-menerus, setiap saat, di mana pun berada.

Kita akan terus belajar dan mempelajari lapisan-lapisan “what” di balik what. Mencermati yang “tidak tampak” di balik yang tampak. Membaca ayat-ayat yang difirmankan dan “tidak difirmankan”. Mengasah kepekaan untuk menemukan Rahman Rahim Allah atas setiap apa pun yang tengah kita hadapi.

Selalu tersenyum sambil menggumam syukur, “Alhamdulillah, hari ini dapat rezeki seratus ribu rupiah.” Sementara begitu banyak manusia terjebak dalam sikap ngersula karena tidak berpijak pada kenyataan seratus ribu tapi mengharap tiga ratus ribu, satu juta, bahkan berburu keinginan yang tanpa batas.

Pada silang momentum ruang dan waktu — ketika kita berjuang mengolah bahan yang paling menyakitkan sekalipun dalam hidup kita agar tetap bersyukur dan berbahagia — kita pun tersungkur dalam sujud. Allah dan Rasulullah tidak pernah meninggalkan kita.

Dengan rasa syukur dan bahagia, bulan ini, kita kembali menghadiri Pengajian Padhangmbulan pada Senin, 9 Maret 2020, pukul 20.00 WIB di desa Mentoro Sumobito Jombang. “Kutub Syukur, Kutub Kufur”, inilah pintu yang akan kita masuki bersama; merasakan guyuran nikmat — maa kaana min ni’matin faminallaah, nikmat apa pun datangnya dari Allah — sekaligus mewaspadai jebakan kufur. (ass).

Buku dan Merchandise