Mencari Apa atau Siapa?

Malam minggu mungkin bagi sebagian orang asyiknya kongkow di kafe. Atau kalau cuaca gerimis seperti kemarin, lebih nikmat di rumah saja. Rebahan sembari scrolling linimasa twitter atau ngecek instastory. Berteriak keadilan di ruang maya, atau berbagi foto kebahagiaan di instagram.

Tapi tidak bagi teman-teman Jamaah Juguran Syafaat. Sedari pukul 20.00 mereka berkumpul. Di sebuah pendopo, milik pemerintah daerah, yang memang bisa dipergunakan untuk kepentingan rakyat. Malam itu, Sabtu 11 Januari 2020, hadirlah hampir sekitar 100 orang pemuda. Sinau Bareng.

Mereka hadir dari berbagai lapis masyarakat. Ada mahasiswa, pelajar, pemuda desa, karyawan, wirausaha dan lain sebagainya. Mereka berkumpul tidak menuntut apapun kepada siapapun. Yang mereka lalukan adalah belajar meneliti diri sendiri. Instropeksi. Lapisan diri mana yang masih kurang tepat dalam menjadi manusia. Keputusan hidup apa yang masih kurang jernih yang pernah diambil.

Hadir pula di depan, ada Yunan Setiawan, penggiat Gambang Syafaat, grup musik Wakijo lan sedulur, Jamaah Maiyah dari Malang Tri Wahyu, para Sesepuh, ada Pak Titut, Eyang Hadi, dan hadir pula tentunya pengawal kegiatan ini yakni teman-teman penggiat Juguran Syafaat yang setia bertarekat melalui kegiatan ini.

Mereka menemani kegiatan ini hingga akhir. Memancing diskusi. Memberikan pantikan berpikir. Mencairkan suasana. Membuat tawa bahagia. Tema-tema dari jangkrik, jurnalistik, cerita Raden Karna hingga pendidikan.

Sebenarnya mereka mencari apa, atau mencari siapa? Mengapa betah duduk diam melingkar sesekali diskusi yang durasinya hampir mencapai 6 jam. Pertanyaan-pertanyaan hidup mereka kompleks sekali, tapi keseimbangan berpikirlah yang dicari. Dan di Juguran Syafaat mereka menemukannya.

Memang tidak ada ujian penilaian usai acara, tidak ada pula jenis-jenis monitoring dan evaluasi. Tapi masak iya, rutin setiap bulan tanpa motif yang neka-neko hadir sepenuh hati di majelis semacam ini tidak mempengaruhi peningkatan sel-sel kecerdasan di dalam tubuh. Mungkin tidak selalu kentara pada kecerdasan kognitif, tapi pada kecerdasan jenis yang lain.

Setidaknya, pulang dalam keadaan gembira, tambah sedulur, tambah perspektif hidup. Dan lebih matang, itu sudah laba yang luar biasa dari proses menempuh ngalap barokah Mbah Nun.

Buku Cak Nun Majalah Sabana