Pelajaran “Ushuluddin” Syaikh Kamba

Menjadi mahasiswa Fakultas Ushuluddin kadangkala suka dapat pertanyaan yang kurang asik, “Mau jadi apa sih lulus dari Ushuluddin nanti?”, “Emang bisa kerja nanti?”, dan pertanyaan lain yang mengesankan kurang cerahnya masa depan lulusan fakultas ini.

Tak terkecuali hal yang kurang labih sama juga pernah dialami Syaikh Nursamad Kamba. Ini diceritakan Mbak Fatin, istri beliau. Ketika masih menjadi mahasiswa di Al Azhar, suatu saat Syaikh Kamba ada perlu mengurus sebuah dokumen di KBRI di Kairo. Saat berada di KBRI itu, seorang petugas menunjukkan sikap agak memandang sebelah mata tatkala mengetahui Syaikh Kamba adalah mahasiswa Fakultas Ushuluddin.

Meski pernah mendapat suasana yang kurang enak itu, tetapi Syaikh Nursamad Kamba malah tidak hanya menamatkan jenjang S1 di fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar tersebut, tetapi juga S2 dan S3-nya sekaligus dan lulus dalam waktu yang terbilang cepat.

Konon kebanyakan mahasiswa Indonesia yang mengambil kuliah S1 di Al Azhar tidak berani meneruskan ke jenjang berikutnya (S2) di sana, karena lebih berat studinya dan lama studinya sekitar empat tahun. Lebih lama dari umumnya studi S2 di negara-negara lain. Maka, sebagian memilih kembali ke Indonesia untuk melanjutkan S2 di Indonesia atau pindah ke negara Timur Tengah lainnya, atau ke Pakistan dan Malaysia.

Tetapi tidak bagi Syeikh Nursamad Kamba. Tekadnya bulat, pendiriannya teguh, dan semangatnya tinggi. Beliau tetap memilih melanjutkan studinya di sana. Mbak Fatin masih ingat, ketika kuliah di Universitas Al Azhar itu, jika sedang menulis sebuah jurnal, maka Syeikh Kamba tidak bisa diganggu.

Alhasil, Syaikh Nursamad Kamba mampu menyelesaikan studi S1, S2, dan S3 tepat waktu di universitas Al-Azhar tersebut. Uniknya, kalau mau bicara soal pekerjaan, hal yang menjadi sasaran pertanyaan kepada mahasiswa Ushuluddin, sekian tahun kemudian, Syaikh Nursamad Kamba malah mendapat kepercayaan untuk menjabat sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan di KBRI di Kairo. Tempat di mana dulu beliau mengalami dipandang sebelah mata karena berlatar belakang sebagai mahasiswa Ushuluddin.

Malahan tidak hanya itu, setelah menjabat Atase Dikbu di KBRI di Kairo, beliau kemudian diamanahi tugas dan kepercayaan sebagai Atase Haji di KBRI di Jeddah.

Ketika menjadi Atase Haji itu, jauh dari sekadar dorongan menikmati pekerjaan dan posisi yang bagus, Syaikh Kamba justru menorehkan gebrakan atau terobosan dalam pengelolaan pelaksanaan Ibadah Haji bagi Jamaah Haji asal Indonesia.

Untuk melakukan terobosan itu, bisa ditebak, godaan banyak berdatangan. Kata Mbak Fatin, pernah ada seseorang yang nekad ingin memberi gratifikasi kepada Syeikh Nursamad Kamba agar meloloskan suatu urusan yang berkaitan dengan pelaksanaan Ibadah Haji.

Tapi, tidak semudah itu menggoyahkan pendirian Syaikh Nursamad Kamba. Tas yang mungkin isinya uang gratifikasi dilemparkan oleh Syaikh Kamba sembari mempersilakan si pembawa tas itu segera pergi dari rumah.

Bagi Syaikh Nursamad Kamba, itu bukan sekadar perkara pertaruhan harga diri dan kredibilitasnya, tetapi jauh lebih dari itu, ini adalah soal amanah yang sedang diembannya.

Dengan laku yang demikian itu, rasanya Syaikh sedang memberi pelajaran kepada kita tentang salah satu yang hakiki dari “Ushuluddin”, yaitu akhlak dan moralitas yang tangguh dan teruji. Hal yang justru jarang dijadikan fokus pertanyaan baik kepada mahasiswa Ushuluddin maupun di luar Ushuluddin. Sementara, dari pemikiran yang disampaikan Syaikh Kamba kita tahu bahwa akhlak adalah sesuatu yang pokok alias ushuli dalam risalah agama (diin) yang dibawa Nabi Muhammad Saw.

Buku dan Merchandise