Catatan Majelis Ilmu Nahdlatul Muhammadiyyin Memasuki Tahun Baru Hijriyah 1442 H

Muhajirin Tanpa Kaum Anshor

Gambar oleh 4144132 dari Pixabay

Bismillahirrahmaanirrahiim
Alhamdulillahi rabbil ‘alamiin

Marilah kita menghaturkan rasa syukur dan menghadirkan kesadaran bersyukur kita ke hadirat Allah subhanahu wa ta’ala yang telah menciptakan waktu, ruang, kejadian, dan makna-makna yang menyertainya. Dengan luas dan lengkapnya ciptaan Allah yang diperuntukkan untuk modal manusia dalam mengelola kehidupan di dunia dan menginvestasikan kebaikan untuk kehidupan akhirat ini kita semua menjadi memiliki ruang ikhtiar yang sangat luas dan lengkap fasilitasnya.

Ikhtiar-ikhtiar kita untuk memperbaiki kehidupan, untuk mengarahkan kehidupan agar bener dan pénér dan ikhtiar kita untuk memperindah kehidupan perlu kita lakukan dari titik minimal sampai ke titik maksimal. Kita seringkali memerlukan banyak hal untuk melakukan ikhtiar sampai ke titik maksimal itu. Termasuk di dalamnya pengetahuan kita akan sejarah, ilmu-ilmu alat yang fungsional untuk itu, peta baru masalah tempat posisi kita berdiri sekarang ini, titik orientasi tujuan ikhtiar kita, kualitas dan kuantitas energi dan stamina jasmani ruhani kita, kecepatan mobilitas dan transformasi sosial budaya ekonomi politik dan kesadaran beragama kita, kejelasan fokus-lokus-modus-situs potensi kita misalnya.

Untuk menguji kesiapan ikhtiar untuk memperbaiki kehidupan, mengarahkan kehidupan agar bener dan pénér dan ikhtiar kita untuk memperindah kehidupan kita bisa mengujinya dengan mendialogkan atau bahkan mengkonfrontasikan dengan realitas yang nyata di tengah kehidupan kita hari ini. Karena kita berada pada momentum memasuki tahun baru Hijriyah, maka marilah semua ikhtiar itu kita uji paham, kita uji pikir dan kita uji kesadaran dengan fenomena hijrah dan relasinya dengan kehidupan aktual hari ini.

Pada hari ini Hijrah sudah tidak lagi sekadar bermakna migrasi, tetapi sudah sampai pada makna transformasi. Bahkan sekarang, hijrah sudah lebih dari sekadar peristiwa historis tetapi sudah menjadi metode, metode perubahan. Hijrah juga tidak lagi menempati posisi di masa silam (sebagai the past) tetapi sudah bisa ditempatkan pada posisi masa depan (sebagai the future). Energi the past-the future dari hijrah ini secara bersama perlu terus-menerus kita kaji dan kita serap agar kita tidak mengalami disorientasi, disorientasi gerakan. Gerakan ikhtiar memperbaiki kehidupan.

Mari kita catat peristiwa hijrah dan ‘hijrah’ yang terjadi pada sejarah Indonesia, sejak tahun 1945 sampai hari ini. Dalam makna transformasi dan metode perubahan, peristiwa tanggal 17 Agustus 1945 boleh disebut sebagai hijrah politik kekuasaan. Hijrah politik kekuasaan dari penjajah Jepang menuju politik kekuasaan milik bangsa Indonesia sendiri. Kerajaan-kerajaan milik bangsa-bangsa lokal di Nusantara, kemudian juga memilih melakukan hijrah politik ke dengan bergabung dan memasuki entitas politik kebangsaan yang konkret bernama negara bangsa Indonesia. Masyarakat kerajaan-kerajaan eks-Nusantara merelakan diri dan tulus ikhlas mereduksi entitas kebangsaan menjadi entitas kesukuan (dari kesadaran bangsa menjadi suku bangsa) atau melakukan reposisi menjadi masyarakat adat, yang semua menjadi pendukung hadir dan berfungsinya negara bangsa Republik Indonesia sebagai negara hukum, negara budaya dan negara demokrasi.

