Menyaksikan Kehidupan Shalawat Bunda Cammana

Pertemuan saya dengan Bunda Cammana terjadi pada sekitar pertengahan November 2019 pada Acara Rihlah Mandar. Acara itu diinisasi oleh Koordinator Simpul setelah mendapat dawuh Mbah Nun yang menganjurkan kepada penggiat simpul Maiyah supaya bersilaturahmi dengan teman-teman di Mandar. Setelah mendengar dawuh Mbah Nun, Koordinator Simpul langsung mengkoordinasi semua simpul supaya mengirimkan perwakilannya.

Kami bertiga: Yasin, Sita dan saya, bersyukur karena diutus mewakili Bangbang Wetan untuk bersilaturahmi kepada saudara tua, Papperandang Ate, Mandar. Acara silaturahmi tersebut merupakan momentum bersejarah bagi saya, karena melahirkan pengalaman — yang sampai saat ini belum tuntas untuk dimaknai. Misalnya perjalanan ke Mandar itu adalah pengalaman pertama kali saya naik pesawat, dan bepergian jauh melampaui beberapa pulau. Kami bergabung dengan 13 penggiat Simpul Maiyah lainnya yang turut serta dalam Rihlah Mandar saat itu.

Banyak hal yang kami dapatkan dari Mandar, dari cerita kisah pertemuan saudara-saudara Mandar dengan Mbah Nun, tentang ketekunan, kesederhanaan, kreativitas, kepedulian besar Mbah Nun kepada “orang kecil”, sehingga Mbah Nun mendapat tempat spesial di hati saudara-saudara Mandar. Menurut Bang Tamalele, kehadiran Mbah Nun seperti angin segar yang membawa hawa perubahan bagi pemuda-pemuda yang saat itu memiliki kebiasaan suka “minum” dan meresahkan masyarakat. Kehadiran Mbah Nun membantu mereka bermetamorfosis menjadi pemuda yang bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya. Mereka kemudian tergabung dalam Komunitas Teater Flamboyant.

Puncak pengalaman yang kami rasakan Ketika berada di Mandar adalah saat kami sowan ke rumah Bunda Cammana, rumah kekasih Allah yang selalu membumikan shalawat. Rumah Bunda Cammama terletak di Limboro. Tidak begitu jauh dari Tinambung.

Ketika kami sampai depan gang rumah Bunda Cammana, kami disambut dengan iring-iringan shalawat dan tabuhan rebana dari adik-adik kecil binaan Bunda Cammana yang enerjik bershawalat dan totalitas dalam menabuh rebana. Sesampai di depan rumah Bunda Cammana, kami disambut dengan lantunan syair penyambutan layaknya menyambut tamu istimewa, disertai tangis kebahagiaan dari Bunda Cammana. Terasa kebahagiaan Bunda Cammana tampak dari ungkapan rasa cintanya kepada Rasulullah yang mendalam. Bunda Cammana selalu merasa bahagia kepada setiap tamu yang datang ke rumahnya.

Ketika sudah dipersilakan masuk ke dalam rumah Bunda Cammana, kami diajak bershalawat, menyambungkan roso rindu dan mengukuhkan cinta kami kepada Rasulullah.

Terasa bahwa shalawat sudah tak bisa dipisahkan dari kehidupan Bunda Camnana. Sehingga Ketika Bunda Cammana bershalawat, maka yang bergetar dari melalui suara Amma’ adalah kehidupan shalawat Bunda Cammana. Sehingga siapa pun yang mendengarkan shalawat Bunda Cammana akan tergedor kekakuan hatinya, menjadi tenteram, ayem, dan menangis karena menyadari kerinduan yang sama dan merasa dibukakan ruang rasanya untuk merasakan kehadiran Kanjeng Nabi.

Saat itu, saya duduk di sudut ruangan dengan menunduk meresapi shalawat dari Bunda Cammana, menahan sebisa-bisanya air mata, yang pada akhirnya tak terbendung mengaliri pipi. Air mata itu menjadi saksi bahwa Bunda Cammana memang kekasih Allah. Yang setiap suara shalawat dan tangisnya adalah permohonan syafaat kepada Rasulullah supaya berkenan menurunkan hidayah bagi kita.

Dari sekian kesan pancaran dari kemuliaan hidup Bunda Cammana, saya menyaksikan bahwa beliau tetap berpijak sebagaimana manusia biasa. Terpancar dari diri Bunda sikap seorang nenek yang berusaha mengayomi cucu-cucunya. Pada sesi foto rombongan kami dengan Bunda Cammana, beliau dengan gembira mau duduk di tengah-tengah kami untuk foto bersama. Setelah proses foto bersama selesai, Bunda njawil kaki saya seraya menyodorkan tangannya setelah melihat saya malu-malu untuk menyalami beliau. Ketika tangan beliau disodorkan, saya langsung meraih tangan Bunda dan mencium punggung tangannya. Bunda Cammana membalas dengan senyuman.

Bunda Cammana merupakan cahaya kemuliaan Allah yang selalu berendah hati dengan memuliakan siapa saja yang bertamu ke rumahnya, juga berusaha untuk lebih dekat kepada siapa pun yang berada di sampingnya. Sebagaimana nenek yang ingin mengayomi cucu-cucunya.

Sebelum kami berpamitan pulang, Bunda Cammana meneguhkan cinta kami dengan mengatakan, “siapa saja yang datang ke mandar, cintanya sudah tertanam di tanah Mandar, ketika pulang akan tumbuh kerinduan untuk datang kembali ke Mandar”.

Ternyata benar apa yang disampaikan Bunda Cammana. Sampai sekarang, suara shalawat beliau masih terngiang bersamaan dengan ingatan pada momen kepundut-nya beliau dan ketika mengingat tentang kisah pertemuan kami dengan Bunda Cammana waktu itu. Dalam diri tumbuh kerinduan untuk kembali ke Mandar dan bershalawat bersama Bunda Cammana.

Tapi Bunda Cammana telah didekap oleh Sang Maha Hidup. Sebab Allah sudah sangat rindu kepada Bunda Cammana, yang selama hidupnya di dunia diisi dengan shalawat dan cinta kepada Rasulullah. Maka kini sudah tiba waktunya Allah nimbali Bunda Cammana untuk bershalawat Bersama-Nya.

Surabaya, 7 September 2020

Lainnya

Pahlawan Cinta Kita Semua

Menabuh Rindu Bunda Cammana

Selamat Jalan Bunda Cammana

Surat Untuk Tanah Mandar

Mandar Di Hati, Rindu Kami Kembali

Bercermin Pada Papperandang Ate

Buku dan Merchandise