Menjadi Manusia yang Bermanfaat

“Saya sebenarnya belum sehat, saya sehat-sehatkan supaya bisa ketemu kalian semua,” ungkap Mbah Nun semalam di Padhangmbulan. Ungkapan tersebut merupakan wujud cinta Mbah Nun kepada anak-cucu Maiyah. Bahwa Mbah Nun sampai detik ini masih terus semangat, rajin, dan setia bermaiyah; menemani kita para pejalan, dan pembelajar ilmu hidup.

Semalam Mbah Nun mengutarakan akan membersamai kita malam ini di Majelis Masyarakat Maiyah Bangbang Wetan yang bertempat di Lapangan UNESA (Universitas Negeri Surabaya) Kampus Ketintang. Jl. Ketintang, Kel. Ketintang, Kec. Gayungan, Surabaya.

Ungkapan cinta dari Mbah Nun tersebut semoga juga semakin menambah semangat kita untuk melingkar malam ini. Kiranya kita merasakan bahwa yang berlangsung di Maiyah bukan hierarki keilmuan antara murid dengan guru yang berlangsung linier. Sang murid hanya menunggu kucuran ilmu dari Sang Guru. Tetapi di Maiyah yang berlangsung adalah cinta (metode melingkar).

Setiap Jamaah Maiyah saling mewadahi dan meruangi untuk kapan menjadi guru dan kapan menjadi murid. Karena sebenarnya dalam hidup, kita bersedia menjadi murid sekaligus guru. Belajar ilmu penghidupan dan ilmu kehidupan.

“Mengapa Harus Mahal?” Merupakan trigger tema kita untuk Sinau tentang pendidikan. Ndilalah kersane Allah, nyambung dengan apa yang di-SinauBareng-i semalam di Padhangmbulan.

Mari kita sambut cinta Mbah Nun yang terus semangat, rajin, dan setia menemani kita malam ini dengan semangat hadir Sinau Bareng malam ini, sebagai bekal kita terus berusaha menjadi Manusia yang bermanfaat bagi diri, keluarga, dan masyarakat.

Tadi malam Mbah Nun mengatakan, “Manfaat Adam adalah menjadi Khalifah di bumi. Jadi yang dibutuhkan Allah dalam penciptaan Manusia, bukan Adamnya atau Manusianya, melainkan fungsi dan manfaatnya”.

Buku Cak Nun Majalah Sabana