Pembuktian Cinta yang Sederhana dari Bunda Cammana

Nama Bunda Cammana pertama kali saya mendengar ketika Ijazah Maiyah yang pertama di Surabaya tahun 2011. Bersama beberapa sosok lain, Bunda Cammana mendapat kehormatan menerima Ijazah Maiyah dari Jamaah Maiyah. Saat pertama kali membaca nama Bunda Cammana, saya sendiri tidak mengenal siapa beliau. Baru kemudian dalam beberapa kesempatan, Mbah Nun menceritakan sosok Bunda Cammana. Seorang pejuang shalawat, yang menghabiskan seumur hidupnya untuk mentradisikan shalawat, mengajarkan shalawatan kepada orang-orang terdekatnya, mulai dari anak-anak hingga ibu-ibu rumah tangga.

Bunda Cammana adalah Maestro Parrawana Towaire. Parrawana Towaire artinya adalah Penabuh Rebana Perempuan. Jika Mbah Nun berkesempatan datang ke Mandar, maka sudah pasti salah satu agendanya adalah silaturahmi ke kediaman Bunda Cammana di Kecamatan Limboro. Letaknya tidak terlalu jauh dari Tinambung. Beberapa video dokumentasi di chanel Youtube caknun.com mengabadikan suasana rumah Bunda Cammana.

Dan ketika Mbah Nun sampai di kediaman Bunda Cammana, tidak ada obrolan khusus, tidak ada diskusi, tidak ada basa-basi. Shalawatan. Bunda Cammana mengumpulkan anak didiknya, dari yang kecil sampai yang dewasa, kemudian bergantian mereka melantunkan nomor-nomor shalawat yang ditulis Bunda Cammana. Suaranya khas. Mbah Nun menyebut bahwa Bunda Cammana memiliki suara vokal “kung” yang tidak dimiliki kebanyakan orang.

Sampai akhirnya saya membuktikan sendiri, mengalami sendiri suasana spiritual itu. Alhamdulillah, berkat Mbah Nun, pada 2019 saya berkesempatan untuk datang ke Mandar, dua kali bahkan. Di bulan Februari bersama teman-teman Letto, kemudian di bulan November bersama beberapa penggiat Simpul Maiyah.

Tentu saja, yang paling membuat saya antusias adalah agenda berkunjung ke kediaman Bunda Cammana. Dan kedatangan rombongan disambut shalawatan. Owh iya, tentu saja juga disambut menu makan siang yang sangat nikmat. Tapi “menu utama” di kediaman Bunda Cammana adalah shalawatan. Rumah Bunda Cammana sangat sederhana, rumah panggung khas daerah Sulawesi. Orang Mandar menyebutnya Rumah Boyang.

Menyaksikan sendiri bagaimana Bunda Cammana bershalawat, dengan suara “kung” yang khas, kemudian bersahutan dengan suara anak-anak kecil yang beliau didik. Bunda Cammana sendiri juga menabuh rebana, memimpin anak-anak kecil yang sangat bersemangat menabuh rebana dan bershalawat. Saya melihat cinta yang sederhana yang diungkapkan Bunda Cammana kepada Rasulullah Saw. Konon, Bunda Cammana merintis tradisi shalawatan sejak tahun 1957, ketika beliau masih berusia sekitar 13 tahun. Dan terus berlangsung hingga beberapa bulan lalu, sebelum beliau terbaring sakit.

Meskipun hanya mendengarkan melalui rekaman audio, tetapi pesan sakral dari Alm Kyai Yasin Hasan, selalu terngiang. Kurang lebih seperti ini pesan beliau yang justru lebih menekankan pada peringatan keras; “Kon kenal teko ndi karo Kanjeng Nabi? Kok moro-moro ngaku-ngaku cinta karo Kanjeng Nabi? Kon melu ta gak?”. Kurang lebih demikian beliau memberi peringatan. Kita itu mengenal Rasulullah Saw dari mana? Kemudian kok tiba-tiba berani ngaku cinta Nabi? Kon melu ta gak? Kyai Yasin Hasan seolah-olah mempertanyakan; kita itu sebenarnya ikut berjuang bersama Kanjeng Nabi atau tidak? Apa dasarnya kok kita ngaku-ngaku cinta sama Rasulullah Saw?

Bunda Cammana seolah menjadi jawaban bahwa untuk mencintai Kanjeng Nabi dan berjuang bersama Kanjeng Nabi itu tidak sulit. Sangat sederhana. Bunda Cammana membumikan shalawat di tanah Mandar, jauh dari ingar-bingar sorotan dunia. Bunda Cammana adalah sebuah jawaban bahwa untuk hidup secara Islam, mencintai Rasulullah Saw dan meneladani laku hidup Kanjeng Nabi itu tidak njlimet.

Seolah-olah Bunda Cammana itu ingin menyampaikan pesan kepada kita; bershalawatlah, Nak. Bershalawatlah kepada Rasulullah Saw, Nak! Bunda Cammana tidak menceramahi kita dengan materi-materi fikih yang selalu menjadi perdebatan di tengah masyarakat. Bunda Cammana tidak pernah mengajak kita berdiskusi bagaimana shalat yang khusyuk, bagaimana duduk takhiyat yang benar, atau mana yang lebih sah sholat subuhnya; memakai doa qunut atau tidak? Bunda Cammana tidak sejauh itu untuk mengajak kita. Beliau merangkul kita agar mencintai Kanjeng Nabi. Shalawatan. Sesederhana itu. Bunda Cammana menarik kita sangat jauh dari ingar-bingar riuhnya dunia, untuk shalawatan. Untuk membuktikan bahwa kita ini semua mencintai Kanjeng Nabi.

Air mata Bunda Cammana selalu menetes ketika bershalawat. Ketika mendengarkan anak-anak didiknya menabuh rebana sembari bershalawat, Bunda Cammana menangis haru. Tangisan rindu kepada Kanjeng Nabi. Di rumahnya yang sangat sederhana, Bunda Cammana membangun bahtera cinta yang hari ini mengantarkan beliau untuk berjumpa dengan Kanjeng Nabi Muhammad Saw.

Senin sore 7 September 2020, Bunda Cammana menghembuskan napas terakhir setelah beberapa lama terbaring sakit. Sebuah kabar menyedihkan bagi kita semua. Tapi, saya yakin Bunda Cammana pergi dengan senyuman bahagia. Karena beliau kini telah paripurna. Bunda Cammana sudah disambut Kanjeng Nabi Muhammad Saw untuk bersholawat bersama.

Tahun ini benar-benar menjadi ‘Aamu-l-huzni bagi kita Jamaah Maiyah. Setelah kepergian Syeikh Nursamad Kamba beberapa waktu lalu, kini kita juga harus melepas Bunda Cammana ke haribaan Ilahi rabbi.

Bunda Cammana tidak membutuhkan akun Instagram, Bunda Cammana tidak menjadi vlogger di Youtube, Bunda Cammana juga tidak masuk dalam daftar trending topic di Twitter. Tapi hari ini, Bunda Cammana viral di langit.

Sampai jumpa lagi, Bunda Cammana.
Salama’ pellambamu Mamak Cammana,
Andiang sawa’ sitai tau di allo manini.

Buku dan Merchandise