Niteni Awake Dewek

Malam ini akan berlangsung Majelis Ilmu Juguran Syafaat edisi Januari 2020. Pada momen ini, ada baiknya kami mengingat kembali satu di antara sekian hal yang menjadi bagian dari proses perjalanan Juguran Syafaat, yaitu: tema. Tema Juguran Syafaat sejak awal adalah tema sehari-hari. Tema-tema lain kami bahas pada Reboan, sebuah lingkaran kecil kami sebelum Majelis Juguran Syafaat yang besar, melalui perenungan, saling melempar tanya, berdebat, berdiskusi dan tentunya ngopi ngudud bersama-sama.

Beragam tema Juguran Syafaat juga berasal dari problema kami masing-masing. Pernah kami membahas Komunikasi Urat Leher, karena pada saat itu kami intens dengan pemerintah daerah yang di mana kami coba mempengaruhi beberapa kebijakan publik di daerah kami. Pernah juga tema Manajemen Berkah di mana onsepsi distribusi rezeki dan pola atur keuangan pribadi menjadi sumber inspirasinya. Atau pernah juga Tema Resolusi Ilusi, sebagai pembuka awal tahun 2019 di mana kita sibuk mempersiapkan resolusi, tapi tetap saja hanya menjadi kata yang terangkai tanpa rencana aksi yang jelas.

Setiap orang memiliki permasalahan sendiri-sendiri. Asmara yang melanda di akhir usia. Manajemen waktu antara dunia dan akhirat, antara ekonomi dan sosial. Rejeki yang tidak stabil. Pengambilan keputusan hidup yang serba salah. Ketidakjernihan menerima informasi. Manajemen diri yang berantakan.

Pun mengenai kesuksesan. Ada sahabat saya, yang sedang merasa berhasil mendekati wanita dan itu baginya adalah kesuksesan besar. Atau di beberapa kawan, bisa jalan-jalan di luar negeri sebagai pencapaian kesuksesan. Tapi mungkin bagi sebagian orang, kesuksesan itu biasa saja. Atau bahkan sudah lama diperoleh dengan mudah oleh orang lain.

Kewajban kita sebagai manusia adalah niteni. Sebagai orang yang mulai mempelajari konsep kehidupan, tentunya kita sedikit paham dengan cakra manggilingan yaitu apan kita berada di atas, atau kapan kita berada di bawah. Sukses dan problem itu hal biasa. Seperti roda yang harus berputar. Semua akan dan pasti mengalamainya.

Juguran Syafaat mencoba mengupas bahwa masing-masing diri kira mempunyai program belajar dari Tuhan sendiri-sendiri. Dan kita wajib untuk niteni.

Tidak perlu membanding-bandingkan. “Sesama murid dilarang mengisi rapor temannya,” kata Mas Sabrang.

Buku Lockdown 309 Tahun Buku Lockdown 309 Tahun