Mukadimah Bangbang Wetan Edisi Agustus 2020

Nggulawentah Kepradah

Kebesaran dan keangkuhan pemikiran mainstream dan tatanan global yang selama ini dijalani manusia tetiba mengalami dekonstruksi. Tragisnya, luluh lantak sistem kehidupan itu bukan karena cairnya ribuan kubik es di kutub bumi atau karena perang dunia. Ia terpaksa bertekuk lutut oleh makhluk kecil bernama virus Corona.

Dekonstruksi itu menyapu bersih satu aspek penting kehidupan yakni jalinan interaksi tatap muka. Sosialisasi sebagai naluri dasar makhluk yang sejatinya diciptakan untuk menjadi khalifah dunia terseok-seok menemukan kembali format yang tepat di bawah bayang-bayang kematian akibat pandemi.

Demikian halnya dengan wilayah pendidikan yang berbasis pada persekolahan. Segi-segi yang mencirikan kegiatan scholarsip harus direka ulang . Kelas sebagai media desiminasi ilmu pengetahuan kian menjadi sesuatu yang indah yang teronggok di pojok ingatan dan memori.

Kita “beruntung” karena zaman telah menghadirkan persambungan antar sesama berbentuk jalinan komunikasi nir kabel. Bayangkan saja bila pandemi terjadi sebelum teknologi informasi merebak seperti saat ini. Model pembelajaran seperti apa bisa digunakan sebagai kompensasi.

Namun dari pilihan untuk menerapkan proses Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) pula lahir persoalan-persoalan baru. Jaringan nir kabel yang belum merata di banyak tempat di tanah air ditambah kepemilikan gawai beserta kelengkapan fitur dan muatan datanya membuat PJJ terkesan mewah. Struktur piramida kemampuan sosial ekonomi masyarakat yang sangat lebar di lapisan dasar menimbulkan keluhan-keluhan nyata. Seperti banyak persoalan serupa, keluhan ini hanya bergema di ruang sepi karena corong kebijakan pemerintah lebih keras dan jauh dari rasa peduli.

Berikutnya, dengan tanpa bekal pedagogi yang mencukupi, orang tua mendadak harus memainkan peran sebagai guru. Ilmu dan seni pengajaran, materi pembelajaran itu sendiri serta ruas-ruas psikologis yang menjuntai di dalam hubungan anak-orang tua adalah faktor penyulit pada proses ini.

Lebih jauh, pola pikir orang tua yang menitipkan dan menyerahkan segala urusan pengajaran dan pendidikan anak ke sekolah harus ditata ulang. Bagaimana tidak, saat ini, mereka harus menyisihkan porsi energi dan jadwal kegiatannya bagi pelaksanaan PJJ. Jam-jam yang semula digunakan untuk bebersih wisma atau mengolah boga harus dialihkan. Dengan curahan energi yang bisa jadi lebih besar, kewajiban domestik harus tetap terrselesaikan.

Reranting persoalan di sekitar kita sangat mungkin lebih berragam. Misalnya terdapat satu keluarga sederhana dengan 3 anak masih sekolah dimana ibu dan bapak mereka bekerja sebagai buruh lepas. Keterbatasan daya beli menjadikan hanya ada satu gawai untuk bertiga. Limitasi waktu dan latar belakang kesejarahan membuat tak adanya sentuhan orang tua dalam proses PJJ mereka.

Di BangBang  Wetan kali ini kita akan membahas itu semua. Model pendidikan terbaik manakah yang mesti dipilih dan jalankan oleh kementrian terkait serta tentu saja orang tua. Adakah terobosan strategi yang mungkin ditempuh agar semua bisa tetap menerima hak atas pendidikan yang sama; anak-anak di kawasan hutan dan gunung-gunung, rural atau pedalaman, hingga mereka yang menetap di kota namun tiada daya untuk memenuhi kebutuhan kuota data. Mungkinkah jawatan tertentu memberikan kursus singkat cuma-cuma kepada ora tua sehingga PJJ tidak jadi ajang adu kuat antara otoritas orang tua versus hak anak untuk bermanja-manja.

Mengambil judul dari ungkapan Jawa “anak obah bapa kepradah”, BangBang Wetan edisi Agustus menyorot gejala yang dihadapi para orang tua. Keterpaksaan karena situasi dan keadaan nenjadikan mereka tenaga pengajar bagi anak-anak. Alih-alih menambah kekayaan nalar, rasa, peran ini seolah melempar mereka hingga terjerembab dalam masalah-masalah baru. Maunya mengajar, jadinya buyar. Penginnya mendidik, malah jatuh terpelanting. Nggulawentah Kepradhah.

Mari kita diskusikan. Ayo kita perbincangkan di sini. Di “satu forum seribu podium” kita yang berharap bisa menjadi pelepas haus akan suka cita pertemuan dan toreh tajam keilmuan.

Lainnya

Transformasi Menuju Negara Desa

‘Jihad’ pun Membutuhkan Data

Corona Cave

Keluarga Mutahabbin

Sekul-ah

Buku dan Merchandise