Pemerintah Belanda yang gagal paham terhadap perubahan fundamental bangsa Indonesia dari bangsa terjajah menjadi bangsa merdeka yang telah memiliki negara bangsa yang demokratis memaksakan dirinya untuk menjajah Indonesia kembali. Langkah rekolonialisasi Kerajaan Belanda di Indonesia gagal total karena mendapat perlawanan yang maksimal dari kekuatan pro-kemerdekaan di Indonesia. Sejarah tidak mungkin bisa digerakkan mundur lagi, Indonesia yang sudah sampai pada posisi negara merdeka, sebagai negara yang terdekolonialisasi dari penjajah Belanda dan Jepang tidak bisa lagi dan tidak mau lagi menjadi korban rekolonialisasi Belanda. Inggris juga gagal paham mengenai hal ini dan mau-maunya diperalat Belanda untuk membantu upaya rekolonialisasi yang gagal itu. Bahkan Inggris yang sombong merasa sebagai pemenang perang dunia kedua terpaksa menelan kerugian besar, kehilangan jenderal, para perwira dan ribuan tentara serta senjata dan amunisi yang tidak terhitung jumlahnya.

Setelah Agustus 1945 Kerajaan Belanda lewat dua kali serangan agresi pun menemui jalan buntu dan terpaksa berunding daripada kehilangan muka. Waktu melakukan perlawanan terhadap serdadu Belanda pasca agresi pertama, Divisi Siliwangi menempuh langkah taktis berupa manuver hijrah dari Jawa Barat ke Jawa Tengah dan Yogyakarta. Hijrahnya Siliwangi ke timur merupakan berkah tersendiri bagi Republik Indonesia. Ketika pada bulan September 1948 PKI melakukan gerakan separatis komunis yang berkiblat ke Uni Soviet, melakukan pemberontakan bersenjata untuk menumbangkan pemerintahan RI dan mengganti dasar negara Pancasila dengan komunisme, maka Divisi Siliwangi bersama divisi lain merupakan salah satu satuan tempur defensif negara RI yang dengan cepat digerakkan untuk menumpas dan melumpuhkan pasukan komunis dan melakukan upaya maksimal terhadap tokoh pemberontak yang berhasil ditangkap dalam pelarian mereka.

Hijrah pasukan Siliwangi menjadi bermakna. Mengapa? Karena hijrahnya pasukan Siliwangi ke Jawa Tengah dan Yogyakarta kemudian ke Jawa Timur, ibarat kaum Muhajirin mendapat dukungan kaum Anshor yaitu rakyat setempat. Dalam perspektif lain, pasukan Siliwangi juga bisa masuk ke dalam kategori dan kualitas kaum Anshor bagi pemerintah Republik Indonesia yang tengah melakukan hijrah (melakukan hijrah dengan memindah ibukota RI) di kota Yogyakarta. Pemerintah Republik Indonesia yang menjadi kaum Muhajirin di Yogyakarta, ikhtiar hijarhnya relatif berhasil karena didukung kaum Anshor yaitu Kasultanan Yogyakarta bersama aparat pendukungnya. Kaum Anshor yang lain yang mendukung Muhajirin Republik ini adalah ormas Islam, masyarakat umum dan komponen pasukan dan laskar yang berada di Yogyakarta. Termasuk divisi Siliwangi itu.

Akan tetapi ketika pasca Pemilu 1955, Soekarno menjadi lebih dekat dan mendekat ke kekuatan komunis, ada tokoh di Jawa dan tokoh lain di daerah luar Jawa yang melakukan koreksi dengan melakukan hijrah politik bernada keras yang kemudian oleh pemerintah resmi diberi status sebagai gerakan separatis atau pemberontakan di Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Barat, Aceh, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, juga di Maluku Selatan. Gerakan-gerakan ini berhasil dipatahkan oleh pemerintah pusat. Dengan demikian menjadi gerakan hijrah politik yang tidak berhasil.

