Nikmat, Sehat, dan Berharap Kepada Allahu Ahad

Image by Albin Biju from Pexels

Di masa pandemi seperti ini, bisa dikatakan nikmat yang paling nikmat ialah bernama sehat. Baik kesehatan ragawi, pikiran, dan juga hati. Meski roda ekonomi terlilit, usaha kembang kempis, penghasilan anjlok, hingga harus banting haluan kerja, asal badan jiwa ini sehat, maka itu sangat layak untuk disyukuri.

La’in syakartum la ‘aziidannakum. “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku (Tuhan) akan menambah nikmat kepadamu”. (QS: Ibrahim ayat 7). Semoga kita semua termasuk hamba yang pandai bersyukur.

Perihal kesehatan, dalam tradisi keluarga kami (orang Jawa dan desa) alhamdulillah tidak ada riwayat yang mengidap suatu penyakit parah atau ganas. Paling pol, kami sebatas mengalami demam, flu, batuk, dan pilek. Obatnya pun sederhana. Bukan obat-obat kemasan yang dijual di warung. Melainkan cukup kerokan, banyak minum air putih anget, atau minum wedang jahe panas. InsyaAllah esok hari segar kembali.

Sebagai orang Jawa tulen, jika ada anggota keluarga kami yang sakit, kami memang tidak lantas mengkonsumsi obat-obatan kimia. Juga tidak langsung periksa ke dokter atau rumah sakit. Bukan berarti kami anti dokter dan rumah sakit! Tetapi para sesepuh (mbah-mbah) kita dulu telah membekali ilmu titen. Yakni dengan niteni (menganalisis berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya) gejala penyakitnya, kemudian dicarikan ramuan penawarnya. Bisa dari item benda cair/padat, dan juga tetumbuhan yang ada di sekitar rumah.

Misal, badan panas atau gemreges, maka penawarnya adalah bawang merah (brambang) ditumbuk halus kemudian dioleskan rata ke sekujur tubuh, leher, dan ubun-ubun. Jika BAB terus menerus alias maaf mencret, bisa makan daun jambu biji, atau di-deplok (tumbuk halus) lalu dicampur air putih hangat dan diminum. Kalau jatuh keseleo, cukup diurut kemudian bagian yang terkilir dibaluri beras dan garam yang terlebih dulu telah dikunyah (pamah) lembut. Kalau perut sebah dan susah buang angin (kentut) minum air kunir asem. Pilek, hidung meler, diblebeg wedang jahe panas InsyaAllah mampet dan manjur. Dan lain sebagainya.

Hal tersebut selaras dengan yang dituturkan oleh Romo Iman Budi Santosa dalam Tetes, Jamu Lambang Kedekatan dengan Tumbuhan.

Lebih empiris lagi kedekatan orang Jawa dengan tuwuhan tampak nyata dalam dunia obat-obatan (jamu). Hampir keseluruhan obat tradisional di Jawa menggunakan khasiat tumbuhan, dan sedikit saja yang diambil dari dunia fauna.

Karena itulah yang disebut empon-empon (temu lawak, temu giring, jahe, kunir, kencur) banyak ditanam di setiap pekarangan. Jika bayi panas cukup ditapeli daun dadap serep. Untuk obat sakit gigi menggunakan getah pohon kemboja. Luka tersayat pisau diolesi getah piri-balsem. Sakit perut makan pucuk daun jambu biji. Batuk minum rendaman sirih.”

Darinya kita bisa memaknai, bahwa Tuhan Sang Pencipta Alam sejatinya telah menyediakan segala yang dibutuhkan bagi kehidupan dan penghidupan manusia. Salah satunya lewat peran dan manfaat tetumbuhan. Selain dimakan (bayam, kangkung, sawi, dll), nyatanya tumbuhan juga berfungsi sebagai jamu, obat dan penawar banyak macam penyakit (jahe, temulawak, kunir, daun jambu biji, dll).

Dengan kata lain, setiap lhoro ono tombo (setiap penyakit ada obatnya). Setiap kesulitan dibarengi kemudahan. Dan dalam gelap gulita selalu menyiratkan secercah cahaya. Hal demikian senafas dengan ayat Tuhan, Fa inna ma’al ‘usri yusroo, inna ma’al usri yusroo (Al Insyirah ayat 5-6).

***

Kita tahu, sampai detik ini pandemi belum jua reda. Parahnya, pemerintah malah memperkeruh suasana dengan mensahkan RUU Omnibus Law Cipta Kerja. Sontak, gelombang besar massa (mahasiswa & kaum buruh) pun turun ke jalan. Bergerak dan menggugat.

Wakil rakyat yang seharusnya menjadi pengayom dan penyambung aspirasi rakyat justru berlaku culas, menggilas, dan menindas harga diri rakyat.

Jika pandemi Covid-19 serta bobroknya birokrasi pemerintah adalah “penyakit”, kita berharap semoga dan pasti ada “obat”nya. Apa? Yang paling sederhana yakni kita jangan sampai tertular “penyakit”, dan ikut-ikutan “sakit”.

Pikiran, badan, dan jiwa harus tetap sehat. Waras. Sebab dalam kondisi kacau balau seperti ini, yang paling utama sekaligus nikmat paling nikmat adalah sehat. Sehat lahir-batin. Waras njobo-njero.

Dengan sehat kita bisa obah. Dengan obah kita bisa mamah. Kuncinya kerja keras. Optimalkan waktu. Maksimalkan usaha. Fa izaa faroghta fangshob (Al Insyirah ayat 7).

Bukan kepada pemerintah, perusahaan, undang-undang, kebijakan atau pada apapun saja nasib kita bergantung. Satu-satunya yang bisa di andalkan dan tepat menjadi tempat berharap hanyalah Allahu ahad, Allahush shomad. Tuhan Yang Maha Esa, tempat memohon segala. Wa ilaa robbika farghob (Al Insyirah ayat 8).

Salam sehat dan waras teman-teman.
Gemolong, 12 Oktober 2020

Buku dan Merchandise