Mukadimah Kenduri Cinta edisi April 2020

Negara Dalam Sunyi

Ini tentang memberi jeda, sejenak, sesaat. Ya, Kenduri Cinta edisi April 2020 “NEGARA DALAM SUNYI”, memberi jeda sejenak kepada langit dan bumi, kepada alam semesta untuk saling memahami dan belajar, serta memaknai, sampai pada akhirnya kita siap kembali bermujahadah. Kini, biarkanlah alam membimbing dan mengajarkan kita untuk uzlah sementara waktu ke dalam ruang-ruang batin kita, mengamati kembali seluruhnya dengan lebih detail, dengan presisi yang lebih tepat dan akurat.

Kenduri Cinta edisi Maret 2020 lalu, mengangkat tema “Keluarga Mutahabbin”,  membahas mengenai keluarga yang tidak sekadar pertalian darah. Sebuah perusahaan dapat menjadi sebuah keluarga, perkumpulan fans sebuah club sepakbola dapat menjadi keluarga, alumni dari satu angkatan sekolah juga dapat menjadi keluarga. Demikian juga dalam lingkungan rukun tangga, rukun warga, desa ataupun kelurahan, kecamatan, kota ataupun kabupaten, provinsi, dan bahkan satu negara juga dapat merupakan sebuah keluarga. Tinggal bagaimana orang-orang dalam tiap-tiap rumah tangga itu menjalankan peran sebagai anggota keluarga.

Membangun keluarga tidaklah sama dengan membangun sebuah bangunan rumah. Sebuah rumah dapat selesai dibangun kemudian dijadikan tempat tinggal, namun membangun sebuah keluarga tidak pernah selesai. Perlu perjuangan terus menerus untuk memelihara kesetiaan dan menumbuhkan rasa saling percaya. Tidak cukup hanya dengan statement kata cinta, tetapi perlu proses panjang saling mencintai dan berkasih-sayang. Resepsi keluarga berlangsung tidak satu-dua hari seperti resepsi pernikahan, melainkan terus berkelanjutan meskipun berganti-ganti kepala keluarga dan bahkan sudah  beralih generasi. Keluarga akan tetap ada selagi masih ada usaha saling mengamankan, saling menentramkan, dan syukur dapat saling mensejahterakan. Karenanya layak jika disebut keluarga adalah inti dari peradaban.

Prosesi berkeluarganya negara bukanlah sekedar pesta demokrasi lima tahunan yang selesai ketika Presiden dan wakil-rakyat dilantik. Selama lima tahun menjabat, Presiden berlaku sebagai bapak dibantu jajaran pemerintahan menyelengarakan resepsi bernegara supaya rakyat dapat aman, tentram dan sejahtera. Selama lima tahun pula wakil-rakyat berlaku sebagai ibu yang menyerap aspirasi rakyat, melahirkan undang-undang dan turut menentukan anggaran belanja negara. Bolehlah resepsi itu diisi dengan hidangan pembangunan infrastruktur, sajian revolusi mental atau ornamen pemindahan ibukota negara. Namun yang perlu diutamakan adalah kebutuhan dan kepentingan rakyat. Jangan sampai memaksa utang untuk resepsi yang mewah tapi justru demi kepentingan investor. Jangan sampai pendidikan, kesehatan, ketersediaan lapangan kerja, kelestarian alam dan budaya, serta kedaulatan Negara digadaikan untuk sekedar resepsi selama lima tahun. Jangan sampai lupa bahwa kekuasaan yang sedang dimiliki adalah titipan Tuhan untuk mendistribusikan Rahmat-Nya sehingga menjadi Berkah bagi seluruh rakyat.

