Ojok Rugi Pindo

Dalam bentangan usia yang dimiliki, individu manusia dapat dilihat sebagai diri yang sedang menapaki waktu menuju ujungnya, dan dalam proses itu, ia dihadapkan pada berbagai masalah, fenomena, dan pengalaman-pengalaman. Dalam hal ini,  disiplin tasawuf dan psikologi berminat dan bermaksud melihat bagaimana (dan seharusnya) individu bersikap atau merespons setiap hal yang hadir di depannya.

Lebih tepatnya, tasawuf dan psikologi menghendaki individu mampu bersikap positif terhadap peristiwa yang dihadapi. Hal-hal yang menyenangkan tidak sulit meresponsnya. Tinggal senang dan bersyukur, walaupun kadangkala bisa terjadi orang senang dan senangnya berlebihan seakan lupa bahwa rasa senang itu dapat pergi darinya.

Namun, bagaimana dengan peristiwa yang kurang menyenangkan, hal yang membuat sedih, atau kejadian yang menyesakkan dada atau menguras emosi?

***

Melayani sangat banyak orang, sedari dulu hingga kini, membuat Mbah Nun selalu terbiasa menyelami kedalaman hati orang, tetapi pada saat bersamaan harus segera keluar dari penyelaman itu karena dituntut memberikan tanggapan, masukan, dan saran atas masalah yang dihadapi orang itu.

Ruang tamu di Kadipiro, tempat-tempat Sinau Bareng rutin, atau tempat di manapun Mbah Nun berada adalah saksi dari deretan situasi yang kadang tak terduga di mana orang datang kepada Mbah Nun lalu mengemukakan masalah yang dihadapi dan minta nasihat apa yang perlu dilakukannya.

Momen-momen ngobrol dengan para sahabat atau para punggawa KiaiKanjeng kerap pula menyajikan ruang di mana Mbah Nun perlu menanggapi sesuatu yang muncul dalam pembicaraan. Tak jarang itu berlangsung di tengah obrolan santai ditemani kelakar dan tawa yang seketika untuk beberapa waktu masuk ke bahasan agak serius.

Kalau sudah sampai ke menanggapi orang yang melontarkan persoalan yang dihadapi, sangat terlihat Mbah Nun ingin mengemas saran atau prinsip yang mau disampaikan dalam bahasa atau formula yang ringkas, mudah, cespleng, gampang diingat, dan bukan yang teoretik. Sehingga sampailah Mbah Nun misalnya menemukan satu ungkapan yang perlu dicatat: Ojok Rugi Pindo. Artinya:  jangan mau rugi dua kali.

Umpamanya, kita sedang mengalami kegagalan, atau kita kehilangan peluang yang kita inginkan, atau kita tengah mengalami masalah yang berat, maka menurut Mbah Nun jangan sampai rugi pindo. Jangan sampai kita sedih berlarut sampai tak berdaya. Sudah mengalami kegagalan, kehilangan, atau tertimpa masalah masih sedih pula. Itulah yang dimaksud rugi dua kali atau rugi pindo.

Cukuplah ada masalah atau apa yang terjadi itu, sedangkan energi yang dicuri oleh kesedihan sesegera mungkin dipakai untuk hal lain yang lebih urgen, misalnya mencari jalan keluar dengan kepala dingin. Energi itu dipakai untuk melampaui situasi, agar bisa melihat masalah dari sudut yang lebih luas, sehingga pintu menuju solusi lebih terbuka. Adapun contoh masalah yang dihadapi manusia kita cukup familiar: punya banyak utang, tak kunjung mendapatkan jodoh, bisnis seret atau gagal, nggak lulus-lulus kuliah, dst. dst.

Nah, bersama formula lain yang juga genuine dari Mbah Nun, ojok rugi pindo ini adalah formula yang Mbah Nun sebut sebagai “politik kecil-kecilan”, dan politik kecil-kecilan inilah yang perlu dimiliki setiap diri demi menyiasati keadaan dan masalah-masalah yang dihadapi dalam perjalanan hidup sehari-hari.

***

Tasawuf mendorong setiap individu untuk selalu online dengan Allah dalam ahwal apapun yang dihadapinya sehingga menuntun mereka selaku berlaku baik, sementara psikologi juga berupaya memahami “jiwa” manusia yang berharap bisa menyumbangkan metode-metode yang membawa manusia bersikap positif dan konstruktif.

Suasana obrolan atau interaksi Mbah Nun dengan para sahabat atau anak-cucu Jamaah Maiyah, khususnya pada saat terjadi momen di mana Mbah Nun diminta memberikan nasihat dan saran-saran atas masalah yang dihadapi mereka, dari sudut ini terlihat sebagai berdimensi dan beratmosfer tasawuf dan psikologis.  Berdimensi tasawuf tidak dalam arti berbangunan atau bermetode tarekat formal, melainkan terhadap pengalaman dan masalah-masalah sehari-hari selalu terdapat upaya dari mereka untuk bersikap positif dan konstruktif, dan di situ Mbah Nun berposisi sebagai orang yang mengingatkan, mendorong, dan mempercepat proses menuju ke sana.

Secara tasawwufi dan psikologis, melalui formulasi politik kecil-kecilan itu, Mbah Nun menderek anak-cucunya untuk lebih dekat dan cepat ke pengambilan sikap yang positif dan konstruktif dalam menghadapi pergiliran ahwal dalam hidup mereka. Makin terasah mereka menghadapi situasi dengan sikap positif dan konstruktif, makin dekat mereka ke — dalam bahasa menterengnya — kematangan spiritual.

Di sinilah kita mencatat, setidaknya untuk diri kita sendiri, bahwa formulasi politik kecil-kecilan Mbah Nun sebenarnya bernilai kontribusi dalam konteks tasawuf dan psikologi, yakni bagaimana mencari formula yang sederhana dan mudah diingat dalam mendorong individu untuk senantiasa ‘ingat Allah’ yang ditandai oleh adanya memilih sikap positif dan konstruktif dalam merespons apa saja yang mereka alami, khususnya hal-hal yang yang secara psikologis umumnya berat dihadapi atau disangga.

Demikianlah salah satu politik kecil-kecilan dari Mbah Nun yang bisa kita catat kali ini.

Yogyakarta, 9 Mei 2020

Buku Lockdown 309 Tahun