Mukadimah Maneges Qudroh, Maret 2020

Ng-Gelombang Diri

Mayoritas manusia merasa bangga akan identitas yang melekat pada dirinya di masa-masa ini. Contoh saja, sebuah nama gelar yang melengkapi namanya baik di depan atau dibelakang. Yang bisa menunjukkan tingkatan kelas akan ilmu yang telah seseorang tempuh. Walaupun belum pasti gelar yang tersanding di namanya didapat karena telah “lulus” atau hanya sekedar formalitas ritual yang harus dijalani untuk mendapati gelar tersebut.

Entah kita ini terlalu polos atau jujur terhadap dunia. Kita sudi untuk digiring sedemikian rupa sehingga kita lupa akan hakikat kita sebagai manusia. Kita dibuat terhijab oleh segala kefanaan. Oleh gegap gemerlap kehidupan mewah dunia. Oleh kesenangan, kecemburuan, kekuasaan, gelar, pangkat, jabatan yang selalu kita kejar demi mendapatkan penghidupan yang layak.

Kita masih sering salah berprasangka karena belum mengenal diri kita sendiri. Mengapa kita disini atau mengapa aku lahir? Mengapa aku jadi manusia, bukan burung? Mengapa aku lapar, haus? Mengapa hanya aku, bukan dia, atau ia, atau mereka? Kita sering mengira bahwa dunia itu terlalu luas, padahal diri kita sebenarnya lebih besar dan luas dari dunia itu sendiri. Hanya prasangka kita yang menjadikan dunia itu terlipat-lipat.

Maka dari itu kita mesti memperhatikan dan lebih belajar untuk mengenali diri kita sendiri. Kenapa? Bukannya lebih baik kalau kita mempelajari ilmu yang untuk mencari kemajuan baik bagi diri sendiri maupun sekitar kita? Kata “Kemajuan” disini memungkinkan sebuah arti, bahwa masih ada sedikit ego yang mendorong nafsu untuk menjadikan sesuatu lebih baik. Dalam bentuk apapun yang pasti itu berkaitan dengan apa yang diluar diri kita yang nanti mungkin akan  berimbas pada lebih dikenal atau pembuktian diri.

Salah satu cara untuk mengenali diri kita sendiri ialah dengan mengetahui gelombang dimana kita berada. Gelombang disini merupakan suatu ahwal (keadaan) yang sangat mempengaruhi pemikiran kita, baik itu tentang dirinya, dunia, ataupun Tuhannya. Gelombang ini sangat menentukan arah dan tujuan seseorang. Gelombang ini terbagi dalam 3 tahap. Yang pertama merupakan gelombang terluar, paling terlihat di zaman sekarang ini. Lalu, ada gelombang pencarian, dan yang terakhir merupakan inti gelombang.

Gelombang terluar ini biasanya mencakup pandangan materialistik. Golongan yang termasuk dalam golongan ini masih terhijab oleh dunia ini. Dia lebih banyak disibukkan oleh urusan dunia, yang sejatinya tidak memiliki nilai keabadian di dalamnya. Karena semua urusan di dunia ini sebenarnya hanyalah kefanaan, hanya sendau gurau, bahkan kalau kita bisa melipat waktu hidup di dunia hanyalah “mampir ngombe kopi”.

Yang kedua merupakan gelombang pencarian. Manusia yang berada dalam gelombang ini sudah sadar akan kebutuhan ruhaninya. Mereka hidup tidak hanya untuk memberi makan jasadnya, akan tetapi ada kesadaran jika hati mereka juga perlu diberi asupan. Jika tubuh ini tidak diberi makan aja bisa kering, begitu pula dengan hati ini. Kalau hati tidak diberi makanan yang sehat, maka hatinya pun akan condong ke ketidakjelasan yang tidak memiliki manfaat dalam kebutuhan ruhaninya.

Dan yang terakhir adalah gelombang inti, yang tidak bisa dijelaskan karena begitu bijak dan arifnya manusia yang menyelam dalam gelombang ini. Manusia yang sudah zuhud pun kadang tidak bisa memahami apa yang menjadi keputusan manusia gelombang terakhir. Itulah gelombang Nur Muhammad. Semuanya sudah menjadi hakikat bagi dirinya.

Ini merupakan sebuah perjanan menurut ulama terdahulu yang bisa dijadikan acuan dalam niteni gelombang diri. Dalam perjalanan pertama hanya orang umum dan khusus aja yang bisa memahami; Perjalanandalam menapaki gelombang yang kedua, hanya orang khusus aja yang mengerti karena zuhudnya mereka. Sedangkan dalam perjalanan terakhir baik dari golongan umum maupun khusus tidak bisa memahami kedaan perjalanan ini. Karena perjalanan terakhir ini sudah masuk kedalam hakikat dan menuju makrifat. Inilah gelombang ketiga, ketika manusia akan benar-benar diuji sehingga seseorang diharap akan menemukan sebuah arti tentang hakikat hidup. Ketika seseorang tidak bersandar sama sekali kepada makhluk, kecuali hanya Sang Hayyu.

Mari kita bersama-sama belajar ‘Nggelombang Diri’, mengarungi perjalanan malam bersama-sama dalam rutinan Maneges Qudroh edisi ke-109 yang besok, 7 Maret 2020, bertempat di Panti Pesantren Daarus Sundus, Jalan Syailendra Raya, Bogowanti Lor, Borobudur, Magelang. pada pukul 20.00 WIB. Monggo….

Buku Lockdown 309 Tahun Buku Lockdown 309 Tahun