“Nama-nama Segala Benda” untuk Santapan Rohani

Bersama seorang kawan, minggu lalu saya ada janjian ketemu dengan Dokter Eddot, lebih tepatnya bergelar Doktor Dokter Eddot. Seseorang yang kita tahu adalah salah seorang teman dekat Mbah Nun. Pertemanan itu sendiri sudah terjalin sejak pertengahan tahun 1980. Di Maiyahan, untuk bidang kesehatan, boleh dikata beliau adalah marja’ kita.

Terbukti, Pak Eddot, begitu saya biasa memanggilnya, sering diajak ke panggung, misalnya, Mocopat Syafaat, untuk memberikan pandangan tentang berbagai hal menyangkut kesehatan mulai dari puasa, khitan, sampai yang terbaru kemarin tentang karakter individual pada kesehatan diri seorang manusia.

Namun, sebaliknya, sebagai seorang dokter yang juga akademisi kerap Pak Eddot meminta Mbah Nun bicara mengenai kesehatan dalam perspektif khas seorang Mbah Nun di hadapan insan-insan kedokteran misalnya di Fakultas Kedokteran UGM beberapa tahun lalu. Dengan kata lain, terdapat “kerjasama pertukaran” intelektual antara Mbah Nun dan Pak Eddot.

Kalau saya tak salah, Pak Eddot adalah dokter spesialis anak, dengan spesialiasi yang lebih spesialis pada penyakit tertentu anak-anak. Kalau kita lihat di akun IG-nya, sering beliau posting foto anak-anak dengan setting di ruang rumah sakit. Lebih dari sekadar menggambarkan dunia profesionalnya, malahan, foto-foto yang di-upload itu mengekspresikan betapa sayang dan cintanya beliau kepada anak-anak.

Namun Pak Eddot bukan hanya seorang dokter. Dia punya hobi fotografi dan gowes alias ngepit. Lagi-lagi kita bisa melihat jejak dua hobinya itu di akun IG-nya. Tapi mungkin ada di antara kita yang belum tahu, bahwa Pak Eddot ini dulunya adalah juga seorang penyiar radio, yaitu Radio Geronimo FM, radio beken dan ikoniknya anak muda Jogja yang terkenal dengan ‘love Jogja and You’ itu.

Tetapi di Geronimo, beliau tidak hanya sebagai penyiar, tetapi juga mengampu sebagai narasumber untuk rubrik atau program dialog/tanya-jawab kesehatan bernama Klinik 24, dari tahun 1986 hingga 2000-an. Dari dunia radio inilah, berlangsung awal mula pertemuannya dengan Mbah Nun. Ketika itu, Pak Eddot sedang mencari narasumber yang ciamik, unik, dan mengena untuk program tayangan bulan Ramadhan. “Nek zaman mbiyen istilah umum kanggo pengajian kuwi disebut santapan rohani,” kata Pak Eddot mengenang. Walaupun program acara untuk Radio Geronimo itu tidak bernama Santapan Rohani.

Akhirnya, Pak Eddot memilih Mbah Nun, yang dirasa punya gaya dan perspektif tersendiri. Seorang penyair, sastrawan, penulis, tapi punya concern dan wawasan keagamaan yang kuat. Memang tak salah Pak Eddot, dari cara produksi tayangannya (filler kalau gak salah) saja sudah berbeda. Yaitu bagaimana menentukan tema. Ternyata, caranya cukup simpel, praktis, dan tak perlu rapat penggodogan yang lama. “Wis Dot, sebuten opo wae,” pinta Mbah Nun.

Lalu Pak Eddot menyebut apa saja yang melintas di pikiran atau di depan matanya, “Rumah, motor, dinding, becak, kursi, dst. dst.” Mungkin sampai tiga puluh item. Walhasil Pak Eddot seakan seperti Nabi Adam yang sedang mengeja dan mengenal “nama-nama segala benda.” Dari setiap satu item itulah didapat satu tema. Kalau tiga puluh, genap sudah untuk satu bulan Ramadhan.

Ini tentu saja mengingatkan kita pada salah satu bentuk workshop yang dipraktikkan Mbah Nun di Sinau Bareng, seperti di Gambang Syafaat 25 Januari 2020 lalu. Beberapa jamaah diminta menyebut satu kata, lalu mereka mengurut beberapa kata di depan atau di belakang kata tersebut. Dari deretan kata yang disebut akan terlihat banyak hal. Bukan saja pola rangkaian dalam pikiran yang penyebut tentang kata kata yang disebut pertama tadi, tapi juga persoalan-persoalan yang terkait. Di situ, analisis bisa dikedepankan. Itulah metode yang disebut Mbah Nun sebagai berlatih membangun asosiasi.

Dengan cara yang sama Mbah Nun menemukan tema untuk tayangan Ramadhan Radio Geronimo itu. So, metode asosiasi ini sudah sejak lama dipraktikkan Mbah Nun untuk melakoni kebutuhan kerja dan kreativitas. Maka, semestinya kita selanjutnya menjadi ngeh jika dalam workshop Sinau Bareng metode membangun asosiasi ini dilatihkan Mbah Nun karena ada implikasi atau aplikasi praktis yang bisa dipetik. Pengalaman Pak Eddot dan Mbah Nun dalam memproduksi tayangan di Radio Geronimo itu sebagai contohnya.

Belakangan, ‘nama-nama segala benda’ yang merupakan tafsir dari ayat al-Qur’an yang menggambarkan proses Allah Swt mendidik Nabi Adam, yaitu “wa ‘allamal Adamal asma’a kullaha….” dipelajari dan diselami berbagai maknanya. Salah satunya, asma di situ tidak semata dipahami sebagai nama-nama (benda-benda) namun bermacam-macam fenomena. Bahwa Adam telah diperkenalkan oleh Allah tentang macam-macam fenomenologi dalam kehidupan.

Nah kaitannya dengan santapan rohani, dari pengalaman Pak Eddot dan Mbah Nun itu, barangkali kita bisa ambil suatu relasi bahwa kalau kita mau merenungi, mempelajari, atau mengasosiasi nama segala atau setiap subject/benda/fenomena, maka kita akan memperoleh santapan rohani yang bergizi. Wong kita dibikin menjadi lebih bertafakkur. Nggak percaya? Boleh dicoba.

Yogyakarta, 1 Februari 2020

Lockdown 309 Tahun