Musik KiaiKanjeng dalam Pengalaman Seorang Santri Sampang

Perjalanan Gamelan KiaiKanjeng saat ini telah mencapai 4.142 titik Sinau Bareng: menemani, menjawab permasalahan dan ikut serta merumuskan solusi yang dibutuhkan masyarakat Indonesia. Ada hal yang menarik perhatian saya dari proses perjalanan panjang Gamelan KiaiKanjeng sehingga sampai saat ini dapat diterima berbagai kalangan masyarakat.

Saya perdekat jarak pandang mengenai Gamelan KiaiKanjeng. Misalnya pada Sinau Bareng masyarakat Camplong kabupaten Sampang, pada tanggal 27 Agustus 2019. Pada Sinau Bareng santri, kyai, dan masyarakat Camplong itu, tersimpan sesuatu kejadian yang menurut saya salah satu ajibah Gamelan KiaiKanjeng dari sekian ajibah Allah yang dianugerahkan kepada Gamelan KiaiKanjeng yang luput dari perhatian kita.

Sebagai anak yang lahir dan besar dari hawa dan cuaca budaya Madura khususnya kabupaten Sampang, terbentuk pada diri saya sikap dan kepribadian yang autopilot mengikuti model kehidupan santri: santri yang tawadlu kepada kiyai dan habib, mengutamakan akhlak sebagai cara kita bersikap dan menilai orang lain, serta memegang teguh prinsip Islam sebagai panduan jalan hidup. Sampai pada cara memilih suatu hal sederhana pun juga terpengaruh oleh budaya santri.

Sejak kecil, saya berada pada lingkungan yang sangat selektif dalam menentukan pilihan bentuk musik. Paling jauh yang bisa kami nikmati adalah orkes gambus. Model musik Timur Tengah beserta tari zafinnya. Untuk orkes dangdut atau grup band pop jangan pernah berharap bisa kami terima sampai lubuk hati.

Sebab, menurut pemahaman saya sebelum bertemu Maiyah, model musik dangdut maupun grup band tak bisa mengantarkan saya ke cara dan sikap keberislaman saya dalam kehidupan. Sehingga bersifat sia-sia saja kehadirannya di tengah kehidupan saya, karena tak punya kadar manfaat selain suatu bentuk hiburan saja.

Menurut saya orkes gambus waktu itu bisa diterima karena di dalamnya terdapat bentuk musik yang tidak hanya euforia melainkan mengantarkan kesadaran kita mengingat nilai serta prinsip hidup dalam Islam. Mengajak melantunkan shalawat dan menyanyikan syair-syair berbahasa Madura bernuansa Islam yang mengingatkan kita tentang prinsip hidup dalam Islam.

Setelah intensitas kehadiran orkes gambus di tengah-tengah kami berkurang, tergantilah dengan lahirnya grup hadrah Shalawat, yang sampai saat ini masih digandrungi oleh masyarakat Madura pada umumnya.

Saya tertarik mentadabburi fenomena yang ada pada Gamelan KiaiKanjeng. Sederhana alasannya. Yaitu, mengapa Gamelan KiaiKanjeng pada setiap Sinau Bareng bisa diterima di tengah budaya Madura khususnya di Sampang yang sangat selektif memilih model bermusik.

Gamelan KiaiKanjeng yang notabene bisa memainkan semua bentuk musik yang ada di dunia, seperti jazz, blues, klasik jawa atau Nusantara secara umum, fussion, funk, rock, metal, rap, musik Timur Tengah, sampai Latin kok bisa diterima dan dinikmati bersama masyarakat Sampang yang berbudaya santri waktu itu.

Berdasarkan pengalaman saya sebagai jamaah Maiyah yang sering hadir di Sinau Bareng KiaiKanjeng, saya dapat menyimpulkan bahwa Gamelan KiaiKanjeng lebih mengutamakan bentuk pengayoman dan pelayanan sesuai apa yang dibutuhkan masyarakat.

KiaiKanjeng meramu komposisi musik yang ada serta dimainkan sesuai sense of ngeng yang menjadi kesepakatan naluriah musikal masing-masing personelnya demi mencapai keindahan bermusik, yang mengantarkan pendengarnya menikmati keindahannya menuju suatu nuansa tertentu hingga dapat merasakan kehadiran Tuhan.

Misalnya pada Sinau Bareng di Sampang itu, Gamelan KiaiKanjeng langsung menyentuh kesadaran dan lubuk hati semua lapisan masyarakat yang hadir, dengan mempersembahkan nomor sirr. Bernuansa kontemplatif dan mengajak semua yang hadir menuju suasana batin dekat dengan Tuhan. Sehingga kita bisa merasakan langsung kemesraan hadirnya Allah dan Kanjeng Nabi di dalam batin kita masing-masing.

Kehadiran Gamelan KiaiKanjeng juga mendekonstruksi cara berpikir masyarakat Sampang sebelumnya yang menilai musik hanya sebagai hiburan atau euforia, menjadi pemahaman baru bahwa bermusik sebenarnya juga bisa mengantarkan kita bermesraan dengan Allah dengan Kanjeng Nabi. Sehingga terasa tentram, aman, nyaman, dan betah untuk menikmati Sinau Bareng.

Pola komunikasi ini yang menurut saya penting untuk kita tadabburi bersama. Pola komunikasi yang tidak hanya menampilkan kehebatan bermusik, namun justru melalui musik kita diajak untuk menikmati keindahan, yang Allah sendiri mencintai keindahan. Sehingga, ketika yang kita utamakan dalam hidup ini adalah keindahan, maka Allah akan ikut serta menemani dan memperindah setiap pengalaman hidup kita.

Berkah keindahan yang dapat kita rasakan saat ini, misalnya: kuatnya paseduluran di antara kita, saling mengamankan, saling menyelamatkan dan terpolanya keseimbangan alam dari proses yang kita jalani selama ini, dengan cinta yang memanifestasikan keindahan. Maka ketakjuban saya kepada Gamelan KiaiKanjeng, disebabkan karena Gamelan KiaiKanjeng selalu memposisikan diri sebagai pelayanan yang mengantarkan kita menikmati dan takjub kepada keindahan Tuhan yang berasal dari getaran cinta Gamelan KiaiKanjeng dalam bermusik, sehingga dapat diterima oleh masyarakat di setiap Sinau Bareng.

Surabaya, 27 Januari 2020

Buku Cak Nun Majalah Sabana