Seperti ada seorang ibu-ibu yang tiba-tiba teriak ‘Coro… Coro nak!!!’, sembari menghamburkan isi semangkuk mie di tengah meriah resepsi  pesta. Wabah virus Covid-19 yang muncul di Kota Wuhan menyedot seluruh perhatian umat manusia. Penyebaran yang begitu cepat mewabah keberbagai Negara hingga sampai ke Indonesia. Dikabarkan sudah jutaan orang terinfeksi dan ribuan korban jiwa berguguran di seluruh dunia. Rutinitas aktifitas peradaban seolah berhenti. Beragam reaksi pemerintahan Negara-negara mengantisipasi penyebaran wabah virus ini supaya tidak menginfeksi warganya. Dari Lockdown total atau sebatas social distancing hingga kemudian physical distancing seperti yang diterapkan oleh pemerintah Indonesia. Yang pasti untuk menghadapi keadaan yang tidak biasa ini tidak cukup hanya dengan solusi birokrasi. Kesigapan dan kebijaksanaan bapak-ibu menangani acaman terhadap anak-anaknya diperlukan dari presiden dan wakil-rakyat dalam melindungi rakyat Indonesia di saat ini.

Namun kesigapan dan kebijaksanaan permerintah  yang sedang kita perlukan belum dapat dibuktikan. Setelah sebulan masuk ke Indonesia, rakyat masih terombang-ambing oleh informasi yang tidak pasti mengenai karakteristik virus Corona ini. Sedangkan teknis penanggulangan penyebaran wabah ini terkesan sekenanya saja. Begitu ada publikasi baru dari WHO terkait anjuran penggunaan masker bagi semua orang saat keluar rumah, lantas Presiden langsung mengubah anjuran yang semula pengguna masker hanya untuk yang sakit saja, kemudian dirubah menjadi untuk semua orang. Tentu publik akan menangkap reaksi panik dan tidak siapnya pemerintah, bahkan mungkin ada yang memaklumi.

Alih-alih dibuat aman, yang terjadi justru rakyat dibuat yatim-piatu. Orang tua mereka melakukan pembiaran pada anak-anak untuk menghadapi ketidakpastian dan ancaman virus ini sendiri-sendiri. Padahal implikasi dari ketidak pastian di tengah masyarakat sangat berpotensi menimbulkan konflik horizontal. Dengan anjuran tetap dirumah saja ancaman medis penyebaran virus dapat diminimalkan, namun jika terlalu lama pasti akan ada rantai ekonomi yang putus. Bisa dibayangkan apa yang bakal terjadi jika sekumpulan anak-anak lapar tanpa ada orang tua yang mendampingi?

Tapi tidaklah perlu cemas, rakyat Indonesia bukanlah anak-anak manja yang tergantung pada orang tua.  Rakyat sudah terbiasa mandiri. Sekalipun Negara tidak memprioritaskan rakyat dalam prosesi kenegaraannya, bahkan cenderung merepotkan rakyat, namun rakyat Indonesia sampai batas tertentu tidaklah akan berontak kepada pemerintah. Bahkan dengan adanya perintah untuk tetap di rumah saja, justru menjadi kebanggaan banyak warga Negara yang selama ini berprofesi pengangguran.

Berbeda dengan edisi bulan lalu, meskipun sebenarnya pukul 19.41 WIB tanggal 13 Maret 2020 Gubernur DKI Anies Baswedan mengeluarkan edaran yang menginformasikan bahwa 17 tempat wisata dan keramaian termasuk Taman Ismail Marzuki ditutup, namun Kenduri Cinta tetap dapat berlangsung seperti biasanya di hari jumat minggu kedua waktu itu. Kenduri Cinta edisi April 2020 mengusung judul ‘Negara Dalam Sunyi’. Tentu dalam kondisi dan situasi yang tidak biasa ini, Masyarakat Maiyah Kenduri Cinta tidak akan berspekulasi dan tidak hati-hati memaksakan diri membuat kerumunan di Taman Ismail Marzuki tanggal 10 April 2020, kecuali diperintahkan oleh yang mampu mengendalikan visrus Corona.

Sekali lagi, tak ada salahnya, saatnya kita memberi jeda untuk langit dan bumi. Karena jeda itu penting dan kita butuhkan untuk mengatur dan menata kembali cara pandang kita, cara berpikir kita, keseimbangan diri kita dalam memantapkan hati sebelum memulai kembali kehidupan seperti sedia kala. Ketika manusia tak mau mengambil jeda, maka alam pun mengambil sikap untuk memaksa manusia agar jeda sejenak.

Lainnya

Pawiwahan Ageng

Keluarga Sakinah

Nungguin Anak-Istri di Gua Lockdown

Kenduri Cinta Menyambut Film Teta

Buku dan Merchandise