Majelis Ilmu Padhangmbulan Jombang, Sabtu, 8 Februari 2020

Padhangmbulan Mengilmui Pentingnya Objektif Mengenali Diri

Ada yang spesial dengan Menturo kali ini (08/02/2020). Selain pengajian Padhangmbulan, sore harinya, di Menturo juga berlangsung akad nikah putri pertama Cak Dil, Mbak Rusyda Aisyati Amrullah dengan Mas Zeith Muda Arliansyah. Menturo punya ‘gawe’.

Selain itu, hadir juga pegawai BPS (Badan Pusat Statistika). Pihak BPS turut mensosialisasikan program pemerintah, Sensus Penduduk Online yang akan mulai dilakukan tanggal 15 Februari mendatang.

Sensus dan Ayat Statistik

Kenapa sensus itu diperlukan? Pihak BPS menjelaskan beberapa manfaat dan pentingnya data. Dengan dilakukan sensus, pemerintah akan mendapatkan data-data penduduk Indonesia. Dari data-data ini, pemerintah mempunyai gambaran keadaan penduduk Indonesia. Harapannya, dari sini dapat digunakan untuk perencanaan dan pengambilan keputusan.

Secara sederhana, beliau dari BPS mencontohkan seandainya di Padhangmbulan didata berapa rata-rata jamaah putra yang hadir, berapa jamaah putri yang hadir, mana yang lebih dominan, sehingga data yang diperoleh dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan di dalam pengajian Padhangmbulan itu sendiri. 

Positifnya untuk para jomblo, dari sensus penduduk ini akan diketahui berapa jumlah janda dan perempuan yang belum menikah di suatu daerah. Seorang ibu perwakilan BPS turut menambahkan disambut derai tawa jamaah.

Tapi yang penting buat dicatat adalah narasumber dari BPS ini sempat menyebutkan ayat Al Quran, inna kulla syai-in kholaqnahu biqadarin,  yang artinya bahwa segala sesuatu sudah diciptakan Alah dengan memiliki ukuran-ukuran, dan inilah sebenarnya kemudian yang dapat dikaitkan sebagai filsafat statistik.

Tamu Mantan Menteri Agama

Pada Padhangmbulan tadi malam hadir pula Pak Lukman Hakim Saifuddin, mantan Menteri Agama RI periode lalu. Beliau bersama Mbah Nun baru saja menghadiri tahlilan dan peringatan 7 hari wafatnya Gus Sholah di Pesantren Tebuireng Jombang. Pak Lukman menyampaikan rasa bahagianya bisa turut menghadiri Padhangmbulan. “Saya baru saja duduk di sini tadi sudah mendapatkan banyak ilmu yang belum tentu saya dapatkan di tempat lain,” tegasnya.

Pada kesempatan ini, Mbah Nun meminta Pak Lukman untuk menceritakan beberapa pengalaman beliau selama menjabat sebagai Menteri Agama. Tentu banyak pengalaman yang didapatkan beliau. Hanya saja, yang beliau garis bawahi adalah masyarakat kita masih perlu belajar kearifan dalam beragama. Mana yang perlu ‘ditampakkan’, dan mana yang perlu ‘disembunyikan’. “Mari beragama secara damai, penuh kedamaian, memanusiakan manusia.”

Untuk tadabbur Al-Qur’an, malam itu Cak Fuad membacakan QS. Al-Ma’un. Pada surat tersebut disebutkan bahwa celakalah orang yang lalai terhadap shalatnya, yang berbuat riya’. Cak Fuad menyebutkan bahaya riya’. “Shalat tapi riya’, shalat tapi dipamer-pamerkan. Riya’ itu syirik kecil. Saking bahayanya riya’,” Cak Fuad menceritakan bahwa Kanjeng Nabi Muhammad Saw. pernah menganalogikannya dengan sesuatu yang lebih berbahaya daripada Dajjal. “Sesuatu yang lebih berbahaya daripada Dajjal adalah riya’.”

Kyai Muzammil menambahkan, Allah tidak menyukai kepura-puraan. “Allah itu kalau kita terus terang tidak akan marah. Keterusterangan kepada Allah akan membuat Allah senang dan terharu. Sementara, sekarang ini orang mengaku baik, tapi sebenarnya dia tidak baik. Lha ini yang disebut maghdhubi ‘alaihim.”

Menanggapi pernyataan Kyai Muzammil, Mbah Nun ikut menambahkan dengan kisah seorang Bapak yang menyuruh anaknya mencari orang yang paling buruk di dunia ini. Anak yang satu lekas bergegas ke luar, sementara yang satu malah tidur dan tidak mau mencari. “Buat apa mencari, lhawong yang paling buruk di dunia ini adalah aku sendiri,” jawab si anak yang tidur saat ditanya kenapa tidak ikut ke luar pergi mencari. 

“Inti dari agama adalah tawadhu’, kerendahan hati.” Kata Kyai Muzammil, kita perlu belajar dari pihak BPS, menilai diri sendiri dengan lebih objektif. Dengan begitu, tidak akan ada lagi yang perlu disombongkan dari diri. (Hilwin Nisa’)

Buku Cak Nun Majalah Sabana