Kebon (13)

Nafsu Brutal dan Cacat Otak

Dok. Progress

Nevi Budianto, remaja aktivis kegiatan kampung Dipowinatan sejak era pertengan 1970-an adalah “A Man of Rhytm”. Ia sebuah karakter yang dirancang oleh Tuhan penciptanya sedemikian rupa. Ia seorang penikmat irama hidup dan musik. Hatinya selalu berdansa, badan kaki tangannya selalu berjoget. Maka olah pikirnya juga selalu merambah berbagai ruangan dan kemungkinan. 

Maka aktualisasinya adalah ia menjadi pemuda eksplorator, seniman inovatif. Nevi adalah seorang “Mujaddid” (pembaharu) dan “Mujtahid” (Eksplorator). Dengan tenaga batin dan fisik yang juga melebihi rata-rata pemuda. Jangan tidak mengawasi apa saja yang dipegang oleh tangannya. Alat pegangan tangan di mobil selalu jebol kalau Nevi berpegangan padanya. Gugup ketinggalan latihan, ia parkir motornya dan ia tarik kuncinya sampai jebol rumah kuncinya. Ketika remaja ia menyuruh adiknya mengambil batu besar, ia rebah telentang dan adiknya ia suruh menimpakan batu itu ke dadanya. Seruling bambu yang ia sambung dengan bulatan batok kelapa tidak berbunyi seperti yang dikehendakinya: ia gigit sampai pecah dan ia banting luluh lantak. Ketinggalan berangkat ke tempat pentas karena celana dalamnya masih basah karena dicuci, karena terdesak ia tiupi celdam itu dan ia pakai dalam keadaan setengah basah sesudah menoleh ke kiri kanan khawatir ketahuan warga KiaiKanjeng lainnya.

Hatinya selalu membara dan bergolak, merangsang ide-ide pikirannya berloncatan cepat, risikonya kesabaran hatinya terdesak. Antre makan terburu-buru, sementara di hidangan prasmanan selalu disiapkan tissue untuk setiap piring. Ia lupa itu tissue sehingga langsung ia isi nasi dan sayur, sehingga kemudian ia terkenal di kelompoknya sebagai penggemar sayur tissue. Karena rasa sabarnya selalu tertindas dalam ritme perilakunya, maka tatkala transit di sebuah hotel mewah ia langsung buang air besar di kloset yang ternyata untuk kencing. Beberapa saat kemudian ia tersadar dan membuktikan ia adalah manusia amanah dan penuh tanggung jawab: ia ambil tinjanya dan ia pindahkan ke kloset yang sebelahnya. Ia kena diskualifikasi dalam sebuah Turnamen Silat karena bermain bebas dan di luar batas aturan sehingga musuhnya cidera.

Kita tidak bisa bercerita atau membayangkan bagaimana nasib istrinya di tempat tidur. Tapi maqam Nevi memang bukan di wilayah rata-rata. Demikian juga karya musiknya. Gamelan berlaras Slendro Pelog asli tapi dia tabuh menghasilkan dinamika musikal yang sama sekali melompati batas budaya Jawa. Ketika KiaiKanjeng pentas di Adelaide, Australia, banyak calon penonton tidak tergerak untuk datang karena “toh hanya gamelan Jawa”. Tetapi mereka menyesal sesudah dikasih tahu oleh yang nonton bahwa pertunjukan pakai gamelan itu sama sekali tidak berbunyi sebagaimana langgam gamelan biasanya yang dikenal oleh masyarakat luas.

Pada tahap berikutnya bahkan Nevi melabrak Batasan Slendro Pelog yang pentatonik. Sudah menjadi rumus baku akademis bidang musik dan kesimpulan mainstream dunia musik bahwa jagat nada Diatonik adalah jagat tersendiri, yang tidak bisa dikawinkan dengan Pentatonik. Jiropatmonempi tidak bisa nikah dan menjadi sakinah dengan doremifasollasido. Tetapi Nevi menjadi makcomblang perkawinan itu, dan jadilah dasar musikal Kelompok Musik KiaiKanjeng.

Sudah pasti saya tidak punya pengetahuan untuk menjelaskan hal itu secara ilmu musik. Kita butuh Arie Blothong, Azied Dewa, Sp Joko, Yoyok Aryo atau Nevi sendiri kalau mau memahami bagaimana sebenarnya revolusi musikal Dipowinatan dari Musik-Puisi Dinasti menuju KiaiKanjeng.

Tapi produk Revolusi Nevi itulah yang membuka jalan KiaiKanjeng diundang ke berbagai Negara di luar Indonesia: 6 ibukota propinsi Mesir, beberapa kota Belanda, Inggris, Jerman, Skotlandia, Italia, Maroko dan Finlandia. Juga beberapa kali Australia, atau beberapa kali juga ke tetangga dekat Malaysia. Andaikan tidak ada wabah Covid-19, KiaiKanjeng terjadwal Oktober 2020 di Amsterdam, juga di New York dan beberapa tempat lagi. Kita pernah hampir melakukan perjalanan darat dari Mesir ke Aljazair, Tunisia dan Maroko. Juga Kamboja, Vietmam, Thailand dan Myanmar. Tetapi program itu terhenti kami sahabat kami yang merancang, Burhan Muhammad, dipanggil Allah sebagai Duber RI di Pakistan dalam sebuah kecelakaan helikopter. Tapi Mas Burhan inilah yang dulu menjamu KiaiKanjeng di Canberra dan Melbourne.

Wafatnya sahabat tercinta Burhan Muhammad juga membatalkan banyak program lain di bidang kebudayaan, ilmu pengetahuan, Islam dan dunia Intelijen, yang sebelumnya sudah didraft hampir matang dengan anak saya Sabrang Mowo Damar Panuluh.

Ya sudah. Kita nikmati Nevi saja. Setiap latihan, pentas atau reriungan KiaiKanjeng, tidak bisa dibayangkan hambarnya kalau tidak ada Nevi. Kita semua sangat terhibur oleh setiap gerak-geriknya, oleh spontanitasnya, oleh setiap ucapan yang keluar dari mulutnya. Kami semua sangat memendam doa sangat mendalam, mohon agar Allah berkenan mentakdirkan Nevi berumur panjang. Karena hanya ada satu Nevi di alam semesta, tidak hanya di dunia. Semua personel Dipowinatan, Dinasti dan KiaiKanjeng, semua Jamaah Maiyah, sangat takut untuk “mendua” dengan dan dari Nevi. Kita selalu ingin menyatu dengan Nevi, cemas akan mendua.

Berdekatankah kita

Berdekatankah kita
Sedang rasa teramat jauh
Tapi berjauhankah kita
Sedang rasa begini dekat
Seperti langit dan warna biru
Seperti sepi menyeru

O, Kekasih
Kau kandung aku
Kukandung Engkau

Seperti mengandung mimpi
Terendam di kepala
Namun sayup tak terhingga
Hanya sunyi,mengajari kita
Untuk tak mendua
Untuk tak mendua

Lainnya

Buku dan Merchandise