“Nyangoni slamet. Sing ngati-ati…”

Image by masbet christianto from Pixabay

Ketika siapa pun pamit akan bepergian, orang Jawa tradisional yang lebih tua sering berpesan: “Nyangoni slamet. Sing ngati-ati…” Namun, ucapan sing ngati-ati tersebut seperti belum berakhir dengan titik, atau sudah final, hingga kesannya seakan masih mengambang.

Memang benar. Pesan tersebut memang belum selesai. Dalam tradisi Jawa, si penerima pesan silakan mencari, menemukan, dan menambah sendiri kelanjutannya sesuai kasunyatan yang dialami.

Alhamdulillah, dalam perjalanan njajah désa milang kori sekian puluh tahun lalu di lereng gunung Lawu, saya ketemu dengan seorang pemikat burung perkutut (Geopelia striata) yang mengaku namanya Suta Kutut. Rumahnya di Dukuh Ngancar, selatan telaga Pasir, Sarangan. Tanpa diduga dalam rembug santai di tepi telaga ia berkenan memberi seserepan, mbèbèr dan njlèntrèhaké kelanjutan ungkapan nasihat tadi. Sehingga lengkapnya berbunyi: “Nyangoni slamet. Sing ngati-ati… Jalaran kesandhung ing rata, kebentus ing tawang, dalané orang mung siji. Bener durung mesthi pener, salah durung mesthi kalah, becik bisa kuwalik.” Sebelum berpisah ia masih menambahkan: “Sedaya atur kula wau sumangga punpenggalih kanthi lebet, Mas. Jalaran kula namung titah sawantah. Ingkang leres lan pantes sumangga punbundheli, ingkang kirang trep pundadosaken sesuluh ing margi…

Bertahun-tahun saya ngoncèki pesan Pak Suta tadi sambil mempelajari ribuan peribahasa Nusantara lainnya. Beberapa kesimpulan yang bisa saya sampaikan dalam catatan mirunggan kali ini, antara lain:

