Mengkaji Dunia Pendidikan di Tengah Guyuran Hujan

Liputan Majelis Ilmu Padhangmbulan, Jombang, Kamis, 9 Januari 2020

Sedikitnya 10 orang jamaah pengajian Padhangmbulan naik ke atas panggung, Kamis (9/1/2020) malam minggu lalu. Mereka berbaris rapi secara lesehan di panggung tersebut. Di atas panggung sudah ada Mbah Nun, Cak Dil, Cak Mif, Cak Yus, Cak Nas, dan sejumlah orang lainnya.

Secara bergantian, para jamaah menyampaikan pemikirannya tentang sistem pendidikan yang ada di Indonesia. Mereka ngudo roso seputar wajah pendidikan yang semakin suram. Ada yang menyampaikan kritik, ada yang berkisah seputar pengalaman pribadi ketika mengenyam pendidikan, ada pula yang menyodorkan segudang pertanyaan tentang karut-marut pendidikan di Indonesia. Forum berlangsung cukup dinamis.

Memang, malam itu forum Padhangmbulan mengusung tema pendidikan. Sebelum Sinau Bareng bertema pendidikan dimulai, Mbah Nun menyampaikan pokok-pokok pikiran seputar pendidikan. Jamaah yang memadati lokasi menyimak penyampaian dari Mbah Nun dengan saksama. Menurut Mbah Nun, setelah Allah menciptakan Adam, hal yang pertama dilakukan adalah pendidikan. Kepada Adam, Allah mengajarkan istilah-istilah. Mbah Nun kemudian mengutip firman Allah yang berbunyi Wa ‘allama Adama al-asma’a kullaha…” dan Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama setiap hal.

“Dimensi yang bisa kita tangkap (dari ayat itu), setelah Allah mengambil keputusan menciptakan manusia, yang pertama dilakukan Allah adalah pendidikan. Yakni, Allah muruki (mengajarkan). Nah, dari muruki itu sekarang menjadi sekolah, universitas, dan sejenisnya,” ujar Mbah Nun di hadapan jamaah sembari mengajak seluruh Jamaah melakukan muroja’ah. Yakni, menimbang dan mempertanyakan kembali apa yang sudah dilakukan.

Adalah Asep yang pertama kali menyampaikan persepsinya tentang pendidikan. Jamaah asal Brebes Jawa Tengah ini mengungkapkan kegundahannya. Menurut Asep, saat ini pemilihan antara pendidikan umum dan pendidikan agama. Ketika belajar matematika, lanjutnya, seolah-olah terpisah dari Allah. Dengan kata lain, Allah hanya hadir dalam pelajaran agama. Asep juga mempertanyakan tolok ukur dan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pendidikan.

Sementara, Ratna, jamaah asal Pati Jawa Tengah, memaparkan pengalamannya ketika mengajar di PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Pada satu sisi, anak PAUD dan TK hanya belajar melakukan adaptasi dengan lingkungan di luar rumah. Mereka tidak boleh menerima materi tentang calistung (baca, tulis, hitung). Namun di sisi lain, ketika anak TK naik jenjang ke SD, mereka dituntut bisa membaca. Karena di kelas 1 SD sudah ada pelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Jawa.

Nah, dari situ ada dilema bagi guru TK. Di satu sisi mereka tidak boleh mengajarkan calistung pada anak didik, namun di sisi lain anak yang masuk SD harus bisa membaca. “Kalau anak TK diajari calistung, nanti bisa error. Tapi ketika mereka masuk SD, dituntut untuk bisa membaca. Oleh sebab itu, menurut saya ada yang salah dengan sistem pendidikan kita,” kata Ratna.

Lukman dari Ngoro Jombang mengungkapkan kegelisahan serupa. Dalam pendidikan, menurutnya, guru hanya bekerja, guru bukan lagi bertugas mengajar. Mereka hanya menunggui anak didik dan memberikan nilai. Guru memberikan PR (pekerjaan rumah) yang ujungnya justru menyusahkan orang tua. 

Ketika Hujan Menyapa

Malam terus beranjak, jarum jam menunjukkan pukul 23.00 WIB. Forum Sinau Bareng semakin dinamis. Para Jamaah bergantian naik ke panggung untuk menyampaikan persepsinya tentang pendidikan. Seiring dengan itu, hujan deras mengguyur Desa Menturo, Kecamatan Sumobito dan sekitarnya. Namun hal itu tidak membuat para jamaah surut. Jamaah yang memadati pengajian Padhangmbulan tetap bertahan dengan berbagai cara.

