Mensyukuri Anugerah Kejernihan dan Kerendahan Hati

Image by JuiMagicman from Pixabay

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S. Al-Hasyr: 18)

Karena hidup terus bergerak, bergetar dan mengalir, mustahil kita menghentikan laju kereta waktu. Orang menyebut batas cakrawala waktu sebagai masa depan.

Yang telah lewat, sedetik yang lalu, menjadi masa silam. Yang berada dalam “genggaman” kesadaran adalah masa kini, yang sedetik kemudian dan sedetik sesudahnya, segera memasa depan sekaligus memasa silam. Sedemikian penting menatap masa depan sehingga abai terhadap masa lalu dan masa kini adalah kerugian.

Lantas bagaimana cara kita memasang kuda-kuda agar seimbang meniti jembatan waktu? Surat Al-Hasyr 18 memandu kita. Alurnya adalah beriman, bertakwa, memperhatikan apa yang telah diperbuat untuk hari esok (akhirat), dan tetap berada di jalur takwa.

Kendati ayat tersebut ditujukan kepada orang yang beriman, ini bukan soal keyakinan dan optimisme semata. Yang perlu ditakar selanjutnya adalah tingkat takwa kepada Allah Swt, lalu memperhatikan apa yang telah kita kerjakan untuk hari esok.

Allah Tuan Rumah Hidupku

Mbah Nun memberikan panduan yang gamblang tentang perilaku takwa, yakni Allah sebagai pertimbangan utama saat mengambil keputusan. Bukan sebaliknya, Allah ditempatkan sebagai pelengkap penderita, pihak yang disekunderkan atau malah tidak dilibatkan sama sekali.

Hal itu mustahil dilakukan karena kita bukan pemilik utama saham kehidupan. Hak milik yang sejati ada pada-Nya. Kita sekadar dipinjami fasilitas untuk menjalani hidup. Pihak yang dipinjami tidak patut menggunakan fasilitas secara serampangan dan sak karepe dewe.

Jadi, persoalannya bukan bagaimana kita menggambar masa depan dengan mimpi yang indah, melainkan bagaimana menjalani detik demi detik kehidupan—sekarang, di sini—sesuai amr dan iradah-Nya.

Takwa diperlukan, baik sebagai kesadaran yang menjaga kewaspadaan dan keseimbangan, maupun sebagai upaya transformasi yang mengolah fasilitas kehidupan (rahmah) menjadi kemaslahatan dan kemanfaatan bersama (barokah).

Dekonstruksi pemaknaan takwa disampaikan Mbah Nun secara lugas. Takwa yang kerap dipahami secara tekstual, yakni menjalani perintah serta meninggalkan larangan-Nya, diformulasikan menjadi frasa kesadaran kontekstual yang membudaya dan manusiawi: Allah sebagai tuan rumah hidup kita. Formula ini merangkum akar Iman, pohon Islam dan buah Ihsan dalam laku keseharian.

Dengan perspektif pemaknaan tersebut anjuran ittaqillaaha haitsu ma kunta, bertakwalah kepada Allah di manapun kamu berada, meneteskan kesadaran lebih mendalam: Allah menjadi Tuan Rumah di manapun kamu berada.

Asing dan Terasing

Apa konsekuensi dari tetes kesadaran itu? Penghuni denyut nadi kita adalah kasih sayang (Rahman Rahim) sehingga apa yang kita kerjakan tidak didorong oleh pencapaian pribadi, ambisi kelompok, apalagi egoisme absurd yang meneriakkan benere dewe. Kita tidak hendak terjebak dalam defisit kerugian (lafii khusrin).

Ayat wal tandhur nafsun maa qaddamat lighod ditransformasi menjadi gerakan personal dan komunal untuk menjalani amr Tuhan, mengkhalifahi cakrawala kebenaran, serta mengolah rahmah menjadi barokah. Optimisme terhadap masa depan tidak bergantung pada keyakinan kelak bisa memetik hasil, seperti menjadi populer, kaya dan berkuasa. Ananiyah manusia telah mati. Kasih sayang orang beriman disuguhkan dalam konteks kehidupan nyata untuk mereguk Rahimiyyah Allah.

Aktualisasi diri yang dicahayai oleh iman lalu dikerjakan sebagai laku takwa bukan tanpa kondisi yang timbul karenanya. Kita disergap oleh situasi asing dan sepi. Mengapa? Karena kita menemukan kembali diri yang autentik dan berada pada titik yang berbeda dengan setiap individu. Cara pandang, sudut pandang, jarak pandang, resolusi pandang dan seterusnya keluar dari kelaziman yang berlaku di lingkup arus utama.

Peran dan motif ketuhanan membimbing langkah kita tiba pada wa maa fa’altuhuu ‘an amri, dan apa yang aku lakukan tidak berasal dari kemauanku sendiri. (Q.S. Al-Kahfi: 82) Peran ketuhanan yang berlangsung dalam diri (baik diri individual dan diri komunal/jamaah) melemparkannya dari bising kerumunan lingkungan.

Pada konteks ini jelas bagi kita mengapa pelaku Maiyah merasa asing dan terasing di tengah silang sengkarut diskursus dan dialektika yang berlangsung di sekitarnya. “Inilah saat perpisahan antara aku dengan engkau.” (Q.S. Al-Kahfi: 78) Pejalan Maiyah tegak, merdeka dan berdaulat.

Kendati memiliki ordinat diri yang berbeda dengan individu lain akibat proses membaca diri yang dicahayai iman, kita juga menemukan ordinat titik temu dengan semua individu saat mengkhalifahi alam dan lingkungan melalui laku takwa. Kita tegak sebagai diri; kita juga mengayomi, memangku, merangkul, menampung semua yang berbeda.

Dalam dimensi yang lebih luas, Maiyah berbeda dengan organisasi, ormas, parpol atau lembaga formal sejarah lainnya. Namun, Maiyah juga menemukan titik temu dengan semua jenis perkumpulan manusia. Maiyah bukan organisasi tapi hidup sebagai organisme; bukan partai politik tapi membangun kesadaran politik; bukan jamaah tarekat tapi menjalani laku tarekat; bukan lembaga pendidikan tapi tidak berhenti mencerdaskan, mendidik, mencerahkan. Mosok ini bukan anugerah yang tidak menerbitkan optimisme masa depan?

Optimisme memandang masa depan, dengan demikian, bukan optimisme yang diada-adakan, melainkan anugerah dari Allah yang menetes melalui kejernihan dan kerendahan hati.

Lainnya