Mukaddimah Ma’syhar Mahamanikam Edisi 14

Mitologi Pawang

Ilmu dan Teknologi adalah dua hal yang saling mendukung satu sama lain. Seperti kata pepatah ‘semakin berisi padi semakin menunduk’. Dari pepatah tersebut, apabila padi dimisalkan adalah manusia, isi adalah ilmu dan menunduk adalah teknologi (tentu hal ini dengan tidak menyempitkan makna teknologi itu sendiri).

Jauh sebelum perkembangan peradaban melahirkan universitas dengan penghasilan gelarnya (dari diploma hingga profesor doktor) Nusantara telah mengenal para ahli ilmu dengan sebutan “pawang”. Pawang inilah penghulu ilmu dan teknologi. Menyatukan dan senantiasa manjaga ketentuan ‘semakin berisi padi semakin menunduk’.

Misalkan dahulu sudah ada gelar akademis tentulah pawang hujan tidak disebut pawang, mungkin akan disebut Profesor di bidang cuaca. Tapi itu bukanlah masalah karena itu hanya masalah penyebutan. Lain hal jika yang terjadi pada perbedaan penyebutan akhirnya juga membedakan sikap dan prilaku antara pawang dan profesor sekarang. Seorang dengan gelar pawang tidak lantas membuat jarak dengan yang bukan pawang, karena pawang tidak menjadi strata sosial.

Pawang sekarang pun tak lepas dari penyempitan makna berkat pendorongan opini tentang pawang yang akhirnya bermuara hanya ke pekerjaan yang mengatur prilaku hewan buas. Maka perlu sebuah mitologi tentang pawang sehingga bisa melebarkan kembali pemaknaan pawang, pun dengan teknologi semestinya tidak hanya yang masuk dalam kategori elektronik yang bisa disebut teknologi.

Majelis Masyarakat Maiyah edisi-14, Sinau Bareng Komunitas Cangkru’ Ilmiah (KCI) dan BenAE mengajak bersama menuju pentingnya penelitian dan pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). Pengembangan dan penelitian yang tak perlu pembatasan perlu di apresiasi terlepas dari jalur mana pengembangan dan penelitian itu sendiri dilakukan. Misal seorang yang ahli urat tanpa pendidikan akademis akan disebut pawang urat, lain hal dengan orang yang menempuh jalur akademis dengan keahlian yang sama akan disebut Dokter Spesialis. Keduanya memang mendapat apresiasi namun tak sebanding. Ironis memang sesama ahli namun dikelaskan. Ketidaksebandingan ini yang akhirnya menciptakan opini bahwa penelitian dan pengembangan IPTEK hanya bisa ditempuh melalui jalur akademis tidak bisa melalui jalur kehidupan.

Teruslah meneliti teruslah mengembangkan ilmu dan teknologi. Ilmu ‘keturunan’ jangan sampai hilang dimakan zaman. Jangan risau akan penilaiaan agar apa yang dihasilkan bisa tepat guna dan sasaran. Setiap proses akan menghasilkan, namun jangan lupa yang utama adalah proses di mata Tuhan. Proses kehidupan melahirkan pawang dan proses akdemis melahirkan pangkat kepakaran. Segera kembali menuju kesadaran keutamaan adalah terus berproses betapa pentingnya penelitian dan pengembangan IPTEK.

Lockdown 309 Tahun