Setelah itu, dengan menggunakan parameter, indikator dan perspektif di awal tulisan ini, kita menyaksikan aneka macam gerakan hijrah di negeri ini selama 75 tahun merdeka. Setelah tahun 1965 kekuatan komunis gagal ketika melakukan pemberontakan yang kedua, kita menyaksikan negara melakukan hijrah politik dari status politik Orde Lama memasuki status politik Orde Baru. Tahun 1998 negara melakukan hijrah politik dari status Orde Baru menjadi Orde Reformasi yang semboyan utamanya adalah anti korupsi, anti kolusi dan anti nepotisme. Dan selama rezim Orde Baru dan Rezim Orde Reformasi memerintah kita juga menyaksikan upaya hijrah budaya, hijrah ekonomi, hijrah pemikiran dan hijrah politik sektoral dan politik individual. Hijrah pemikiran Islam dipelopori oleh Nurcholish Madjid yang dilanjutkan oleh Jaringan Islam Liberal dan Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah. Hijrah pemikiran Islam ini memunculkan kaum Anshor yang tidak penuh. Energi hijrah pemikiran Islam ini kemudian terserap oleh dinamika sosial dan politik sehingga kemudian pengaruhnya tidak terlalu kuat lagi sekarang.

Hijrah budaya ini ditandai dengan mulainya era busana Muslimah di Indonesia dengan adanya popularisasi jilbab di semua lini kehidupan. Gerakan hijrah busana Muslimah ini dipicu dan semacam diledakkan secara budaya oleh pentas drama musical dan puitis berjudul Lautan Jilbab yang naskahnya ditulis oleh Emha Ainun Nadjib pentasnya disutradarai oleh Agung Waskito. Hijrah seni musik dari kasidha lama ke kasidah baru dilakukan Nasida Ria, Bimbo dan Hadad Alwi. Hijrah musik juga ditampilkan oleh Kiai Kanjeng yang menyerap semua gejala musik universal dan lokal menjadi ungkapan musikal baru yang sesuai dengan kebutuhan baru. Ki Narto Sabdo juga melakukan gerakan hijrah musik Jawa, menghijrahkan gending dan lagu dolanan Jawa yang macet berpuluh tahun memasuki zaman gending dan lagu dolanan baru yang lebih segar. Manthous pun menghijrahkan musik langgam Jawa dan keroncong yang lama stagnan setelah zaman keemasan Waljinah dengan memasuki lokasi hijrah baru bernama campursari yang polanya kemudian mewabah ke musik etnik di seluruh Indonesia sehingga kita bisa mengenal musik ‘campursari’ Minang, Batak, Bugis dan lainnya.. Hijrah senirupa muncul dalam bentuk karya kaligrafi senirupa dan tokohnya AD Pirous, Ahmad Dadali, Syaiful Adnan menghijrahkan seni kaligrafi yang stagnan berabad-abad memasuki lokasi hijrah senirupa yang lebih luas dan menjanjikan secara kreativitas. Hijrah sastra atau hijrah literasi dipelopori oleh kelompok Lingkar Pena yang kemudian bertransformasi menjadi hijrah film seperti yang tampak pada fenomena Ayat-ayat Cinta sampai 99 Cahaya di Langit Eropa misalnya. Pernah muncul hijrah ekonomi yang dipelopori oleh kelompok MLM Ahad-net. Lalu ada fenomena hijrah pendidikan Islam dipelopori oleh pendiri sekolah Islam Terpadu. Lalu terakhir muncul gerakan hijrah ekonomi, budaya, pemahaman agama yang produktif seperti tampak pada komunitas Muslim United.

