Pengajian Padhangmbulan, Rabu, 2 September 2020, Menturo Sumobito Jombang

Nglakoni dan Tandang Men-taman-kan Diri

Rabu, 2 September 2020, teman-teman jamaah kembali melingkar di Majelis Ilmu Padhangmbulan. Kendati masih diliputi kewaspadaan dengan melaksanakan protokol kesehatan, hal itu tidak menghalangi jamaah Padhangmbulan duduk bersama.

Hingga bulan ini jamaah yang hadir kian bertambah banyak. Teman-teman dari luar kota, seperti Malang, Kediri, Lamongan, Surabaya menunjukkan militansi dan kesetiaannya. Dorongan mengobati rasa kangen terhadap suasana pengajian Padhangmbulan yang khas memang tak bisa dipungkiri. Kesederhanaan dan kebersahajaan Padhangmbulan sungguh ngangeni.

Bertempat di timur Ndalem kasepuhan, pengajian Padhangmbulan dimulai pukul 20.00 WIB. Teman-teman Lemud Samudro telah siap menemani jamaah hingga paripurna acara. Cak Majid mengawalinya dengan tadarus Al-Qur’an surat Al-Hasyr.

Wirid Padhangmbulan, Hasbunallah serta shalawat Mahallul Qiyam menebarkan wewangian dan getaran kehadiran Kanjeng Nabi.

Tema pengajian Padhangmbulan diberangkatkan dari tulisan Mbah Nun yang berjudul Ilmu Hutan dan Ilmu Kebun. Sebagai petugas pembuka acara saya, mengantarkan jamaah agar memiliki kuda-kuda berpikir bahwa “Ummat Maiyah sangat membutuhkan Ilmu Kebun atau Ilmu Taman. Dengan kata lain memerlukan ahli-ahli kebun atau taman”.

Alhamdulillah-nya, malam itu hadir Pak Rifai, seorang “ahli kebun” atau taman. Beliau memiliki pengalaman sebagai praktisi sekaligus pengamat yang tajam dalam dunia pertanian dan pendidikan.

Saya mengutip tulisan Mbah Nun, sekaligus mbeber kloso, untuk teman-teman jamaah Padhangmbulan: “Gerakan peradaban Maiyah perlu memulai suatu langkah yang lebih “buah”, bukan sekadar “benih”. Yang lebih kebun dan taman, tidak hutan rimba terus. Maiyah berpotensi secara nilai memimpin pergerakan menuju masa depan.”

Untuk itu, jamaah dibagi tiga kelompok pembidangan: pendidikan, pertanian, dan perekonomian. Workshop sederhana melibatkan jamaah secara langsung. Pertanyaannya, bagaimana pengalaman jamaah menebarkan “benih” nilai-nilai Maiyah dalam perkebunan atau pertamanan pendidikan, pertanian dan perekonomian?

Ruang lingkup pembahasan tidak usah terlalu luas dan lebar. Cukup skala RT, RW atau desa bahkan taman Maiyah bisa diwujudkan dalam skala keluarga. Yang penting pemikiran tersebut berangkat dari pengalaman otentik jamaah di lingkungan terdekatnya.

Sementara jamaah berdiskusi dan berbagi pengalaman di kelompoknya masing-masing, Pak Rifai menyampaikan pandangan dan pengalamannya tentang pendidikan, pertanian, dan perekonomian.

Salah satu yang ditekankan Pak Rifai adalah warisan metodologi nenek moyang mengolah tanah, menebar bibit, merawat tanaman telah dilupakan oleh anak cucu. “Mbah buyut kita bahkan meninggalkan warisan memilih jenis tanaman dan pohon yang ditanam pada wilayah datar, wilayah dengan kemiringan kurang dari tiga puluh derajat, hingga kemiringan lebih dari empat puluh lima derajat,” terang Pak Rifai.

Bukan hanya itu. Mbah buyut kita juga telah memetakan area yang boleh dijamah dan diolah dari wilayah terdekat, seperti rumah, kebun, sawah, tegalan, hutan hingga wilayah terlarang yang dikenal sebagai hutan larangan.

Semua itu dibingkai dalam kesadaran bahwa alam adalah “saudara tua” manusia. Konsepsi logika hingga detail perlakuan manusia terhadap alam senantiasa diselenggarakan secara seimbang, adil, dan ngajeni sebagai sesama makhluk Tuhan. Puncaknya adalah segala upaya bersaudara dengan alam diikat oleh tali kesadaran ngabekti kepada Sang Hyang Agung.

Malam itu, mau tidak mau, workshop “Ilmu Hutan dan Ilmu Kebun” menyebut sejumlah kata-kata lawas. Barongan, blarak, cokbakal, semut geni, pohon pring, slametan, wewegombel kembali disebut dan dijelajahi konteksnya. Kini, kosakata itu bukan hanya tidak lagi disebut—ia dianggap sumber malapetaka bagi perbuatan klenik, bid’ah, syirik dan penghambat laju modernisme.

Ilmu titen mbah buyut yang dirumuskan sebagai kearifan waskita jalaran saka niteni teronggok di sudut gelap masa lalu yang ditinggalkan oleh anak cucunya sendiri. Manusia lupa kepada dirinya, lupa kepada masa lalunya, lupa kepada akar sejarahnya. Akibatnya, manusia mengalami rabun mata memandang masa depannya.

Diskusi itu mengingatkan saya pada surat Al-Hasyr yang dibaca Cak Majid di awal acara. “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Hasyr: 18)

Kita sepakat untuk wal tandhur nafsun maa qaddamat lighodin. Namun, tidak serta merta kita memiliki akurasi memandang masa depan. Mengapa? Kita lupa kepada Allah sehingga Allah pun menjadikan kita lupa kepada diri kita. “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Al-Hasyr: 19)

Kita tidak boleh lagi berdiam diri pada maqam adl’aful iman, selemah-lemahnya iman, karena kedodoran menjaga hati, fa biqolbih. Kita juga tidak bisa mengandalkan lisan (fa bilisaanih) apalagi hal itu dipahami sebagai kemampuan berdebat atau eyel-eyelan di media sosial.

Kendati kedua hal itu bergantung pada momentum dan konteks kebutuhannya, yang harus segera kita lakukan adalah tandang, nglakoni, mengerjakan biyadih dengan tangan kemampuan kompetensi dan sebaran manfaat (anfa’uhum linnaaas).

Ilmu Kebun atau Taman adalah kesanggupan tangan kita (biyadinaa) untuk tandang mentransformasi tata nilai Ilmu Hutan menjadi sistem nilai yang berlaku di lingkungan kita pada skala atau ruang lingkup paling kecil sekalipun.

Ini tantangan kita bersama. Pilihannya adalah “Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni jannah; penghuni-penghuni jannah itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-Hasyr: 20).

Bukankah jannah yang artinya kebun adalah dambaan kita bersama, baik di kehidupan dunia maupun kelak di akhirat?

Buku dan Merchandise