Mukadimah Milad 3 Tahun Poci Maiyah

Ngrumat

Terkadang kita meracau, terkadang pula kita mengigau. Itulah perkataan dan penilaian orang-orang di luar sana. Terkadang kita merasa kesepian, terkadang kita merasa tak tentu arah menempuh tuju yang Satu. Jalan sunyi yang benar-benar sepi dengan tari-tari. Entah imajinasi ataukah halwah hati menemani. Itulah rasa-rasa di perputaran dauriah kehidupan tak bertepi. Namun tak mengapa, wa in lam takunghodlobun ‘alayyafalaubaliy. Kami malu dan sangat berendah hati di hadapan Keagungan Cinta-Nya.

Tak berani kami mengungkap siapa sejatinya kami.Tak bernekat pula kami menguak-nguak misteri. Apakah kami pecinta, pemberontak, pemimpi, penerus para nabi, ataukah bukan apa-apa sama sekali — tak menjadi su’al. Asal Ia dan Kekasih-Nya menerima sungkem dari kami, terkira tak ada yang akan lebih lezat dan manis ketimbang ini.

Kami tunduk, kami bergembira. Kami taat, kami percaya diri. Kami tiada ialah memang hanya Ia Yang Ada.

Satu-satuNya, tanpa dua, dan tiga.

Satu-satuNya, meski hidup seribu kali, tetaplah Dia, Yang Ada dan Tiada dua.

Kami berpasrah, puas, dan kami bergembira menyambut Tajalli-Nya.

Kami mencoba berpegang erat pada-Nya. Menepaki tangga-tangga kehidupan yang tiada kami mengerti ujungnya. Menikmati alunan musik yang Tuhan mainkan dalam ritme-ritme fraktal, namun beraturan. Terbentur dengan beberapa aksidensi — yang membuat diri kami harus merasakan hidup dan mati berulang-ulang kali. Namun kami tetap mencoba tenang dan menikmatinya. Sebuah rahasia indah di balik pertikaian alam semesta. Kami melihat ledakan-ledakan besar yang menciptakan kembali kehidupan, betapa estetik dan anggunnya setiap partikel yang berhamburan di angkasa. Kembali bersatu dan menciptakan dunia baru. Terlihat jelas dalam stuktur jagat kosmos kami. Seluruh benda berputar indah membentuk koreografi.

Biarpun kami sendiri melihat keindahan ini. Biarpun kami merasa sangat sunyi dan sepi untuk melihatnya sendiri, tapi kami bahagia menjadi saksi — dari keagungan-Nya, meskipun kami bagai Ashabul Kahfi yang berada dalam goa selama 309 tahun lamanya. Terasingkan dan tidak mengerti apa-apa tentang kehidupan di luar, tetapi dalam lubuk hati yang terdalam keyakinan tetap kami pegang.

لّٰـكِنَّاۡهُوَاللّٰهُرَبِّيْوَلَاۤاُشْرِكُبِرَبِّيْۤاَحَدًا

Lākinna huwallāhu rabbī wa lā usyriku birabbī aḥadā

“Tetapi aku (percaya bahwa), Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan Tuhanku dengan sesuatu pun.” (QS. Al-Kahf 18: Ayat 38)

Tetapi kami tidak tau bagaimana kami harus bercerita tentang keindahan dan keanggungan-Nya. Andaikan kami bisa mengajak orang-orang ikut mencintai Allah dan Rosul-Nya, pastilah kami bahagia mampu melihat bersama keindahan dan keagungan-Nya. Karena kami telah sadar akan kesementaraan dan ketaksubtansian segala sesuatu selain Allah (ma siwAllah) dan pandangan kami telah melihat bahwa material adalah sesuatu yang tak permanen. Suatu saat akan hancur, musnah, sirna, lenyap, dan tak tersisa di kehidupan kemudian.

Kami menjadikan Allah sebagai satu-satunya subtansi dan mencapai kehampaan-kehampaan dalam sifat dasar seluruh penciptaan semesta.

Kami telah menyaksikan (syahdah), menyatakan kepercayaan dan pengakuan kami akan keesaan Allah dan Kerosullan Nabi Muhammad, La ilahailla l-Lah Muhammadarrosulu l-Lah.

Syahdah akan menuntun manusia kesuatu keluasan (Insyirah) dari seluruh perjuangannya untuk meruwat (merawat), mempertahankan dan memelihara iman dalam dirinya. Intensifikasi iman dan pengalaman spiritual dalam Islam adalah kelapangan dada (insyirāh al-shadr) sebagaimana Allah SWT berfirman:

اَلَمْنَشْرَحْلَـكَصَدْرَكَ ۙ

Alam nasyrah laka shadraka

“Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (Muhammad)?” (QS. Al-Insyirah 94: Ayat 1)

Sehingga melalui pengalaman-pengalaman tersebut, manusia akan menjumpai suatu ruang megah dalam jiwanya. Menghentikan segala penyempitan-penyempitan yang pernah menekan jiwanya—menjadi dangkal sedangkal dangkalnya. Manusia akan terbebas dari belenggu duniawi dan mendapati langit tertinggi yang menentukan ruang di bawahnya.

Sebab Allah telah meniupkan ruh kepada setiap materi yang berpasrah kepada-Nya. Bagaikan burung yang dibuat Isya dengan tanah liat. Lalu Allah meniupkan ruh kedalamnya sehingga burung tersebut mampu mengepakan sayapnya kelangit. Begitulah jiwa orang-orang yang pasrah kepada-Nya. Tertiup ruh sehingga dia bisa hidup di alam dunia dan merasakan kegembiraan setiap kali menyadari kehadiran Allah. Manusia hidup dan diberi amanah, maka iapun harus taat dan meruwat amanah Allah dengan kelapangan di dadanya.

Allah SWT berfirman:

اِنَّاعَرَضْنَاالْاَمَانَةَعَلَىالسَّمٰوٰتِوَالْاَرْضِوَالْجِبَالِفَاَبَيْنَاَنْيَّحْمِلْنَهَاوَاَشْفَقْنَمِنْهَاوَحَمَلَهَاالْاِنْسَانُ ۗ

اِنَّهٗكَانَظَلُوْمًاجَهُوْلًا ۙ

Innaa ‘aradhnaa al-amaanata ‘alaa alssamaawaati waal-ardhi waaljibaali fa-abayna an yahmilnahaa wa-asyfaqna minhaa wahamalahaa al-insaanu innahu kaana zhaluuman jahuulaan

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.” (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 72)

Seorang pun bertanya-tanya tentang tulisan ini, “Lantas siapakah yang dimaksud kami dalam tulisan ini? kami pun ikut bertanya-tanya dan bingung tentang diri kami sendiri. Sebab kami tidak pernah mendapati kepastian siapa saja yang termasuk golongan kami dalam tulisan ini. Berapa jumlah banyak diri kami. Kami tidak tahu sama sekali dan barangkali kami tidak termasuk dalam golongan kami yang disebutkan dalam tulisan ini.”

Allah pun akhirnya menjawab Qulillāhu a’lamu bimā labiṡụ, lahụ gaibus-samāwāti wal-arḍ, abṣir bihī wa asmi’, mā lahum min dụnihī miw waliyy, wa lā yusyriku fī ḥukmihī aḥadā

“Katakanlah, Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); milik-Nya semua yang tersembunyi di langitdan di bumi. Alangkah terangpenglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tidak ada seorang pelindung pun bagimereka selain Dia, dan Dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan.” (QS. Al-Kahf 18: Ayat 26)

Lockdown 309 Tahun