Ada yang bertahan sembari menutupi kepala mereka menggunakan lembaran plastik yang sebelumnya digunakan alas duduk. Ada yang merangsek ke tenda di depan panggung. Ada pula yang menepi di bawah pohon pisang. Dalam guyuran air hujan, forum yang membedah wajah pendidikan itu terus berjalan. Saat jeda, para Jamaah disuguhi nomor-nomor cantik yang dibawakan oleh Lemut Samudro. Lantunan shalawat dan lagu-lagu itu seperti menyegarkan kembali pikiran para jamaah.

Mbah Nun, Cak Dil, Cak Mif dan Cak Nas, secara bergantian merespons apa yang sudah disampaikan oleh jamaah. Mbah Nun menjelaskan, anak usia dini tidak dikenalkan dengan pembelajaran bersifat kognitif. Anak usia dini hampir tidak ada yang diajari baca, tulis dan berhitung. Mereka hanya diajak jalan-jalan untuk dikenalkan dengan laut. Anak TK hanya diajak bergaul dengan orang lain.

“Berangkat dari pemikiran yang disampaikan Mbak dari Pati, berarti belum ada regulasi pendidikan secara nasional. Sehingga menterinya sendiri tidak berpikir mengenai PAUD. Di Indonesia belum ada pendapat yang pasti tentang tahap usia-usia pendidikan. Sehingga hal itu membuat kebingungan kita,” kata Mbah Nun merespons.

Allah bertanya: “Alastu birabbikum?”

Yang menarik, di tengah upaya melakukan muroja’ah, Mbah Nun menyodorkan pertanyaan analisis. “Kalau Padhangmbulan adalah proses pendidikan, menurut Anda, apa model pendidikan di sini yang tidak dijumpai di lembaga formal, informal, atau nonformal?” tanya Mbah Nun. Diminta tiga jamaah menyampaikan jawaban.

Pambudi, jamaah asal Kediri, mengemukakan pikirannya. Cukup panjang dan detail. Ia seperti sedang menumpahkan gunungan kekesalan sekaligus kekecewaan terhadap praktik pendidikan yang dialaminya. Menurut Pambudi, Padhangmbulan adalah ruang belajar bersama yang los. Merdeka. Egaliter. Tidak ada ketakutan menyampaikan pendapat, karena forum Sinau Bareng ini tidak terjebak pada benar atau salah yang sempit. Setiap pendapat ditampung, dihargai, diapresiasi. Benar atau salah memiliki maqam-nya masing-masing, sesuai konteks yang melingkupinya.

Mbah Nun pun merespons. “Kita belajar bebas dan bebas belajar untuk mengerti batasan-batasan, bukan demi kebebasan itu sendiri,” tutur Mbah Nun. Ditekankan pula, tugas guru adalah menemani siswa agar menemukan kembali apa yang telah diberikan Allah kepada setiap manusia. Hal itu bisa ditelusuri hingga adegan dialog di alam ruh: “Alastu birabbikum? Qoluu balaa syahidnaa” (QS. Al-A’raf: 172).

Artinya, Allah telah memberikan bekal yang jangkep kepada setiap manusia sebagaimana Allah telah mengajari Nabi Adam nama-nama setiap hal.

Muatan Sinau Bareng pengajian Padhangmbulan malam itu memang padat, luas, dan dalam. Kita bisa memetik muatan-muatan tersebut sesuai kapasitas berpikir dan kesiapan rohani. Terus belajar, rajin bergaul dengan pertanyaan, dzikrullah yang diupayakan kapan dan di mana saja merupakan kunci dasar menjadi seorang pembelajar. Selalu waspada terhadap kata, istilah, jargon, maupun terminologi yang kerap salah kaprah.

Pesan tersebut disampaikan Mbah Nun supaya kita tetap tegak bermartabat di tengah arus “talbis” yang sengaja dijadikan “palu politik”. Orang tidak merasa perlu mengetahui makna sebenarnya dari radikalisme, intoleran, khilafah, khalifah, atau beda antara education dan schooling. Kata-kata bercampur aduk, berkecamuk, tumpang tindih dalam konotasi yang liar di pikiran setiap orang.

Dalam situasi seperti itu kita jadi mengerti betapa sangat berharga Majelis Masyarakat Maiyah Padhangmbulan. Di sini kita belajar, di sini kita tubuh, di sini kita merawat sikap kemanusiaan, di sini pula kita mereguk cinta Allah dan Rasulullah Muhammad. (Yusuf Wibisono/Achmad Saifullah Syahid)

Buku Lockdown 309 Tahun