Pembaca Setia Sabana Menyambut Edisi Terbaru Sabana

Sebagaimana telah diagendakan rutin setiap tanggal 5, tadi malam (Minggu, 5 Januari 2020) berlangsung forum diskusi Sastra Liman di Rumah Maiyah Kadipiro dan kali ini adalah giliran Sastra Liman me-launching edisi baru Sabana No. 11 yang bertema besar Mengangkat Nilai-nilai Lokal ke dalam Karya Sastra. Sejak pukul 19.00, para pembaca setia Sabana khususnya, para penulis Sabana, dan para hadirin dari berbagai kalangan telah datang, mengisi daftar kehadiran, dan membeli Sabana terbaru.

Selain menyuguhkan pembacaan puisi, Sastra Liman tadi malam menggelar diskusi bersama sejumlah narasumber yaitu Mbah Nun, Prof. Suwardi Endraswara, Iman Budhi Santosa, Budi Sarjono, Agus Wahyudi, dan beberapa pembicara lain. Merespons topik kearifan lokal ini, Mbah Nun mengatakan bahwa di satu sisi mencuatnya seruan kepada kearifan lokak ini seperti menggambarkan bahwa kita ini dipimpin oleh angin lesus yang tidak kita pahami dan kita disuruh jadi ekornya. Dulu kita lokal, lalu diminta jadi nasional, lalu disuruh jadi global, dan kini disuruh balik ke lokal lagi. Seakan-akan kita ini adalah masyarakat yang kecelik.

Namun demikian, di sisi lain, Mbah Nun mengatakan bahwa tema kearifan lokal yang diangkat Sabana ini hendaknya menjadi jalan untuk muhasabah, melakukan suluk, melakukan perjalanan masing-masing ke dalam diri dengan pedoman ‘membaca ayat-ayat yang tidak difirmankan.” Dengan jalan ini renungan tentang kearifan lokal ini dapat menjadi tarekat untuk mencari hakikat-hakiat yang kemudian ditandangkan sebagai syariat dalam hidup bersama.

Sejalan dengan itu, dalam sambutan pembuka, pemimpin redaksi Sabana, Iman Budhi Santosa, menyampaikan bahwa salah satu konteks diangkatnya tema kearifan lokal ini adalah karena selama ini antar etnis atau antar daerah kondisinya seperti pepatah yang mengatakan Duduk Sama Rendah Berdiri Sama Tinggi. Artinya, selama ini kita sudah dalam posisi setara satu sama lain di antara daerah-daerah, namun belum saling belajar dan belum saling menyelami, padahal di dalam pengenalan serta penyelaman tersebut akan diperoleh mutiara-mutiara kearifan yang sangat ragam dan berharga bagi hidup berkebangsaan kita. (Helmi Mustofa)

Buku Lockdown 309 Tahun