Merdeka Sebagai Kata Kerja

Photo by Ahmad Syahrir from Pexels

Bismillahirrahmanirrahim

Bulan Agustus ini bangsa Indonesia memperingati Hari Kemerdekaan yang ke 75, dan Majelis Ilmu Nahdlatul Muhammadiyyin memperingati Milad ke-9. Kita semua patut bersyukur karena bisa menyaksikan begitu banyak karunia Allah SWT yang diberikan kepada bangsa Indonesia selama 75 tahun, setelah secara resmi menyatakan merdeka dari penjajahan bangsa lain. Kita juga bersyukur karena selama 9 tahun telah bisa merasakan nikmatnya berpikir merdeka bersama Majelis Ilmu Nahdlatul Muhammadiyyin.

Untuk ini kita ingin memajukan cara berpikir kita dengan memasuki cara berpikir kritis. Misalnya, kalau selama ini banyak yang berpikir bahwa merdeka adalah kata benda, bahkan ada yang membayangkan mirip gelas keramat yang bisa diisi dengan air kepentingan maka Nahdlatul Muhammadiyyin memandang dan menyadari bahwa merdeka itu sesungguhnya kata kerja.

Merdeka berarti terus-menerus melakukan tindakan memerdekakan diri. Proses memerdekakan diri ini tidak dibatasi waktu dan sektor atau ruang karena upaya untuk menjajah dan menjajah kembali bangsa Indonesia juga tidak dibatasi oleh waktu, sektor, dan ruang. Ini merupakan level tertinggi dari merdeka, merdeka pada level substansi dan hakkat fungsi merdeka itu sendiri. Jika kita sebagai bangsa konsisten dan setia menekuni kerja-kerja merdeka ini maka segala bentuk penjajahan dan penindasan di muka bumi dapat dilenyapkan, sebagaimana termaktub dalam amanat Pembukaan UUD 1945.

Nahdlatul Muhammadiyyin menyadari bahwa menuju masyarakat kesadaran yang memandang dan menghayati merdeka sebagai kata kerja ini tidak mudah. Level tertinggi dari substansi dan hakikat fungsi merdeka masih jauh dari jangkauan, masih perlu kita dekati lewat jalur sejarah yang mendaki. Untuk mencapai level tertinggi ini jelas memerlukan perjuangan bersama sebagai bangsa, bangsa Indonesia. Dan hadirnya pandemi Coronavirus sekarang ini justru membuka peluang bagi kita untuk melakukan itu. Dalam bahasa sederhana dan kontekstual, upaya memerdekakan diri tahun ini, di tahun ke 75 kemerdekaan ini perlu diberi makna sebagai tindakan untuk memerdekakan diri dari penjajahan virus COVID-19 dengan segala instrumen penjajahan ekonomi, kesehatan, politik, budaya yang melingkupi. Memang diperlukan upaya instrumental untuk mewujudkan itu, misalnya berupa kerja dan tindakan mengokohkan ekosistem kesehatan, ekosistem ekonomi, ekosistem politik dan ekosistem budaya kita sendiri yang mandiri dan berdaulat penuh.

Nahdlatul Muhammadiyyin memandang dan menyadari bahwa senantiasa memfungsikan merdeka sebagai kata kerja berupa tindakan-tindakan untuk memerdekakan diri dari berbagai bentuk penjajahan, untuk menuju kualitas merdeka yang sejati yang diproses secara bersama oleh keluarga besar bangsa Indonesia merupakan hal yang amat sangat strategis untuk hari ini dan untuk masa depan. Menurut pandangan dan kesadaran Nahdlatul Muhammadiyyin, upaya yang amat sangat strategis ini bisa menghindarkan kita dari tindakan yang hanya bersifat artifisial dan ornamentalik ketika memperingati hari kemerdekaan. Secara internal, dalam mensyukuri Milad ke-9, Nahdlatul Muhammadiyyin hendaknya melakukan hal yang sama. Dengan memahami dan menyadari bahwa ada muatan maksud tersembunyi dari kata Milad. Dalam konteks ini milad bukan sekedar hari lahir, tetapi hendaknya disadari dan dipahami untuk senantiasa melahirkan diri sendiri. Melahirkan ide-ide baru, melahirkan pemikiran baru, melahirkan tindakan strategis baru, dan melahirkan alternatif bagi tindakan srawung-tepung-tetulung-adiluhung bagi keselamatan manusia, bangsa, masyarakat dan umat sehingga kesejahteraan bersama menjadi bermakna dan nyata.

Semoga Allah SWT senantiasa meridlai perjuangan kemanusiaan kita.
Hasbunallaha wa ni’mal wakiil ni’mal maula wa ni’man nashir.
Nasrun minallahi wa fathun qoriib.

KH. Marzuki Kurdi
Mustofa W. Hasyim
(Ketua Majelis Ilmu Nahdlatul Muhammadiyyin) 

Buku dan Merchandise