Menjaga Napas SangaJi Maneges Qudroh

“Memasuki angka sembilan, menaiki tangga usia makin sepuh. Angka ini dianggap penting bagi tiap ranah kebudayaan” — Sabrang Mowo Damar Panuluh

Malam itu Mas Sabrang mengenakan kopiah warna hitam. Biasanya memakai peci khas Maiyah berwarna merah-putih. Tampilan baru untuk acara teristimewa. Pada tarikh 5 Februari 2011, sembilan tahun silam, Simpul Maiyah Maneges Qudroh lahir. Rebo Legi petang, di halaman Yasaum, Gendingan, Borobudur, Magelang, perayaan milad digelar.

Bertemakan SangaJi, berakronim Sanga Nyawiji, Maneges Qudroh berada di puncak usia genap sembilan. Angka itu diberi makna agar makin menyatu dalam lanskap paseduluran tanpa tepi. Mas Sabrang mengawali dengan penjelasan kedudukan angka. “Kenapa angka itu ada di mana-mana, sering kita perbincangkan, khususnya dalam dunia matematika?” tanyanya kepada jamaah.

Menurutnya, angka sembilan paling gampang dikalikan. “Dari angka 0 sampai 100,” lanjutnya, “angka 9 ada berapa jumlahnya? Jumlahnya ada 20!” Sebelum itu audiens diajak berinteraksi, diuji keterampilan berhitungnya, beragam jawaban mengucur penuh antusias. Kebanyakan jamaah melupakan deret angka 90, 91, 92, dan seterusnya sampai 99.

Angka 9 merupakan gerbang untuk menuju level berikutnya. “Ke depan akan masuk dua digit. Semoga menjadi lebih dewasa, bijaksana, dan dapat lebih memberi manfaat bagi sesama,” harap Mas Sabrang kepada jamaah Maneges Qudroh.

Merespons dimensi manfaat kepada masyarakat, Mas Rizky, Koordinator Simpul, menuturkan kalau selama ini Maneges Qudroh—juga simpul Maiyah di wilayah lain—bertugas menjawab pertanyaan. Kerap Maiyah di mana pun itu, tema dialog berangkat dari kegelisahan personal maupun komunal, dengan aneka rupa konteks wilayah. Sesuai pernyataan Cak Nun, Maiyah hadir sebagai cetak biru peradaban masa depan.

“Semoga dari sini dapat merespons zaman, kondisi di dusun, dan memberi manfaat bagi masyarakat. Kita mempunyai ikatan keberagaman, tali silaturahmi yang berada di naungan Maiyah,” ujar Mas Rizky.

Mas Helmi juga hadir untuk turut mangayubagyo 9 tahun Maneges Qudroh ini. Baginya, angka sembilan itu, kalau saat sekolah dahulu, sudah menjadi titik ketercapaian nilai yang terbaik. “Kalau sepuluh kan terlalu sempurna,” kenangnya seraya berkelakar.

Harmoni Dahulu, Tenteram Kemudian

Angka di satu sisi menyiratkan kekhawatiran, kegelisahan, dan kecemasan, sedangkan di sisi lain menegaskan harapan, impian, serta optimisme lainnya.

Mas Virdhian, moderator, langsung menyahut, “Kalau dalam lagunya Mas Sabrang ada penggalan lirik, ‘kalau kau pernah takut mati, sama…’ itu menunjukkan kita sering merasa khawatir dan gelisah. Barangkali karena kita belum punya konsep nyawiji. Baik dengan Allah ataupun sesama. Bagaimana konsep nyawiji itu?” tanyanya kepada Mas Sabrang.

Konsep menyatu, khususnya dalam lingkaran komunal, perlu diperjuangkan. Menyatu berdampak ketenteraman. Namun, menurut Mas Sabrang, sebelum menuju itu, seyogianya harus stabil terlebih dahulu. Ia mewedar tiga konsep.

Pertama, hubungan atau koneksi. Poin ini menyiratkan betapa manusia mustahil hidup sendiri. Bila dimensi itu tak terpenuhi maka akan membuat manusia bingung atau tak stabil. Kedua, kepastian dalam bentuk dan kerangka apa pun. Ketiga, ketakpastian yang acap merundung psikis manusia.

“Yang dibutuhkan, dengan demikian, adalah kesimbangan antara kepastian dan ketakpastian,” tegas Mas Sabrang. Kedua poin ini berjalin-kelindan dengan konsep “kebutuhan” dan “keinginan”. Perbedaan di antaranya tipis, namun dapat disiasati lewat refleksi: saya membutuhkan atau menginginkan?

Kalau dalam agama Islam, tiap hari, papar Mas Sabrang, manusia disediakan kepastian dalam melakukan ibadah shalat. “Kita diberi landasan secara prosedural untuk melakukan ibadah tersebut,” ucapnya.