  1. Ucapan awal yang disampaikan adalah nyangoni slamet.
    • Sebuah pernyataan tulus bahwa yang bersangkutan mendoakan keselamatan bagi yang akan bepergian. Prinsipnya, semoga perjalanannya selamat. Tidak mengalami, menemui, atau terjadi gangguan dan hambatan (ruwet rèntèng, rubéda, reridhu, pepalang, sambékala) yang berarti, sejak berangkat sampai tempat tujuan.
    • Mengapa hanya nyangoni slamet, bukan nyangoni dhuwit atau donya brana lain? Kemungkinan alasannya: 1) orang yang pamit akan bepergian umumnya sudah menyiapkan bekal keduniawian cukup, 2) maka yang perlu ditambah adalah doa keselamatan.
    • Mengapa selamat atau keselamatan menjadi orientasi demikian penting bagi orang Jawa? Karena dengan memiliki keselamatan lahir batinlah manusia dapat melanjutkan dan menata proses kehidupannya di dunia (nata urip, nata laku, dan nata uni).
    • Persoalannya, siapa pun dan kapan pun, gara-gara terlampau bersemangat mewujudkan cita-cita atau harapan yang diidamkan kadang jadi terlampau bernafsu sehingga mengabaikan (melupakan) keselamatan diri, keluarga, maupun orang lain. Karena itulah pesan nyangoni slamet diutamakan agar yang bersangkutan benar-benar selalu ingat dalam menjaga keselamatan dirinya lahir batin dalam perjalanan.
  1. Sebagai kelanjutan dari pesan nyangoni slamet, adalah sing ngati-ati.
    • Berhati-hati atau ngati-ati adalah cara mewujudkan keselamatan yang dimaksud. Maka, segala sesuatu sebaiknya dipikir kanthi wening, tlesih, setiti-permati, dilebokné menyang ati. Maksudnya, jangan melakukan segala sesuatu dengan serampangan asal bertindak (waton tumindak).
    • Di sini sikap hati-hati perlu dijaga karena kahanan dalam perjalanan tidak bisa diramalkan pasti. Apa yang bakal terjadi, dan bagaimana mengatasinya hampir tak bisa diprediksi. Terlebih karena rubéda yang terjadi dapat disebabkan oleh: 1) laku perbuatan pribadi (internal), 2) kejadian yang berasal dari luar diri pribadi (eksternal), 3) perpaduan keduanya.
  1. Kehati-hatian dalam menjaga laku perbuatan sendiri (internal) dinyatakan pada pesan selanjutnya: jalaran kesandhung ing rata, kebentus ing tawang, dalané orang mung siji.
    • Dalam menyikapi kahanan, kaitannya agar diri kita selamat, perilaku pribadi perlu dijaga. Minimal menjaga jangan sampai kesandhung di tempat rata. Bagaimana di tempat rata bisa kesandhung, ternyata karena kesandhung langkah kaki sendiri. Artinya, kurang hati-hati dalam melangkah (bertindak). Ibarat dua kaki yang seharusnya melangkah bergantian justru saling bertabrakan (berubah jadi batu sandungan).
    • Kemudian, bagaimana kepala atau dahi bisa kebentus ing tawang (terbentur langit)? Ungkapan ini merupakan simbolisasi terlampau tingginya cita-cita atau harapan yang didambakan sehingga sulit dicapai (diwujudkan), dan malah mengakibatkan benturan-benturan dalam kehidupan.
  1. Sedangkan kehati-hatian dalam menjaga kahanan terhadap gangguan yang berasal dari luar (eksternal) dinyatakan lewat pesan: bener durung mesthi pener, salah durung mesthi kalah, becik bisa kuwalik.
    • Dalam kehidupan sosial (patembayatan), pemikiran, pemahaman, perasaan serta sikap pendapat setiap orang bisa berbeda-beda (sangat beragam). Seperti dinyatakan dalam ungkapan: séjé silit séjé anggit. Maka, siapa pun harus hati-hati dalam berbuat. Karena bisa saja menurut dirinya benar, tapi menurut orang lain tidak benar, lantaran kurang pas (tepat) dengan yang dituju.
    • Walaupun kita benar-benar tidak melakukan kesalahan, dan yang berbuat salah justru orang lain, seyogyanya tetap hati-hati. Karena dalam berebut benar tersebut, pihak lain mampu mengandalkan “kekuatan” lain untuk membenarkan dirinya, sehingga kita yang benar harus dikalahkan.
    • Walaupun lahir batin kita sungguh-sungguh melakukan perbuatan baik kepada orang lain, namun bisa saja yang bersangkutan justru merasa tersinggung sehingga perbuatan baik kita dianggap menghina atau menyakiti dirinya.
  1. Akhir kata: sedaya wau sumangga punpenggalih lebet. Jalaran kula namung titah sawantah. Ingkang leres lan pantes sumangga punbundheli, ingkang kirang trep pundadosaken sesuluh ing margi…
    • Akhirnya, menurut Pak Suta Kutut: sedaya wau sumangga punpenggalih lebet. Semua diserahkan pada kita. Hanya saja, dia mengingatkan, sebagaimana pandangan keilmuan modern, nasihat itu perlu dilakukan penalaran atau pemikiran yang tertib, logis, kritis, analitis, dialektis, sebelum digunakan secara pribadi.
    • Dengan rendah hati dia menyatakan: jalaran kula namung titah sawantah. Maknanya, sebagai manusia ia menyadari jika memiliki keterbatasan, kekurangan dan kelebihan, lebih banyak yang tidak tahu dari yang diketahui. Bisa jadi yang disampaikan tadi benar, namun tentu banyak juga kekurangannya.
    • Puncaknya ia menyarankan: ingkang leres lan pantes sumangga punbundheli, ingkang kirang trep pundadosaken sesuluh ing margi. Intinya, segala pesan tadi jangan ditelan mentah-mentah. Harus disesuaikan lebih dulu dengan kahanan yang ada, kemampuan diri pribadi, serta tujuan yang hendak dicapai. Mana yang pas (tepat) silakan digunakan seperlunya, mana yang kurang pas jadikan saja semacam “rambu-rambu” dalam menyikapi situasi kondisi kekinian.
Buku dan Merchandise