Kalau dicermati, dari aneka macam gerakan hijrah ini ada yang relatif berhasil, ada yang kurang efektif, dan ada yang tidak berhasil. Salah satu faktor penentu berhasil tidaknya gerakan hijrah ini, kalau kita menyimak hijrah di zaman Rasulullah Saw, ada kesiapan membentuk calon kelompok Anshor0, atau kelompok yang akan menerima dan menampung serta mendukung sepenuhnya kaum Muhajirin. Kalau hijrah adalah momentum lahir atau terbentuknya kaum Muhajirin, maka momentum ini perlu dipersiapkan dengan membangun jaringan calon kaum Anshor ini. Gagal menyiapkan atau mendefinisikan jaringan kaum Anshor akan berimplikasi pada gagalnya gerakan hijrah betapapun canggih dan kuatnya persiapan hijrah itu. Kaum Anshor adalah pasangan yang fungsional dan kompatibel bagi hadir dan suksesnya kaum Muhajirin. Kaum Muhajirin modern atau Neo-Muhajirin tanpa dibantu kaum Neo-Anshor sepertinya akan menghadapi masalah berat yang dapat menggagalkan upaya hijrahnya. Mungkin ini fenomena ini dapat dikaji lebih mendalam di masa yang akan datang. Misalnya dengan membayangkan kalau diri kita sebenarnya diharapkan bersedia menjadi kaum Anshor atau neo-Anshor tetapi kita menolaknya. Sangat mungkin karena kita tidak mengenal kelompok Neo-Muahajirin ini dan berprasangka mereka mengada-ada maka mereka justru tidak kita sambut dengan gembira. Atau mungkin karena kita merasa sebagai kaum mapan dan nyaman merasa terancam oleh kehadiran mereka. Atau kita tersinggung karena mereka tidak mau mengenalkan diri sebaik-baiknya, rendah hati, dan mau berkomunikasi dengan santun, maka mereka memang pantas diabaikan dan dianggap tidak ada. Ya semua itu memang bisa saja terjadi dan mungkin terjadi. Karena kita sama-sama tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi maka kita pun juga tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan terhadap kaum Muhajarini atau Neo-Muhajirian ini.

Nahdlatul Muhammadiyyin kemudian mencatat ada hal yang berbeda dengan lahir dan berkembangnya masyarakat atau komunitas Maiyah. Mengapa Maiyah relatif bisa bertahan puluhan tahun? Karena kalau dipahami dengan perspektif sebagai hijrah budaya dan hijrah sosial keagamaan maka kaum Muhajirin Maiyah ini telah bertemu dan menemukan kaum Anshornya. Dan uniknya, ini tidak terjadi di manapun dan di kelompok manapun kecuali di masyarakat Maiyah, kaum muhajirin Maiyah melahirkan kaum Anshor yang berasal dari dalam dirinya sendiri. Dengan pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala dan dengan kehendak serta rahmat Allah subhanahu wa ta’ala, kaum muhajirin Maiyah dan kaum anshor Maiyah bisa berpadu di dalam dirinya sendiri.

Nahdlatul Muhammadiyyin memang mencatat, pada hari ini Hijrah sudah tidak lagi sekadar bermakna migrasi, tetapi sudah sampai pada makna transformasi. Bahkan sekarang, hijrah sudah lebih dari sekadar peristiwa historis tetapi sudah menjadi metode, metode perubahan. Hijrah juga tidak lagi menempati posisi di masa silam (sebagai the past) tetapi sudah bisa ditempatkan pada posisi masa depan (sebagai the future). Energi the past-the future dari hijrah ini secara bersama perlu terus-menerus kita kaji dan kita serap agar kita tidak mengalami disorientasi, disorientasi gerakan. Gerakan ikhtiar memperbaiki kehidupan. Gerakan yang selama ini dilakukan oleh Keluarga Besar Maiyah Indonesia dan dunia.

Demikianlah catatan Nahdlatul Muhammadiyah dalam upaya membangun kesadaran baru dalam memasuki momentum Tahun Baru Hijriyah 1442 H ini. Semoga gerak kaum Muhajirin dan gerak kaum Anshor dalam diri Keluarga Besar Maiyah Indonesia senantiasa mendapat ridla dari Allah subhanahu wa ta’ala dan berhasil mencapai maksud-maksud mulia yang dicita-citakannya. Aamin.

Hasbunallaha wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’man nashiir
Nashrun minallahi wa tafhun qoriib
Wabasysyiril mu’minin, inna fatahna fathan mubiina
Walhamdulillahi rabbil ‘alamiin

Yogyakarta, 21 Agustus 2020
Majelis Ilmu Nahdlatul Muhammadiyyin

Ketua
KH Marzuqi Kurdi – Mustofa W Hasyim
Tim Pengkaji dan Pengembangan Muamalah Nahdlatul Muhammadiyyin

Buku dan Merchandise