Penenang yang Menyenangkan

Dua tiga bulan belakangan kita dibanjiri “informasi” tentang virus Corona, yang sekarang sudah menginfeski lebih dari satu juta manusia. Berbagai pendapat bersliweran di media sosial. Tak jarang satu dengan lainnya bertentangan.

Postingan yang tampak scientific sering juga membuat jengah. Jangankan untuk mencari tahu keabsahannya, menolaknya saja seakan tidak ada daya. Seperti terhipnotis. Umpamanya saja “lemon yang pH-nya 12 mampu mengalahkan virus”. Lemon bukannya acid, ya? Hari ini tersebar anjuran berjemur jam delapan pagi.  Besoknya lain lagi: jam sepuluh. Mana yang benar? Kenapa kok ga sekalian seharian seperti Bilal, karena dengan begitu Bilal tidak kena Covid.

Di tengah kebingungan dalam kegalauan itu beredar pula teori-teori konspirasi dan prediksi dari para eskatologis. Dalil dan dalih mereka sama-sama meyakinkan walaupun terkadang mereka berada di kubu yang berseberangan, dan membuat yang menyimak ngeri, dan makin bikin sumpek. Teror ke kepala kita makin empat-sehat-lima-sempurna.

Eh, tapi tunggu dulu. Apakah yang disampaikan itu informasi atau baru sekadar data, ya? Yang pernah diomongkan si Tagihan Pagar itu analisis atau ramalan? Yang beredar prediksi ataukah tebakan? Harapan atau khayalan? Fakta atau propaganda? Itu berita, cerita, atau gosip? Anjuran apa hasutan?

Alhamdulillah. Salah satu yang diteladankan di Maiyah adalah kewaspadaan, termasuk kewaspadaan terhadap arti kata. Sepresisi mungkinlah sejak awal supaya tidak salah bereaksi. Salah diagnosis bisa salah dosis bahkan salah obat.

Nah, setelah pas identifikasinya dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan: haruskah saya tahu? Bolehkah saya tahu? Atau mendingan tidak tahu? Dilarang tahu, sebaiknya tidak tahu, boleh tahu boleh tidak.

Ini senapas sepenghirupan dengan lima matriks Islam yang selama ini dipahami melulu untuk urusan ibadah-syariah. Wajib-sunah-mubah-makruh-haram oleh Cak Nun diperluas cakupan aplikasinya ke wilayah muamalah-kesaharian. Menurut Cak Nun ilmu adalah mengetahui apa yang harus diketahui, dan mengetahui yang yang tidak usah atau tidak perlu diketahui.

So, bagi yang minat dan antusias sama teori konspirasinya David Icke atau paparan eskatologi Islamnya Syaikh Hosein silahkan. Sediakan waktu dan RAM (juga rem) yang kuat biar otak ga hang atau kusut di tengah jalan. Mau nganut CNN, BBC, Aljazeera, atau CGTN terserah-serah saja. Mau jadi subscriber-nya Nathan Rich, Daniel Dumbrill, Kim Iverse, Smile 2 Jannah atau Alip Ba Ta tinggal klik tombolnya dan loncengnya. Mau percaya proofable lies, atau untrusted truth, bebas merdeka. Mau dipilah-dipilih-dihapus atau ikutan jadi spreader dan copaster, monggo. Toh akhirnya kita juga yang nantinya harus bertanggung jawab atas pilihan itu.

Kalau saya cuma berusaha untuk selalu ingat “aturan dasar” Maiyah(an) bahwa output haruslah menggembirakan, menyenangkan, menambah daya juang, ngayemi, meningkatnya percaya diri, tatag melihat masa depan dan yang paling ultimate adalah menguatnya kesadaran ber-Allah dan ber-Rasul.

Di luar itu berarti apa saja yang berpotensi membikin depresi, stres, fobia, paranoid, atau kambuhnya anxiety, maaf, terpaksa harus saya lockdown, lockup kalo perlu saya olok-olok sebelum saya dibuang.

Lainnya