Nama, Keindahan, dan “Art of Religion”

Banyak anak banyak rezeki. Jangan ditolak prinsip dan keyakinan ini. Niat baik pasti akan ditolong oleh Allah.
Semarang, 25 April 2017. Foto: Adin (Dok. Progress)

Nama diyakini sebagai sebentuk doa. Sehingga,  banyak orangtua berupaya memberi nama anak-anaknya dengan nama terbaik menurut mereka. Ada hasrat, harapan, dan cita-cita yang ditanam disana. Maka jangan pernah sekali-kali meremehkan doa.

Bagi saya, nama tidak berhenti pada makna doa saja. Ada unsur penting lain yang menempel, melekat, dan terikat erat. Ialah rasa. Keindahan. Dan nilai sastrawi. Atau dalam bahasa sehari-hari kita menyebutnya seni. Ya, setiap nama mengandung seni dan doa di dalamnya.

Perihal nama, saya punya sedikit cerita.

Pada waktu itu (Agustus 2018), istri saya tengah mengandung 8 bulan. Dengan niat membuncah kami berangkat ke Kasihan untuk menghadiri pitulasan Mocopat Syafaat.

Tujuan kami ganda. Selain Maiyahan, kami hendak memohon doa cum hadiah nama dari Mbah Nun untuk si calon jabang bayi.

Alhamdulillah, niat itu tunai. Kami kepanggih Mbah Nun. Beliau sejenak memejamkan mata dan berdoa, “Bismillah, bismillah, bismillah, semoga sehat barokah,” ucap beliau. Bahkan kami mendapat bonus dari mas Sabrang yang saat itu berkenan pula ikut mendoakan sang calon buah hati kami.

Selepas itu, Mas Alay menemui saya dan berkata. “Mas, ini tak kasih nomornya Mas Gandhie. Perihal nama dari Simbah untuk anak Sampeyan, silakan hubungi langsung Mas Gandhie,” urai Mas Alay. Singkat, cepat, padat.

Hari yang mendebarkan itu tiba. Karena tensi tinggi, Dokter menyarankan istri saya untuk dioperasi. Saya sepakat. Yang penting baby dan ibunya selamat.

Dengan perasaan super tegang di depan ruang operasi, saya mengirim pesan singkat ke Mas Gandhie. “Mas, istri saya saat ini sedang operasi untuk melahirkan. Mohon doanya, semoga lancar,” tulis saya.

“Kalau sudah lahir kabari lagi. Tolong tulis nama ayah-ibu, jenis kelamin, tanggal, hari, dan waktu si jabang bayi lahir”. Demikian balasan pesan Mas Gandhie.

Alhamdulillah, tepat pukul 20.46 WIB (Sabtu Wage, 1 September 2018) bayi cowok mungil itu lahir dengan tangisan lantang. Saya menyambutnya dengan sujud syukur, dan seruan Allahu Akbar. Welcome to the world my son.

Segera kabar gembira itu saya sampaikan ke orang tua, teman-teman, dan tak lupa Mas Gandhie tentunya.

Esoknya sekitar pukul 9 pagi, saat sedang menyuapi istri, ponsel saya berbunyi. Satu pesan masuk atas nama Mas Gandhie. Kira-kira redaksi kalimatnya begini. Mbah Nun: KUMUDANI YASSARALLAH (huruf kapital semua). Kumudani (orang terpuji, Jawa), Yassarallah (yang dimudahkan Allah, Arab).

Dengan semringah, pesan dari Mas Gandhie saya tunjukkan kepada istri. “Bagus bang, sampaikan rasa terima kasih kepada Mbah Nun,” ucapnya lirih sambil tersenyum.

***

Jika nama adalah sebuah doa, maka Mbah Nun telah berupaya mendoakan anak saya menjadi orang yang terpuji dan hidupnya dimudahkan Allah (Kumudani Yassarallah). Selain maknanya baik, menurut saya nama tersebut juga bercita rasa seni. Unik, dan otentik. Sebuah nama baru yang sebelum-sebelumnya belum pernah saya dengar/ temukan. Mungkin itu satu-satunya, dan bisa jadi tak ada yang menyamai.

Saya bersyukur karena nama tersebut selaras dengan harapan kami (saya dan istri) yang menginginkan nama anak terdapat unsur Jawa dan Arab-nya. Jawa digawa, Arab digarab. Bersyukurnya lagi, nama yang dihadiahkan Mbah Nun sangat pas, cocok, related dengan kepribadian anak saya, dan hal-hal yang menyertai di setiap tahap tumbuh kembangnya.

***

Pertanyaan yang menggelitik, bagaimana proses kreatif Mbah Nun mengolah data sampai pada merumuskan sebuah nama? Rasanya, proses tersebut lebih bersifat ruhiah. Pekerjaan non inderawi. Saya menyebutnya sebagai dialektika spiritual.

Artinya Mbah Nun menempuh semacam “komunikasi batin”. Yang lebih dominan di sini adalah intuisi. Bisikan hati. Dalam perspektif Mbah Nun disebut “Art of Religion”.

Mbah Nun menuturkan, “kalau orang memahami hubungannya dengan Tuhan adalah hubungan cinta, maka fakta batin itu lebih dekat ke “seni” dibanding “ilmu”. Agama itu lebih merupakan “art” dibanding “science”. Apalagi Allah menegaskan “wama utitum minal ‘ilmi illa qalila” (Al Isra’ 85). Tidaklah Aku menganugerahkan ilmu (kepada manusia) kecuali hanya sedikit saja.” (Tetes “Art of Religion”, ataukah “Science of Religion”).

Di situlah, dari Tetes Mbah Nun yang saya kutip itu, saya merasa mendapatkan perspektif bahwa dalam proses Mbah Nun memberikan nama yang berlangsung pada proses tersebut lebih merupakan “seni” berinteraksi dengan-Nya.

Tak heran kiranya jika banyak nama yang dihadiahkan Mbah Nun kepada anak-cucunya, sarat akan makna. Selain bermuatan doa, terdapat unsur keindahan di sana. Indah didengar, enak diucapkan. Bahkan setiap menjelang tidur malam, saya rengeng-rengeng melagukan (serupa puji-pujian) nama anak saya (Kumudani Yassarallah) untuk mengantarnya bisa segera terlelap istirahat di malam hari.

Gemolong, 7-7-2020

Buku dan Merchandise