Meneguhkan “La Ubali” dan Kenikmatan Hidangan dari Langit

Majelis Ilmu Padhangmbulan, Ahad, 5 Juli 2020

Foto: Hariadi (Dok. Padhangmbulan)

Teman-teman di Omah Padhangmbulan dan Jamaah Padhangmbulan selama tiga bulan berpuasa, ngempet, menahan diri, memeluk rindu, mendekap kangen. Sejak April hingga Juni pengajian Padhangmbulan jeda sejenak. Kita bertenggang rasa terhadap situasi sosial yang mengurung hampir setiap orang.

Kendati jeda sejenak aktivitas teman-teman Omah Padhangmbulan tetap berjalan. Salah satunya menata panggung Padhangmbulan. Tulisan pada backdrop panggung diperbaiki jadi semi permanen.

Hingga akhir bulan Juni belum ada kabar kapan pengajian Padhangmbulan kembali digelar. Bukan berani atau tidak berani berkumpul bersama jamaah dalam jumlah besar. Manut kepada pertimbangan, arahan dan keputusan keluarga ndalem kasepuhan adalah sikap yang utama.

Pada hari pertama bulan Juli datang kabar gembira. Pengajian Padhangmbulan silakan diadakan secara terbatas. Teman-teman Omah Padhangmbulan bergegas merapatkan barisan. Berbagai persiapan teknis dihitung dan dipersiapkan.

Yang paling mendasar atmosfer ngempet tetap menjadi komitmen bersama. Tidak menayangkan flyer di media sosial, membatasi jamaah yang hadir, merekam secara offline merupakan langkah antisipasi untuk menjaga tenggang rasa sosial.

Kita bersyukur kepada Allah Swt. Pengajian Padhangmbulan berlangsung di halaman ndalem kasepuhan pada Ahad (5/7/2020). Sekitar seratus jamaah duduk lesehan menghadap utara supaya tidak membelakangi makam sesepuh di Sentono Arum.

Saya tiba di Mentoro pukul delapan malam. Jalanan depan yang biasanya dipadati pedagang dan lalu-lalang jamaah tampak lengang. Gerbang masuk masjid ditutup. Parkir motor dan mobil diletakkan di halaman depan panggung permanen.

Dari luar tidak tampak tengah berlangsung acara di halaman ndalem kasepuhan. Sound disetting sedemikian rupa sehingga suaranya tidak melebar ke mana-mana.

Mulai pukul 19.00 jamaah nyicil tadarus Al-Qur’an. Setiap orang membaca satu juz. Dikomandani Cak Majid pembacaan Al-Qur’an 30 juz tuntas dibaca. Pembacaan tahlil dan doa untuk Syekh Nursamad Kamba berlangsung khidmat. Doa Khatmil Quran memungkasi sesi pertama pengajian Padhangmbulan.

Jamaah yang hadir kembali menata dan merapatkan posisi duduk. Mbak Yuli, Cak Majid dan Lemut Samudro mengantarkan jamaah memasuki situasi yang kian mengendap. Wirid Padhangmbulan, Hasbunallah dan Maulan Siwallah malam itu bagai hujan cahaya yang mengguyur dahaga.

Kerinduan ini pun ambrol. Suasana desa Mentoro yang hening, jamaah yang tertunduk khusyuk, wirid yang merasuk sukma, hati yang taslim pasrah, tumpah jadi air mata. Rasa syukur, haru, bahagia yang dibalut oleh getaran cinta kasih Allah, dilingkupi kerinduan kepada Kanjeng Nabi dan diikat oleh kemesraan paseduluran menjadi hidangan yang diturunkan dari langit.

Foto: Hariadi (Dok. Padhangmbulan)

Bukan kebetulan apabila malam itu jamaah Padhangmbulan juga menerima pesan dari Mbah Nun tentang wirid “La Ubali”. Redaksional yang baku adalah “In lam yakun biKa ‘alayya ghodlobun fala ubali.”

Dalam ilmu Shorof kata “Ghodlibun” disebut isim fail, kata bentukan yang menunjukkan pelaku (subjek) dari arti dasar kata tersebut. Kata ini tidak ada dalam Asmaul Husna. Artinya, bukan sifat atau pelaku marah yang ditekankan, melainkan kahanan, keadaan, suasana yang bisa membuat Allah marah.

Menjalani situasi dan keadaan apapun, bahkan terlunta-lunta, terbuang dan dikurung sunyi sekalipun, aku tidak peduli, asalkan tidak membuat Allah marah kepadaku.

Tema itulah yang menjadi roh pengajian Padhangmbulan. Cak Nas, Cak Nang, Cak Rahmad dan Lek Hamad secara bergantian berdialog dengan jamaah. Satu putaran dialog mbeber kloso telah berlangsung lalu disusul pemutaran video untuk mempelajari beberapa poin pemikiran Syekh Nursamad Kamba.

“Jamaah Maiyah memiliki tugas untuk mendaftari dan mendalami pemikiran Syekh Nursamad Kamba,” kata Cak Nang.

Dalam konteks itu perjumpaan Syekh Nursamad Kamba bersama kita rasanya sangat singkat. Pertemuan sekejapan mata itu, selain menerbitkan kenangan, juga meninggalkan jejak abadi yang harus dirawat. Jejak pemikiran, sikap hidup, nilai konsistensi, dan pilar istiqamah beliau harus kita uri-uri dalam laku keseharian.

Ilmu kelakone kanti laku. Inilah yang dipesankan Cak Nas dan Cak Rahmad. Mbah Nun adalah penjaga nilai, demikian ungkap Cak Nas. Diharapkan jamaah Maiyah melakukan internalisasi nilai yang telah disinau ke dalam perilaku sehari-hari.

Cak Rahmad turut menegaskan, “Apa yang dipelajari oleh jamaah Maiyah sesungguhnya sudah cukup lengkap, komplit dan jangkep. Tugas kita adalah menjadikan pohon ilmu itu berbuah.”

Dikaitkan dengan suasana yang jangan sampai membuat Allah marah, kita pun harus waspada. Jangan-jangan ilmu dan nilai Maiyah yang belum atau bahkan tidak kita amalkan sehingga perilaku kita justru berkebalikan dengan nilai-nilai itu menjadi penyebab Allah marah.

Kita mungkin tidak bisa memastikan hal itu. Namun, kewaspadaan muhasabah terhadap perilaku kita sendiri semoga menghindarkan kita dari kepongahan benere dhewe — sikap yang pasti membuat Allah marah kepada kita.

Foto: Hariadi (Dok. Padhangmbulan)

Sregep bertanya kepada diri sendiri: “Apakah yang saya kerjakan ini membuat Allah marah atau tidak?” semoga menolong kita saat meniti jalan takwa yang tak lain adalah sikap waspada itu sendiri.

Pengajian Padhangmbulan dipungkasi dengan Doa Tetes Kelembutan Muhammad.

Malam itu keheningan yang melingkupi desa Mentoro serta jumlah jamaah yang tidak sebanyak biasanya mengingatkan kita pada masa-masa awal Padhangmbulan digelar.

Ini bukan semata-mata romantisme yang cengeng. Rasa syukur itu menjadi getaran kelembutan yang tiba-tiba menyergap. Buat apa kata-kata kalau air mata telah mewakili yang tak terucap itu.

Buku dan Merchandise