Menuju ketenteraman, manusia membutuhkan dua hal. Pertama, tumbuh.  Kedua, kontribusi. Dalam Islam disediakan pula konsep fastabiqul khairat—berlomba melakukan kebaikan. “Berbagi ilmu atau pengetahuan,” sambungnya, “ada kaitannya dengan kebahagiaan. Bukankah ilmu kalau disampaikan bukan malah berkurang, tapi justru makin bertambah?”

Kesadaran tumbuh memerlukan konsistensi. Mas Sabrang mengambil contoh seorang berkebangsaan Jepang yang selama hidupnya nenekuni Seni Origami. Bagi jamak orang, barangkali, akan memandang sebelah mata kegiatan itu, apalagi dilakukan seseorang sampai sepuh. Namun, suatu ketika, seniman melipat kertas itu dipanggil The National Aeronautics and Space Administration (NASA) ke Negeri Paman Sam.

Ia dilibatkan dalam sebuah megaproyek. Keterampilannya dibutuhkan di ranah teknologi luar angkasa. “Intinya, apa pun itu, kalau dilakukan sungguh-sungguh, maka akan bermanfaat. Maka tekuni apa yang Anda sukai dan orientasikan buat kemaslahatan bersama,” tandasnya.

Menekuni sesuatu tak membuat orang gelisah. Bagi Mas Sabrang, kegelisahan muncul karena ketaklengkapan informasi. “Ada ketidaklengkapan pengetahuan yang kita rasakan. Sementara kesedihan itu jangan ditolak, namun harus dihadapi dan dirangkul. Ketika Anda sedih, bukan berarti Anda tak bahagia. Sebelum nyawiji, karenanya, pertama-tama kita harus mengenali diri terlebih dahulu. Baru kemudian yang kedua mengintegrasi diri ke komunitas sosial,” imbuhnya.

Batas Pertumbuhan

Bertambahnya usia, bagi Maneges Qudroh, idealnya makin bertumbuh. Mas Sabrang merespons bahwa tanda tumbuh bukan berarti bertambahnya pengetahuan baru.

“Tanda-tanda itu, menurut saya, adalah makin memahami kesalahan yang telah dilakukan. Maka kesadaran istighfar begitu penting di sini. Akan menumbuhkan sejauh mana kekurangan diri yang lewat, dan punya kehendak untuk memperbaiki di kemudian lagi agar lebih baik,” paparnya.

Senada dengan itu, seorang penanya mengambil mikrofon. Ia bertanya seputar bagaimana belajar kesalahan silam untuk cita-cita lebih baik di hari depan. Mas Sabrang menjawab dengan aktivitas mencatat. Menuliskan kesalahan berikut pelajaran apa yang dapat dipetik sebelum merencanakan cita-cita.

“Apa yang kamu lakukan sekarang, tergantung tujuannya ke depan. Maka tuliskan cita-cita itu agar punya gambaran terrencana. Baru perjuangkan secara istiqamah,” jawabnya.

Cita-cita tentu saja harus bermanfaat. Bukan hanya buat diri, melainkan juga berdampak luas. Ini setarikan napas dengan kegelisahan yang dirumuskan penanya kedua. Ia mempersoalkan menjadi orang baik. Bagi Mas Sabrang, baik buruknya seseorang itu berbeda-beda. “Di Islam bukan menjadi baik-buruk, melainkan orang yang bermanfaat. Karena itu universal. Bisa berterima ke banyak orang,” tuturnya.

Apakah menjadi bermanfaat berarti sama dengan mengajarkan kebaikan? Mas Sabrang malam itu mengenalkan satu konsep lewat analogi sederhana. Analogi piring dan tampah.

“Piring itu namanya kesadaran. Tampah itu namanya pengalaman. Di kehidupan sehari-hari banyak pengalaman yang Anda tidak sadari. Informasi yang Anda terima banyak yang Anda sadari, namun belum tentu Anda alami. Anak kecil itu mendapat informasi bukan sebagai kesadaran, melainkan pengalaman. Bagaimana mengajarkan kebaikan? Melalui pengalaman. Lewat kesadaran tampah,” ucapnya.

Pada penghujung acara, sudah lewat dini hari, seorang penanya bernama Syarif, tertarik untuk mendalami kesadaran tampah. Ia mempertajam kesadaran pengalaman itu ke ranah batas kemuliaan. “Seberapa besar batasnya?”

Mas Sabrang menguraikan kedudukan kemuliaan. “Kalau batasan kemuliaan tiap orang sama, dan Tuhan itu adil, maka kesemuanya punya batasan yang sama. Kalau kemuliaan adalah kepandaian, maka kalau sejak lahir ada orang yang kurang beruntung secara akal bagaimana?” responsnya.

Baginya, tiap manusia mempunyai modal setara di hadapan Tuhan. Orang mulia, betapapun, adalah orang yang pandai menggunakan waktu untuk kebaikan sejati kepada sesama. “Semua orang itu sama: mempunyai modal waktu. Maka gunakanlah waktu sebaik-baiknya untuk kemuliaan,” pungkasnya.

Buku Lockdown 309 Tahun