Mengobati Rindu dan Menyelami Khasanah Corona

Sejak virus corona membuat morat marit keadaan Indonesia, kita jamaah Maiyah masih belum bisa bertemu, Sinau Bareng, dan bergembira secara langsung karena alasan keamanan untuk mencegah penyebaran virus Corona. Mungkin jamaah merasakan hal yang sama dengan saya: kerinduan kepada Mbah Nun dan para Marja’ Maiyah lainnya.

Demi keselamatan bersama kita membatasi diri untuk tidak berkumpul dan berkerumun. Hal ini memang “bertentangan” dengan prinsip Maiyah yang selalu bareng-bareng dalam belajar atau berbagi kegembiraan untuk mensyukuri limpahan rahmat yang diberikan Allah kepada kita semua.

Akan tetapi, kita tidak memberontak akan itu semua. Kita sadar bahwa kita masih bisa diperjumpakan di ruang rindu untuk bertemu baik dalam doa ataupun mimpi. Saya yakin para jamaah Maiyah punya olah batin yang luar biasa dalam mengatasi kerinduannya. Saling mendoakan keselamatan satu sama lain, tetap menjalin silaturahmi melalui doa-doanya.

Tulisan tulisan Mbah Nun dalam rubrik Khasanah adalah obat rindu dan mengajak kita untuk menyelam lebih dalam apa dan dari mana virus Corona. Mungkin tulisan Mbah Nun tidak begitu relevan jika dipahami dengan cara pandang luar Maiyah, dianggap terlalu meruwetkan dan tidak ada hubungannya dengan ilmu modern sama sekali untuk membantu mengatasi wabah virus Corona sekarang.

Tetapi di luar itu, tulisan-tulisan Mbah Nun begitu memberikan penyejukan akan kegelisahan kita terhadap berita-berita menakutkan di berbagai media. Berita yang membikin kita ketakutan dan tentu saja malah membuat kita semakin cemas, seolah olah Coronavirus yang menentukan hidup mati kita. Memang ada rasa takut dalam diri kita, tetapi rasa takut itu kita lawan dengan prasangka baik kepada Allah yang mendatangkan virus ini.

Kematian tidak ditentukan oleh virus yang menyerang kita, tetapi di atasnya ada Allah yang sudah menentukan kapan kita akan dipulangkan untuk kembali kepada-Nya.

Mbah Nun sudah mengajarkan kepada kita untuk berpikir dengan lingkar pandang, tidak hanya melihat segala sesuatu berdasarkan satu sudut pandang saja. Pembelajaran di Maiyah juga membuat kita menjadi manusia tangguh, waspada, dan melihat segala sesuatu pasti ada kaitannya dengan Allah.

Dalam tulisan Mbah Nun “Kita Semua Adalah Biang Penyakit”, Pakdhe Pur Sukoharjo mengatakan bahwa ia hanya bisa beristighfar. Bukan hanya beliau tetapi saya atau juga kita semua yang hanya dapat beristighfar. Dan Mbah Nun mengatakan jika “Istighfar itu yang terbaik dan paling efektif dalam konteks hubungan kita dengan Allah dengan berbagai kamungkinan ketentuan-Nya.”

Ungkapan Mbah Nun begitu membuat saya optimis jika Allah akan selalu memberikan hal yang terbaik untuk kita semua jika kita selalu bertaqwa dan tawakkal kepada-Nya.

Buku dan Merchandise