Mereplikasi Akhlaq Tuhan

Salah satu “jargon” atau pedoman hidup paling mendasar dalam tata laku Islam adalah “takhallaqu biakhlaqillah”. Berperilakulah seperti perilaku Tuhan. Berlakulah. Bermorallah. Berkeseimbanganlah. Beradillah. Berproporsionallah. Dan jutaan proyeksi lainnya.

Hal itu di Maiyah sudah menjadi mainstream berpikir. Sengaja atau tak sengaja Ummat Maiyah berembug mempertimbangkan perilaku hidupnya mengacu pada moral Tuhan. Artinya tema ini bisa mengandung pembidangan dan pemetaan dengan wilayah yang sangat luas.

Kalau pakai pemahaman yang paling awam, misalnya “Innallaha ‘ala kulli syai`in Qadir”, sesungguhnya Allah berkuasa (untuk mengambil keputusan apa saja) atas segala sesuatu. Bahasa awamnya: Tuhan berada pada kondisi dan posisi untuk “berdaulat melakukan apa saja”.

Pasti pasal ini tidak bisa ditiru, ditaqlidi, atau direplikasi oleh manusia begitu saja, karena kondisi dan posisi manusia sama sekali berbeda dengan Tuhan. Allah Al-Mutakabbir, Maha Takabur, karena kondisi dan posisi-Nya. Manusia mustahil bertakabur, karena kondisi dan posisinya tidak memungkinkannya, kecuali ia menghancurkan dirinya.

Maka di Maiyah sejak lama memastikan bahwa wadah utama akhlaq manusia adalah sikap tawadldlu’. Sikap rendah hati kepada sesama makhluk dan sikap sujud kepada Allah.

Kalau Allah bersifat ‘Alimul ghaibi was-syahadah, maka sikap tawadldlu’ manusia menterjemahkan untuk dirinya menjadi Muta’allimul ghaibi was-syahadah. Allah Maha Mengetahui, kalau manusia mempelajari. Maka firman paling akar adalah Iqra`.

Buku dan Merchandise